YOGYAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Yogyakarta memprakirakan sebagian wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas bervariasi selama periode 28 hingga 30 Maret 2026. Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Feriomex Hutagalung menjelaskan suhu muka laut di Laut Jawa dan Samudra Hindia selatan Jawa terpantau hangat, berkisar 27–31 derajat Celsius. Kondisi tersebut meningkatkan suplai uap air ke atmosfer. Selain itu, keberadaan Siklon Tropis Narelle di wilayah barat Australia memicu terbentuknya pola belokan angin (shearline) di sebagian wilayah Jawa, yang turut meningkatkan peluang pembentukan awan hujan. Kelembapan udara di lapisan 1,0–3,0 km juga relatif tinggi, yakni antara 60 hingga 90 persen.
Untuk Sabtu (28/3), hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Kota Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo bagian utara, Bantul bagian selatan, dan Gunungkidul bagian selatan. Sementara tinggi gelombang laut diperkirakan berkisar 1,25 hingga 2,5 meter atau kategori sedang.
Pada Minggu (29/3), hujan ringan hingga sedang diprakirakan terjadi di Kota Yogyakarta, Sleman bagian utara, Kulon Progo bagian selatan, Bantul bagian selatan, serta Gunungkidul bagian selatan. Kondisi gelombang laut masih berada pada kisaran yang sama.
Memasuki Senin (30/3), potensi hujan ringan hingga sedang diprediksi terjadi di Kota Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo bagian utara, serta Gunungkidul bagian utara, dengan tinggi gelombang laut tetap pada kategori sedang.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara tiba-tiba selama masa peralihan musim. Warga juga diminta menjaga kondisi kesehatan di tengah cuaca panas dengan memperbanyak konsumsi air dan membatasi aktivitas di siang hari.
Selain itu, masyarakat diharapkan rutin memperbarui informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG serta berkoordinasi dengan instansi terkait kebencanaan guna mengantisipasi potensi dampak cuaca ekstrem (bams)











