JAKARTA – Perbedaan penyebutan inisial terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, antara versi kepolisian dan TNI akhirnya mendapat penjelasan resmi dari Polda Metro Jaya.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menegaskan bahwa perbedaan inisial tersebut tidak menunjukkan perbedaan orang, melainkan hanya variasi dalam penyebutan identitas.
“Yang kami sebut BHC itu sama dengan BHW yang disampaikan rekan BAIS TNI dari matra udara dan laut,” jelasnya dalam keterangan kepada media, Kamis (19/03/2026).
Ia menambahkan, penetapan inisial tersebut merupakan hasil penyelidikan kepolisian dengan pendekatan Scientific Crime Investigation, yang dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.
“Terkait perbedaan dengan data dari rekan-rekan TNI, silakan ditanyakan langsung kepada pihak terkait,” ujarnya.
Lebih lanjut, Budi Hermanto—yang akrab disapa Buher—mengungkapkan bahwa proses identifikasi pelaku dilakukan melalui analisis intensif terhadap rekaman CCTV di berbagai titik.
Penyidik, kata dia, telah memeriksa total 86 titik kamera pengawas yang tersebar di sejumlah lokasi. Rinciannya meliputi tujuh rekaman dari sistem ETLE, 27 titik CCTV milik Dinas Komunikasi dan Informatika DKI Jakarta, serta 44 titik kamera milik warga dan gedung di sepanjang jalur pelarian pelaku.
Dari seluruh titik tersebut, penyidik mengumpulkan sebanyak 2.610 rekaman dengan durasi total mencapai lebih dari 10 menit.
Analisis mendalam terhadap rekaman tersebut menjadi dasar penting dalam mengidentifikasi dan menelusuri pergerakan terduga pelaku setelah kejadian.
Polda Metro Jaya menegaskan akan terus mendalami kasus ini secara profesional dan transparan, mengingat tingginya perhatian publik terhadap peristiwa tersebut.
Caption Foto:
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menjelaskan perbedaan penyebutan inisial pelaku penyiraman air keras dalam konferensi pers.











