YOGYAKARTA — Prevalensi hipertensi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih berada di atas angka nasional. Kondisi ini mendorong perlunya pemantauan tekanan darah secara rutin dan berkelanjutan, termasuk secara mandiri di rumah.
Ketua Pokja Hipertensi PERKI Dr. Bagus Andi Pramono menyebutkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran tekanan darah pada penduduk usia 18 tahun ke atas di DIY mencapai 31,8 persen. “Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan prevalensi nasional sebesar 30,8 persen,” katanya dalam acara “OEC: Bringing Better Service Closer to You” di Artotel Suites Bianti Yogyakarta, Kamis (20/8/2026).
Acara juga dihadiri Direktur OMRON Healthcare Indonesia, Tomoaki Watanabe dan Branch Service Manager PT Primalayan Citra Mandiri, Anton Butar Butar.
Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia Fanny Himawan mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian OMRON. Karena pihaknya memperkuat akses masyarakat terhadap layanan purna jual sekaligus mendukung pemantauan tekanan darah secara mandiri melalui OMRON Experience Center (OEC) Yogyakarta.
Ketua Pokja Hipertensi PERKI Dr. Bagus Andi Pramono mengatakan penguatan pemantauan hipertensi relevan dengan kondisi di Kota Yogyakarta. Berdasarkan data HEARTS Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta hingga Juli 2026, diperkirakan terdapat 97.362 penduduk usia 15 tahun ke atas dengan hipertensi.
Dari pasien hipertensi yang telah terdaftar, sebanyak 44,90 persen tidak tercatat memiliki kunjungan dalam 12 bulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan masih adanya tantangan dalam menjaga kesinambungan pemantauan dan pengelolaan hipertensi.
Bagus mengatakan pengendalian hipertensi perlu dilakukan secara berkesinambungan, baik melalui pemantauan di fasilitas kesehatan maupun di rumah.
“Hipertensi merupakan kondisi yang membutuhkan pengelolaan jangka panjang. Karena tekanan darah dapat berubah dari waktu ke waktu, pemantauan secara berkala penting untuk melihat apakah tekanan darah berada dalam target dan bagaimana respons seseorang terhadap pengobatan,” jelasnya.
Menurut Bagus, pemantauan tekanan darah di rumah dapat memberikan gambaran kondisi tekanan darah dalam aktivitas sehari-hari. Namun, pengukuran harus dilakukan secara konsisten dengan perangkat yang tervalidasi dan menggunakan metode yang benar.
“Masyarakat tidak hanya perlu mengetahui angka tekanan darahnya, tetapi juga memahami cara mengukurnya dengan benar dan mencatat hasilnya secara konsisten,” katanya.

Hasil pengukuran di rumah juga dapat menjadi informasi tambahan bagi tenaga kesehatan dalam mengevaluasi kondisi pasien dan menentukan pengelolaan selanjutnya.
Sementara itu, Tomoaki Watanabe mengatakan akses terhadap layanan yang mendukung penggunaan perangkat kesehatan secara tepat menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan pemantauan kesehatan secara berkelanjutan.
“Sejalan dengan misi global Going for ZERO, OMRON berkomitmen untuk membantu masyarakat menurunkan risiko stroke dan serangan jantung melalui pencegahan dan pemantauan kesehatan yang lebih baik,” ujar Tomoaki.
Menurutnya, pengelolaan hipertensi membutuhkan pemantauan yang konsisten, termasuk ketika masyarakat melakukan pemeriksaan secara mandiri di rumah.
“Melalui OMRON Experience Center dan kerja sama dengan Datascrip di Yogyakarta, kami ingin mendekatkan akses terhadap layanan servis dan kalibrasi, sekaligus mendukung masyarakat agar dapat menggunakan perangkat kesehatan secara tepat dan optimal,” katanya.
OMRON Experience Center Yogyakarta hadir melalui kemitraan OMRON Healthcare Indonesia dengan Datascrip Service Center. Pusat layanan tersebut berlokasi di Datascrip Service Center, Jalan Gajahmada Nomor 21 Kavling R-2, Pakualaman, Yogyakarta.
Fanny Himawan menjelaskan OEC Yogyakarta menyediakan layanan perbaikan dan kalibrasi perangkat OMRON. Masyarakat juga dapat memperoleh informasi dan mencoba berbagai perangkat kesehatan OMRON secara langsung, mulai dari tensimeter digital, monitor komposisi tubuh, nebulizer, perangkat manajemen nyeri, hingga termometer digital.
Untuk mendukung pemantauan mandiri, OMRON menyediakan berbagai pilihan tensimeter yang dapat digunakan di rumah. Perangkat OMRON telah melalui proses uji dan validasi klinis oleh sejumlah organisasi independen, termasuk European Society of Hypertension (ESH), British Hypertension Society (BHS), dan Association for the Advancement of Medical Instrumentation (AAMI), serta direkomendasikan oleh StrideBP.
Menurut Fanny kehadiran OEC Yogyakarta merupakan bagian dari jaringan 12 OMRON Experience Center di Indonesia yang tersebar di Jakarta, Surabaya, Bandung, Palembang, Medan, Makassar, Semarang, Yogyakarta, Bali, Balikpapan, Manado, dan Padang.
Melalui OEC Yogyakarta, OMRON berharap akses masyarakat terhadap layanan servis dan kalibrasi perangkat kesehatan semakin dekat. Langkah tersebut sekaligus diharapkan mendorong masyarakat membangun kebiasaan pemantauan tekanan darah secara lebih konsisten dan tepat (bams)











