Berita

Paguyuban Sendang Agung Desak Penelitian Arkeologi dan Penetapan Cagar Budaya di Sidoarjo

Redaksi
×

Paguyuban Sendang Agung Desak Penelitian Arkeologi dan Penetapan Cagar Budaya di Sidoarjo

Sebarkan artikel ini

SIDOARJO – Paguyuban Situs Sendang Agung mendorong penelitian sejarah dan arkeologi secara mendalam serta penetapan status cagar budaya terhadap situs yang berada di Kelurahan Urangagung, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Dorongan tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam kegiatan Malam Anggoro Kasih yang digelar pada Senin (19/10/2026) malam. Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian masyarakat terhadap pelestarian tradisi Jawa, lingkungan, lahan pertanian, dan peninggalan sejarah setempat.

Acara yang dimulai sekitar pukul 21.00 WIB itu dihadiri puluhan warga, tokoh masyarakat, pegiat budaya, serta awak media.

Ketua Paguyuban Situs Sendang Agung, Siswo Adi Tjahyono, ST, mengatakan kawasan tersebut menyimpan potensi sejarah yang perlu diungkap melalui penelitian ilmiah. Sejumlah temuan berupa struktur bata kuno dan indikasi arkeologis lainnya dinilai memerlukan kajian lebih lanjut untuk memastikan usia, fungsi, serta kaitannya dengan sejarah Sidoarjo.

“Kami berharap sejarah Situs Sendang Agung benar-benar bisa terungkap. Kami ingin mengetahui peninggalan ini berasal dari masa kerajaan apa, bagaimana fungsi bangunannya, dan apa kaitannya dengan sejarah Sidoarjo. Semua itu membutuhkan penelitian lebih lanjut dan dukungan berbagai pihak,” ujar Siswo.

Menurutnya, penelitian yang terarah diperlukan agar Situs Sendang Agung tidak hanya dipandang sebagai peninggalan fisik, tetapi juga dapat memberikan sumbangan pengetahuan bagi pengembangan sejarah kawasan Urangagung.

Temuan Bata Kuno Masih Membutuhkan Kajian Ilmiah

Siswo menjelaskan, upaya masyarakat mempertahankan kawasan Sendang Agung telah berlangsung sejak lama. Sekitar 20 tahun lalu, warga menghadapi kekhawatiran terhadap potensi alih fungsi lahan pertanian seluas kurang lebih 15,5 hektare menjadi kawasan permukiman.

Masyarakat berupaya mempertahankan kawasan tersebut karena dinilai penting bagi keberlangsungan pertanian dan kehidupan warga setempat.

Baca Juga:
Museum Tosan Aji Diharapkan Menjadi Ikon Edukasi dan Pelestarian Warisan Budaya Purworejo

Dalam perkembangannya, kawasan Sendang Agung juga menarik perhatian karena ditemukannya struktur bangunan berbahan bata kuno. Temuan tersebut mendorong paguyuban untuk menelusuri lebih jauh sejarah kawasan yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap.

Sejumlah pengamatan terhadap temuan arkeologis pernah dilakukan dengan melibatkan kalangan akademisi, termasuk kajian mengenai karakteristik bata dan persebaran struktur bangunan. Namun, hasil pengamatan tersebut belum cukup untuk memastikan kronologi, fungsi, dan latar belakang sejarah peninggalan itu.

Siswo menyebut keberadaan sejumlah lapisan tanah dan sebaran bata kuno berpotensi memberikan petunjuk mengenai perkembangan kawasan pada masa lalu. Meski demikian, penentuan usia dan periodisasi bangunan tetap membutuhkan pengujian serta penelitian arkeologis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia berharap penelitian tersebut dapat memperkaya penulisan sejarah Sidoarjo, khususnya mengenai perkembangan peradaban pada masa Jawa Kuno.

Paguyuban juga ingin mengetahui kemungkinan keterkaitan kawasan Sendang Agung dengan kerajaan-kerajaan yang pernah berkembang di Jawa Timur, termasuk periode yang berhubungan dengan Airlangga.

“Kami ingin ada harapan dan sesuatu yang besar dari Sidoarjo yang bisa disampaikan kepada generasi muda. Misalnya, bagaimana Sidoarjo berkaitan dengan sejarah Airlangga. Karena itu, sejarah Sendang Agung perlu diungkap melalui penelitian yang serius,” katanya.

Minta Pemerintah Percepat Perlindungan Situs

Selain mendorong penelitian, Paguyuban Situs Sendang Agung berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih serius terhadap perlindungan kawasan tersebut.

Siswo mengungkapkan, pihaknya pernah menyampaikan aspirasi kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo agar potensi peninggalan sejarah Sendang Agung ditindaklanjuti melalui kajian dan proses penetapan cagar budaya sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami pernah datang ke Dinas Pendidikan Sidoarjo untuk menyampaikan agar Situs Sendang Agung segera ditetapkan sebagai cagar budaya,” jelasnya.

Ia menilai, perlindungan hukum diperlukan untuk mencegah kerusakan maupun hilangnya benda-benda yang diduga memiliki nilai arkeologis akibat tindakan pihak yang tidak bertanggung jawab.

Baca Juga:
Museum Tosan Aji Diharapkan Menjadi Ikon Edukasi dan Pelestarian Warisan Budaya Purworejo

“Harapannya, ada perlindungan yang jelas sehingga peninggalan sejarah ini tidak dirusak atau diambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab,” ungkapnya.

Menurut Siswo, tanggung jawab pelestarian tidak dapat hanya dibebankan kepada masyarakat dan paguyuban. Diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, instansi pelestarian kebudayaan, akademisi, peneliti, dan masyarakat agar perlindungan situs berjalan secara terarah.

Ia juga berharap Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur memberikan perhatian terhadap penelitian dan kemungkinan ekskavasi lanjutan di kawasan tersebut.

Siswo menyebut masih terdapat bagian kawasan yang dinilai berpotensi menyimpan struktur bangunan kuno. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian berada di sisi selatan situs, dengan perkiraan bentang lahan sekitar 50 meter kali 20 meter berdasarkan pengamatan paguyuban.

Ia berharap dugaan tersebut dapat ditindaklanjuti melalui penelitian lapangan yang sistematis.

Siswo juga menyinggung keberadaan bangunan yang saat ini digunakan sebagai kamar mandi dan pernah menjadi salah satu persoalan dalam pembahasan pengembangan situs. Namun, menurutnya, kondisi tersebut semestinya tidak menutup peluang penelitian di bagian kawasan lain yang masih berpotensi menyimpan peninggalan arkeologis.

“Kami berharap BPK Wilayah XI dapat membantu mengungkap sumber-sumber yang ada di Situs Sendang Agung, termasuk menjelaskan situs ini berasal dari masa kerajaan apa. Temuan berupa lempengan maupun sebaran bata kuno perlu diteliti lebih lanjut agar sejarahnya semakin jelas,” tegasnya.

Ia menambahkan, dugaan mengenai fungsi bangunan, termasuk kemungkinan adanya struktur yang menyerupai petirtaan atau berkaitan dengan sumber air, masih memerlukan pembuktian melalui penelitian arkeologis.

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai kronologi, fungsi, dan hubungan Situs Sendang Agung dengan sejarah Sidoarjo berdasarkan bukti yang ditemukan di lapangan.

Untuk mendukung pengembangan penelitian, Paguyuban Situs Sendang Agung berencana menghimpun berbagai karya ilmiah dan dokumentasi yang berkaitan dengan situs tersebut.

Baca Juga:
Museum Tosan Aji Diharapkan Menjadi Ikon Edukasi dan Pelestarian Warisan Budaya Purworejo

Hasil penelitian mahasiswa, kajian akademisi, serta dokumentasi artefak diharapkan dapat dikumpulkan dalam sebuah perpustakaan yang berfungsi sebagai pusat dokumentasi dan sumber pengetahuan bagi masyarakat.

Paguyuban juga membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi, peneliti, pelajar, komunitas sejarah, dan pegiat budaya untuk memperluas kajian sekaligus memperkenalkan potensi sejarah Sendang Agung kepada masyarakat luas.

Siswo menilai, penelitian situs bersejarah di Sidoarjo perlu dilakukan secara menyeluruh agar menghasilkan narasi sejarah yang utuh dan didukung sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami ingin terus belajar dan menerima masukan dari berbagai pihak. Harapannya, Situs Sendang Agung semakin dikenal dan sejarahnya dapat dipahami berdasarkan penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, paguyuban telah berupaya menjalin komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terkait pengembangan narasi sejarah Sendang Agung. Namun, menurutnya, berbagai inisiatif untuk memperkenalkan dan mengungkap sejarah situs selama ini masih banyak dilakukan secara mandiri oleh paguyuban.

Karena itu, dukungan pemerintah dan lembaga terkait dinilai penting untuk memperkuat penelitian, pendokumentasian, serta perlindungan terhadap peninggalan sejarah tersebut.

Selain menjadi momentum untuk menyuarakan pentingnya penelitian sejarah, Malam Anggoro Kasih juga dimanfaatkan sebagai sarana mempertahankan tradisi Jawa dan mempererat kebersamaan masyarakat Urangagung.

Rangkaian kegiatan diawali dengan tradisi tumpengan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen padi. Tradisi tersebut mengandung nilai kebersamaan, gotong royong, dan kerukunan sosial yang terus dijaga masyarakat setempat.

Dalam sambutannya, Siswo menegaskan bahwa Malam Anggoro Kasih bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi untuk mengevaluasi perjalanan masyarakat, mensyukuri pencapaian, sekaligus merencanakan langkah pelestarian budaya pada masa mendatang.

“Kami terus belajar untuk bersyukur. Melalui kegiatan ini, kami mencoba merefleksikan apa yang sudah dilakukan sebelumnya sekaligus memikirkan langkah yang akan dijalankan ke depan,” tuturnya.

Baca Juga:
Museum Tosan Aji Diharapkan Menjadi Ikon Edukasi dan Pelestarian Warisan Budaya Purworejo

Ia menjelaskan, rasa syukur tidak hanya diwujudkan melalui hasil pertanian, tetapi juga melalui kepedulian terhadap lingkungan, upaya mempertahankan lahan produktif, dan tanggung jawab menjaga peninggalan leluhur.

Dalam tradisi Jawa, Malam Anggoro Kasih merujuk pada malam menjelang Selasa Kliwon dalam penanggalan Jawa. Bagi sebagian masyarakat, waktu tersebut dimaknai sebagai kesempatan untuk berdoa, melakukan introspeksi, serta mengenang dan menghormati leluhur.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan prosesi jamasan atau penyucian enam gong menggunakan air dan bunga.

Melalui kegiatan tersebut, Paguyuban Situs Sendang Agung berharap pelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dengan penelitian sejarah dan perlindungan situs, sehingga warisan budaya Urangagung tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.