SIDOARJO — Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo (Harjasda) ke-167 tahun 2026 diwarnai semangat tradisi dan kearifan lokal. Salah satu kegiatan yang menyedot perhatian publik berlangsung di Desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian, melalui tradisi ruwat desa atau sedekah bumi yang digelar pada Minggu (01/01/2026), menjelang datangnya bulan suci Ramadan.
Dalam prosesi tersebut, masyarakat menghadirkan tumpeng tempe raksasa setinggi kurang lebih 14 meter. Tumpeng ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus identitas Sedengan Mijen sebagai sentra penghasil tempe. Untuk pembuatannya, warga mengolah sekitar tiga kuintal kedelai yang disusun secara gotong royong sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan.
Sejak pagi, ribuan warga memadati Lapangan Desa Sedengan Mijen untuk mengikuti rangkaian acara. Setelah doa bersama dipanjatkan, suasana berubah semarak saat warga berebut potongan tumpeng tempe raksasa. Tradisi tersebut diyakini membawa berkah, sehingga menambah antusiasme masyarakat yang hadir.
Tak hanya tumpeng tempe raksasa, sedekah bumi kali ini juga diramaikan dengan 31 tumpeng hasil bumi yang dibawa masing-masing RT. Aneka hasil pertanian, perkebunan, hingga perikanan ditata dan dibagikan kepada warga, mencerminkan semangat berbagi serta kebersamaan antarwarga desa.
Camat Krian, Nawari, yang hadir mewakili Bupati Sidoarjo, menyampaikan apresiasi atas kekompakan masyarakat Sedengan Mijen. Ia menilai partisipasi aktif warga dalam menjaga dan merawat tradisi budaya lokal patut mendapat penghargaan.
Menurutnya, tradisi tumpeng tempe raksasa memiliki nilai strategis karena tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga membuka peluang pengembangan wisata budaya. Jika dikelola secara berkelanjutan, kegiatan tersebut berpotensi masuk dalam agenda wisata Kabupaten Sidoarjo.
Panitia ruwat desa menyampaikan rasa syukur karena seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar. Selain sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, kegiatan ini dinilai efektif mempererat persatuan dan kebersamaan masyarakat.
Rangkaian ruwat desa sendiri telah dilaksanakan beberapa hari sebelumnya, meliputi istighosah, barikan Khotmil Qur’an, pagelaran wayang kulit, hingga pasar jajanan tradisional.
Puncak acara ditandai dengan doa bersama dan prosesi perebutan tumpeng di lapangan desa yang berlangsung hingga kegiatan berakhir. Tradisi tumpeng tempe raksasa pun kembali menjadi agenda tahunan yang dinanti masyarakat, sekaligus memperkaya khazanah budaya Kabupaten Sidoarjo.











