SIDOARJO – Suasana haru mewarnai pembinaan penyintas penyalahgunaan narkotika di YPP Al Kholiqi Rehabilitasi Sosial Pecandu Narkoba, Desa Kajeksan, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, Senin (7/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, para penyintas mengikuti pembinaan vokal dengan menyanyikan sejumlah lagu di hadapan pembina. Latihan yang semula berlangsung biasa berubah menjadi momen emosional ketika beberapa peserta mulai meneteskan air mata.
Mereka terlihat larut dalam penghayatan lirik lagu. Sebagian mengenang perjalanan hidup yang pernah dilalui hingga terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.
Tangisan itu menjadi bagian dari proses pembinaan mental dan emosional. Melalui bernyanyi, para penyintas mendapat ruang untuk mengekspresikan perasaan yang terkadang sulit disampaikan melalui percakapan.
Pimpinan YPP Al Kholiqi Rehabilitasi Sosial Pecandu Narkoba, H. Abdul Kholiq, mengatakan rehabilitasi tidak hanya bertujuan membantu seseorang berhenti menggunakan narkotika.
“Pembinaan juga diarahkan untuk membangun kembali kepercayaan diri, memperkuat mental, menumbuhkan kesadaran, serta mempersiapkan para penyintas untuk kembali menjalani kehidupan di tengah keluarga dan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, pembinaan vokal menjadi salah satu sarana untuk membantu para penyintas mengekspresikan perasaan. Musik dan lagu diharapkan dapat menciptakan suasana yang lebih terbuka sehingga mereka mampu mengenali serta menghadapi pengalaman yang pernah dilalui.
Dalam proses tersebut, para penyintas tidak hanya diajak mengingat masa lalu, tetapi juga menjadikannya sebagai pelajaran. Penyesalan yang muncul diharapkan tidak berhenti pada kesedihan, melainkan menjadi dorongan untuk memperbaiki diri dan tidak kembali terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.
H. Abdul Kholiq juga terus memberikan motivasi agar para penyintas menjalani rehabilitasi dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, keberhasilan pemulihan tidak hanya ditandai dengan berhentinya penggunaan narkotika, tetapi juga kemampuan membangun kehidupan yang sehat dan produktif.
Para penyintas diberikan pemahaman bahwa masa lalu tidak harus menjadi penghalang untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Dengan dukungan dan pembinaan berkelanjutan, mereka diharapkan mampu menemukan kembali potensi diri, belajar bertanggung jawab, serta membangun hubungan sosial yang sehat.
Lantunan lagu dalam kegiatan itu pun menjadi bagian dari pembinaan yang tidak sekadar melatih kemampuan vokal. Bagi para penyintas, bernyanyi menjadi ruang untuk mengekspresikan emosi, mengenang perjalanan hidup, sekaligus membangun semangat menata masa depan.
Air mata yang mengalir menjadi salah satu bagian dari perjalanan pemulihan. Dari sana, para penyintas terus didorong untuk bangkit, meninggalkan masa lalu, dan mempersiapkan diri agar dapat kembali berperan positif bagi keluarga maupun masyarakat.











