YOGYAKARTA – Bawaslu Kota Yogyakarta memperkenalkan Wayang Suket sebagai media edukasi demokrasi dan pengawasan pemilu berbasis kearifan lokal. Seni tradisional yang dibuat dari rumput tersebut dinilai dapat menyampaikan pesan demokrasi melalui cerita, simbol, dan karya seni yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pengenalan itu dilakukan melalui workshop pembuatan Wayang Suket dalam Gelar Pojok Pengawasan dan Literasi Demokrasi (Polikrasi) di Kantor Bawaslu Kota Yogyakarta, Rabu (28/10/2026). Kegiatan bertema “Harmoni Inovasi Digital dan Edukasi Demokrasi Berbasis Budaya” tersebut dihadiri perwakilan Bakesbangpol Kota Yogyakarta, Diskominfosan Kota Yogyakarta, serta Jaringan Masyarakat Peduli Demokrasi (Jamrud).
Ketua Bawaslu Kota Yogyakarta, Andie Kartala, mengatakan pendidikan demokrasi tidak cukup hanya berfokus pada penyelenggaraan pemilu. Nilai demokrasi, menurutnya, perlu ditanamkan dalam kehidupan masyarakat melalui pendekatan budaya dan pemanfaatan teknologi digital.
“Demokrasi bukan hanya sebatas penyelenggaraan pemilu, tetapi juga perlu dibangun melalui budaya dan pemanfaatan teknologi digital,” ujarnya.
Melalui Polikrasi, Bawaslu berupaya menghadirkan edukasi demokrasi yang dekat dengan masyarakat dengan memadukan inovasi digital dan kearifan lokal.
Anggota Bawaslu DIY, Umi Illiyina, mengapresiasi upaya tersebut. Ia menilai perpaduan teknologi, pendidikan demokrasi, dan pelestarian budaya lokal dapat memperkuat literasi masyarakat, terutama dalam menghadapi tantangan informasi di ruang digital.
Menurutnya salah satu tantangan demokrasi saat ini adalah memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. “Karena itu, pendidikan demokrasi perlu terus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik dan kearifan lokal setiap daerah,” kata Umi.
Workshop dipandu Jantan Putra Bangsa, anggota Bawaslu Kota Yogyakarta sekaligus pegiat seni Wayang Suket. Peserta mempelajari proses pembuatan wayang dari rumput serta mengenal pemanfaatannya untuk menyampaikan pesan pengawasan pemilu.
Melalui praktik langsung, Wayang Suket dikembangkan sebagai sarana edukasi yang kreatif dan mudah dipahami. Media ini berpotensi digunakan dalam kegiatan Pojok Pengawasan, sosialisasi kepada komunitas, maupun pembuatan konten digital.
Bawaslu Kota Yogyakarta berharap pendekatan tersebut dapat meningkatkan literasi demokrasi, mendorong masyarakat lebih kritis terhadap informasi, dan memperluas partisipasi publik dalam mengawal Pemilu 2029 yang berintegritas (bams)











