Portal DIY

Jejak Sunyi dalam Ruwat Jagat: Saat Spiritualitas Menjadi Ikhtiar Merawat Semesta

Portal Indonesia
×

Jejak Sunyi dalam Ruwat Jagat: Saat Spiritualitas Menjadi Ikhtiar Merawat Semesta

Sebarkan artikel ini
Pengurus dan anggota Yayasan Taman Sesaji Nusantara foto bersama (dok)

SLEMAN  — Menjelang senja di sebuah halaman yang teduh di Omah Batik Sekar Turi, Sleman, puluhan orang datang dengan langkah tenang. Mereka bukan sekadar menghadiri sebuah pertemuan, melainkan mengikuti sebuah laku spiritual yang diyakini menjadi ikhtiar untuk merawat keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Sekitar 70 pejalan sunyi, pelaku spiritual, dan simpatisan berkumpul dalam Upacara Ruwat Jagat yang diselenggarakan Taman Sesaji Nusantara. Bagi mereka, ruwatan bukan sekadar ritual, melainkan ruang kontemplasi untuk membersihkan diri, memohon keselamatan, sekaligus mengembalikan harmoni alam semesta yang diyakini tengah menghadapi berbagai gejolak.

Ketua Taman Sesaji Nusantara, Eko Hand, mengajak para pelaku spiritual agar tidak berhenti pada pengalaman batin semata. Menurutnya, mereka yang dipercaya memiliki kemampuan mengakses daya semesta juga memikul tanggung jawab sosial terhadap keadaan di sekitarnya.

“Nalikane ana obah musiking kahanan, mari ikut cawe-cawe,” ujarnya, mengajak setiap insan untuk turut mengambil bagian ketika kehidupan sedang mengalami perubahan.

Ruwat Jagat merupakan puncak dari rangkaian laku spiritual yang telah dimulai beberapa bulan sebelumnya.

Pada Mei 2026 digelar Ruwat Diri sebagai proses penyucian pribadi, disusul Ruwat Nagari pada Juni sebagai ikhtiar membersihkan ruang kehidupan masyarakat. Beberapa peserta bahkan menjalani tirakat dan laku batin selama berminggu-minggu sebelum memasuki prosesi puncak.

Koordinator penyelenggara, Supriyadi Sapta, menggambarkan ritual tersebut sebagai perjalanan batin yang menuntut keberanian untuk melihat dunia luar sekaligus menelusuri ruang terdalam dalam diri manusia.

“Upacara sakral ini ibarat pedang bermata dua. Tajam membelah keluar dan tajam membelah ke dalam.” katanya

Suasana khidmat semakin terasa ketika doa-doa dan mantra dilantunkan. Di tengah prosesi, sejumlah peserta mengaku mengalami pengalaman spiritual yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Baca Juga:
Harga Kebutuhan Pokok di Sleman Stabil Jelang Iduladha 2026, Pemkab Siapkan Operasi Pasar

Salah satunya adalah Dini, peserta yang mengaku merasakan kehadiran para leluhur. “Saya merasakan kehadiran Leluhur Agung yang berkeliling memberikan percikan air suci kepada kami semua. Kehadiran Batara Pasupati juga terasa sangat nyata. Itu pengalaman yang luar biasa,” ujarnya.

Penasehat Yayasan Taman Sesaji Nusantara Ki Hajar Pamadhi (kiri) dan Pembina Yayasan Taman Sesaji Nusantara, Ki Hanggo Hartono

Dalam pandangan sebagian pelaku spiritual Jawa, ritual semacam ini diyakini sebagai media penyelarasan energi antara manusia dan jagat raya. Keyakinan tersebut juga disampaikan seniman sekaligus spiritual senior Yogyakarta Utara, Joko Mursabdo.

Menurutnya, berdasarkan perhitungan spiritual (etung-petung), tujuh hari setelah Rabu Pon akan terjadi loncatan energi semesta yang besar. “Mulyakke wong pener, ngganyang wong culika lan durjana,” tuturnya, menggambarkan harapan agar energi kebaikan mengangkat mereka yang lurus dan menyingkirkan sifat culas serta kejahatan.

Sementara itu, spiritual muda Dheny Faza mengisahkan pengalamannya menyaksikan simbol-simbol energi yang hadir selama prosesi berlangsung. Ia menyebut adanya tujuh pola energi naga dalam spektrum warna berbeda yang mengiringi jalannya upacara.

Menurutnya, tiga pola energi tersebut bersemayam dalam Pataka Taman Sesaji Nusantara Sang Hyang Cakrawati Pancasraya, sementara empat lainnya kembali menuju kahyangan.

Terlepas dari beragam pengalaman spiritual yang bersifat personal, Upacara Ruwat Jagat memperlihatkan bagaimana tradisi Jawa masih hidup sebagai ruang perjumpaan antara nilai budaya, spiritualitas, dan kepedulian terhadap alam.

Bagi RH. Satriya W, momentum seperti ini memiliki nilai budaya yang layak diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat.

“Upacara sesakral ini seharusnya dapat dinikmati jutaan orang melalui siaran langsung atau media lainnya,” harapnya

Di tengah perubahan zaman, Ruwat Jagat menjadi pengingat bahwa warisan budaya Nusantara tidak hanya tersimpan dalam benda-benda bersejarah atau naskah kuno, melainkan juga hidup melalui laku, doa, simbol, dan kebersamaan.

Baca Juga:
Prakiraan Cuaca DIY 3-5 Mei : Waspada Hujan Lebat di Sleman dan Kulonprogo

Ia menjadi cermin bahwa bagi sebagian masyarakat Jawa, merawat bumi tidak hanya dilakukan melalui tindakan nyata, tetapi juga melalui ikhtiar batin yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi para pejalan sunyi yang hadir di Sleman hari itu, Ruwat Jagat bukan sekadar sebuah ritual. Ia adalah doa bersama agar keseimbangan alam tetap terjaga, kemanusiaan tetap berpijak pada kebajikan, dan kehidupan senantiasa bergerak menuju harmoni. (ek/trs)