PONOROGO – Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Ponorogo menggelar Rapat Pimpinan Daerah (RAPIMDA) I di Rumah Makan Restomu, Sabtu (1/8). Kegiatan yang dihadiri sekitar 250 peserta dari unsur pengurus PDPM dan Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) se-Kabupaten Ponorogo ini menjadi momentum konsolidasi untuk memperkuat arah gerakan organisasi dan meneguhkan peran kader dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ponorogo KH. Drs. Moh. Syafrudin, M.A., Wakil Ketua Fraksi PAN DPRD Jawa Timur Dr. H. Suli Da’im, M.M. sebagai keynote speaker, Kepala Bidang Kesra Pemkab Ponorogo Hadi Rustiyono, S.STP., M.Si., Sekretaris Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Jawa Timur Ali Zulkarnain, serta jajaran pengurus PDPM dan PCPM se-Kabupaten Ponorogo.
Ketua PDPM Ponorogo, Darmanto Saputro, menegaskan tantangan zaman menuntut Pemuda Muhammadiyah menjadi organisasi yang adaptif dan kolaboratif tanpa kehilangan identitas gerakan.
“Pemuda Muhammadiyah harus mampu berkolaborasi, berpikir rasional dalam konteks politik kebangsaan, serta membangun komitmen yang kuat untuk mengabdi kepada umat, bangsa, dan persyarikatan,” ujarnya.
Senada, Sekretaris PWPM Jawa Timur, Ali Zulkarnain, menyebut politik harus dipandang sebagai ruang pengabdian, bukan sekadar perebutan kekuasaan.
“Saat ini momentum bagi kader Pemuda Muhammadiyah untuk menempatkan diri pada posisi yang tepat dalam politik kebangsaan. Kader harus hadir dengan kompetensi, integritas, dan nilai-nilai Islam Berkemajuan sehingga mampu memberi warna positif dalam kehidupan berbangsa,” katanya.
Sementara itu dalam keynote speech, Dr. H. Suli Da’im mengajak kader memahami politik secara utuh melalui pendekatan idealis, rasional, dan realistis dengan tetap berpegang pada nilai moral Islam. Ia mengulas pemikiran filsuf politik Italia, Niccolò Machiavelli dalam karya monumentalnya The Prince sebagai bahan pembelajaran membaca realitas politik secara objektif.
“Machiavelli mengajarkan bahwa dunia politik harus dipahami sebagaimana adanya. Namun bagi kader Muhammadiyah, memahami realitas politik bukan berarti menghalalkan segala cara. Justru kita harus mampu memadukan kecerdasan membaca situasi dengan integritas moral yang diajarkan Islam,” jelasnya.
Menurutnya, beberapa pokok pikiran Machiavelli seperti pentingnya menjaga stabilitas organisasi, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, serta keberanian dan kecerdasan dalam mengambil keputusan relevan untuk dipelajari kader agar mampu berperan efektif di ruang publik.
“Politik kebangsaan membutuhkan kader yang kuat secara ideologi, cerdas secara strategi, tetapi tetap menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai dakwah. Realisme politik harus menjadi alat membaca keadaan, bukan alasan untuk meninggalkan integritas,” tegasnya.
Suasana RAPIMDA semakin hidup ketika sesi refleksi komitmen. Suli Da’im melontarkan pertanyaan kepada peserta, “Apakah komitmen saya masih diragukan pada Anda semua?”
Dengan kompak, sekitar 250 kader yang memenuhi aula Restomu menjawab lantang, “Tidak!”
“Apakah Anda semua siap membantu perjuangan ini?” lanjutnya.
“Siap!” jawab peserta serempak disambut tepuk tangan menggema.
Momen tersebut menjadi simbol soliditas kader Pemuda Muhammadiyah Ponorogo.
RAPIMDA I PDPM Ponorogo diharapkan menjadi titik awal lahirnya program-program strategis untuk memperkuat kapasitas kader, memperluas kolaborasi lintas elemen, serta meningkatkan kontribusi nyata Pemuda Muhammadiyah dalam pembangunan Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dan Indonesia dengan semangat bertumbuh, berakar, dan berdampak. (Muh Nurcholis)











