NGANJUK – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi andalan peningkatan gizi anak, justru menuai kontroversi panas. Warga dibuat geger setelah beredarnya foto menu makanan di SDN Putuk 2, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, yang memperlihatkan buah jambu klutuk masih mentah disajikan kepada siswa pada Selasa (17/3/2026).
Alih-alih mendapat apresiasi, menu tersebut justru memantik gelombang kritik dari wali murid. Rasa kecewa pun tak terbendung.
“Ini program bergizi atau sekadar bagi-bagi? Anak-anak dikasih jambu mentah seperti ini, apa layak dikonsumsi?” ujar salah satu wali murid dengan nada kesal.
Tak sedikit yang menilai, pemberian buah yang belum matang mencerminkan lemahnya pengawasan dan terkesan asal-asalan. Bahkan, beberapa orang tua khawatir dampaknya terhadap kesehatan anak jika dikonsumsi tanpa pertimbangan.
Isu ini semakin panas setelah diketahui bahwa dapur penyedia MBG berada di wilayah Loceret. Publik pun mulai mempertanyakan standar operasional dan kontrol kualitas dari program yang digadang-gadang untuk masa depan generasi ini.
Di media sosial, perdebatan semakin liar. Sebagian netizen menyebut ini sebagai bentuk “kelalaian fatal”, sementara lainnya menduga ada yang tidak beres dalam distribusi bahan makanan.
Pengamat kesehatan ikut angkat bicara.
Menurutnya, buah memang bagian penting dari menu bergizi, namun harus dalam kondisi matang dan layak konsumsi.
“Kalau masih mentah, bukan hanya gizinya belum maksimal, tapi juga bisa menimbulkan gangguan pencernaan. Ini tidak bisa dianggap sepele,” tegasnya.
Kini, publik menanti langkah tegas dari pihak terkait. Apakah ini hanya kesalahan teknis di lapangan, atau justru mencerminkan persoalan serius dalam pelaksanaan program MBG?
Satu hal yang pasti, kejadian ini menjadi tamparan keras: program besar tak cukup hanya niat baik, tapi juga butuh pengawasan ketat. Jika tidak, yang terjadi bukan peningkatan gizi, melainkan polemik yang terus bergulir. (Sr)











