YOGYAKARTA — Ketua Program Studi Gizi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Agung Nugroho, menyoroti masih masifnya penggunaan plastik sekali pakai dalam pembagian daging kurban saat Idul Adha. Menurutnya, penggunaan wadah ramah lingkungan menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak sampah terhadap lingkungan.
Ia menjelaskan, persoalan sampah plastik saat Idul Adha menjadi isu serius karena jumlah hewan kurban di Indonesia sangat besar setiap tahun. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, jumlah hewan kurban pada 2024 mencapai 1,97 juta ekor. Sementara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperkirakan timbulan sampah plastik selama Idul Adha 2024 mencapai 608 ton yang berasal dari sekitar 121,5 juta lembar kantong kresek.
“Momentum Idul Adha seharusnya juga menjadi sarana edukasi untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kalau separuh umat Islam saja mulai mengurangi penggunaan kantong plastik, dampaknya akan sangat besar bagi keselamatan lingkungan,” kata Agung.
Ia mengingatkan, kantong plastik terutama hasil daur ulang berpotensi membahayakan kesehatan. Mengacu penjelasan Badan Pengawas Obat dan Makanan tahun 2019, sebagian besar plastik kresek berasal dari daur ulang limbah produk pangan, bahan kimia, hingga pestisida yang dalam proses pembuatannya menggunakan zat berbahaya.
“Kantong plastik mengandung zat karsinogen dan logam berat seperti timbal yang berisiko bagi kesehatan. Selain itu, plastik sekali pakai membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai di alam,” ujarnya.
Agung menilai upaya mengurangi sampah plastik juga sejalan dengan ajaran Islam tentang menjaga lingkungan. Menurutnya, manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di bumi untuk tidak merusak alam.
“Umat Islam harus menjadi aktor utama dalam gerakan penyelamatan lingkungan. Menjaga lingkungan bukan hanya isu sosial, tetapi juga bagian dari amanah agama,” tegasnya.
Selama ini pemerintah telah mengimbau panitia kurban untuk mengganti kantong plastik dengan wadah ramah lingkungan seperti daun pisang, daun jati, anyaman bambu, atau besek. Namun, menurut Agung, penggunaan pembungkus organik juga masih menyisakan persoalan sampah apabila tidak dikelola dengan baik.
“Sampah organik memang bisa dijadikan kompos, tetapi kenyataannya di tingkat rumah tangga sebagian besar tetap bercampur dengan sampah lain dan berakhir di tempat pembuangan,” katanya.
Sebagai alternatif, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendorong penggunaan wadah yang dapat dipakai berulang atau reusable. Agung mencontohkan konsep tersebut mulai diterapkan Masjid Quwatul Islam di Perumnas Condongcatur, Sleman.
Masjid yang menaungi jamaah dari empat RT itu melakukan eksperimen sosial dengan membagikan daging kurban menggunakan kontainer food grade dan wadah reusable sejak 2004. Kontainer diberi label nama warga dan digunakan kembali setiap tahun.
Program tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Pada Idul Adha 2025, penggunaan kontainer reusable diperluas kepada sohibul kurban dan penerima lainnya menggunakan wadah thinwall yang dapat dipakai ulang.
“Hasilnya luar biasa. Tidak ada lagi sampah plastik maupun sampah organik pembungkus daging kurban yang menumpuk di tempat sampah,” pungkas Agung (bams)











