YOGYAKARTA – Menyambut bulan suci Ramadan, The Jogja Hotel menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang unik dengan mengusung tema “Skyline Iftar”. Bertempat di rooftop atau lantai teratas, hotel bintang empat ini menawarkan sensasi bersantap di atas “kaki langit” dengan pemandangan kota Yogyakarta.
General Manager The Jogja Hotel, Maji mengungkapkan konsep ini sengaja dijual untuk memanjakan tamu dengan suasana sunset (matahari terbenam) dan gemerlap lampu kota (city light) pada malam hari.
”Yang kita jual adalah suasana kota. Pengunjung bisa menikmati sunset yang sangat bagus sebelum berbuka, lalu melihat pemandangan kota 360 derajat. Ini yang dicari masyarakat, terutama pasangan muda-mudi yang ingin mencari memori dan ketenangan,” ujar Maji dalam perbincangan di hotelnya yang terletak di kawasan Pringgokusuman No.7, Gedongtengen, Yogyakarta, Rabu (25/2/2026) malam.
Menu Premium Tradisional hingga Modern
Untuk urusan lidah, The Jogja Hotel menyajikan lebih dari 100 variasi menu yang menggabungkan cita rasa tradisional hingga modern. Beberapa menu andalan yang menjadi favorit pengunjung adalah kambing guling dan bebek peking. Selain itu, tersedia pula jajanan pasar dan hidangan penutup klasik seperti es puter.
Paket buka puasa prasmanan (buffet) ini dibanderol dengan harga Rp 259.000 per orang. Maji menyebut harga tersebut sangat kompetitif untuk kelas menengah ke atas di Yogyakarta. Bagi tamu yang menginginkan privasi lebih, tersedia layanan VIP dengan harga Rp500.000 per orang.
”Harga kami berada di urutan menengah, di bawah Hotel Tentrem lah. Kami mengejar crowd dan ingin masyarakat penasaran dengan sensasi makan di ketinggian ini,” tambahnya.

Okupansi dan Target Pasar
Meskipun tingkat hunian kamar (occupancy) hotel yang berkapasitas 200 kamar ini cenderung menurun ke angka 40-50 persen selama Ramadan—dari yang biasanya di atas 80 persen—namun antusiasme pengunjung luar untuk berbuka puasa tetap tinggi.
Maji menceritakan saking ramainya peminat di area rooftop, pihaknya sempat mengalami kendala keterbatasan kursi pada momen-momen tertentu seperti libur akhir tahun lalu. Oleh karena itu, momen Ramadan ini menjadi cara hotel untuk tetap produktif.
”Target pasar kami luas. Kami tidak bergantung pada anggaran pemerintah (GSO), melainkan menyasar sektor swasta, perusahaan dari Cikarang, Tangerang, hingga Surabaya,” katanya.
“Kami ingin tamu yang datang merasa nyaman tanpa harus merasa ‘kapok’ karena harga yang terlalu tinggi,” jelas Maji menambahkan.
Selama bulan Ramadan, suasana di rooftop juga dipermanis dengan iringan musik akustik pelan untuk menjaga kenyamanan tamu yang ingin mengobrol santai. Pihak manajemen menegaskan bahwa area tersebut bebas dari alkohol untuk menghormati kenyamanan seluruh tamu (bams)











