Portal DIY

PWI DIY Bentuk Tim Ad Hoc, Perjuangkan Wartawan Udin Jadi Pahlawan Nasional

Portal Indonesia
×

PWI DIY Bentuk Tim Ad Hoc, Perjuangkan Wartawan Udin Jadi Pahlawan Nasional

Sebarkan artikel ini
Muhammad Razi Syafruddin alias Udin (Ist)

YOGYAKARTA – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi membentuk Tim Ad Hoc Pengusulan Fuad Muhammad Syafruddin atau Udin sebagai Pahlawan Nasional. Pembentukan tim tersebut ditandai dengan rapat koordinasi (rakor) yang digelar di Gedung Pusat Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, Selasa (23/6/2026).

Langkah tersebut merupakan tindak lanjut amanat Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI DIY 2025 sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Udin, wartawan Harian Bernas yang meninggal dunia setelah dianiaya saat menjalankan tugas jurnalistik pada 1996.

Rakor dibuka Wakil Rektor III UST, Dr. Ari Setiawan, M.Pd., dan dihadiri pengurus PWI DIY, akademisi, dewan pakar, dewan kehormatan, serta sejumlah tokoh yang akan terlibat dalam proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi Udin.

Ketua PWI DIY, Hudono, mengatakan pengusulan Udin merupakan amanat organisasi yang telah dibawa ke forum Konferensi Kerja Nasional (Konkernas) PWI di Banten.

Menurutnya, perjuangan tersebut membutuhkan waktu panjang dan dukungan dari berbagai pihak.

“Ini merupakan amanat organisasi yang harus diperjuangkan bersama. Proses pengusulan gelar pahlawan nasional tidak bisa dilakukan secara singkat. Dibutuhkan kerja keras, waktu yang panjang, serta dukungan berbagai pihak,” kata Hudono.

Tim Ad Hoc tidak hanya bertugas menyiapkan dokumen administrasi pengusulan, tetapi juga mengawal upaya pengungkapan kembali kasus pembunuhan Udin yang hingga kini belum menemukan titik terang pembunuhnya.

Menurutnya, hasil Tim Pencari Fakta pada masanya menyimpulkan Udin dibunuh berkaitan dengan aktivitas jurnalistiknya. Selama menjadi wartawan Harian Bernas, Udin dikenal aktif menulis laporan investigatif dan kritis mengenai penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Bantul.

“Tercatat sekitar 90 berita kritis yang ditulis Udin terkait kebijakan dan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Udin jelas menjadi korban kekerasan terhadap kebebasan pers. Sampai hari ini pelaku sebenarnya belum berhasil diungkap secara tuntas,” ujarnya.

Baca Juga:
30 Tahun Kematian Udin : Wartawan Dorong Gelar Pahlawan Nasional

Hudono berharap seluruh unsur PWI, mulai dari Dewan Kehormatan, Dewan Penasehat hingga Dewan Pakar dapat menggalang dukungan lebih luas agar usulan tersebut memperoleh perhatian pemerintah.

Sementara itu, Penasehat Tim Ad Hoc, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid mengatakan proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional membutuhkan kajian akademik yang kuat serta tahapan yang tidak singkat.

“Jangan berpikir proses ini selesai dalam tiga bulan. Bisa lima tahun atau bahkan lebih. Namun semua perjuangan besar memang harus dimulai,” katanya.

Edy menjelaskan, proses pengusulan harus didukung berbagai tahapan, mulai dari seminar, focus group discussion (FGD), penyusunan buku, pengumpulan dokumen sejarah hingga penguatan rekam jejak tokoh yang diusulkan.

Karena itu, Tim Ad Hoc didorong segera menyusun peta jalan pengusulan, termasuk menyiapkan kajian akademik, menerbitkan buku, menggelar seminar dan FGD, serta membangun jejaring dukungan di tingkat daerah maupun nasional.

Sebagai informasi, Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin merupakan wartawan Harian Bernas yang dianiaya pada 13 Agustus 1996 dan meninggal dunia pada 16 Agustus 1996. Kasus kematiannya menjadi salah satu simbol perjuangan kebebasan pers di Indonesia.

Hingga kini, pelaku utama maupun aktor intelektual di balik pembunuhan tersebut belum berhasil diungkap secara tuntas.

Dalam rapat tersebut, PWI DIY juga menetapkan susunan Tim Ad Hoc Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Udin. Tim diketuai Ki R. Bambang Widodo, S.Pd., M.Pd., dengan Hudono sebagai penanggung jawab dan Prof. Dr. Edy Suandi Hamid bersama sejumlah akademisi, praktisi hukum, serta pimpinan media massa sebagai penasehat.

Tim ini akan mengoordinasikan seluruh tahapan pengusulan hingga tingkat nasional (bams)