Portal DIY

Saatnya Borobudur dan Candi-candi Lain Bersatu dalam Satu Ekosistem Wisata

Portal Indonesia
×

Saatnya Borobudur dan Candi-candi Lain Bersatu dalam Satu Ekosistem Wisata

Sebarkan artikel ini
Dr Fidelis I Diponegoro, Dosen Program Doktor (S3) Ketahanan Nasional UGM Yogyakarta

YOGYAKARTA – Integrasi Candi Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, dan sejumlah candi potensial lainnya dalam satu ekosistem pariwisata budaya dinilai dapat memperkuat daya tarik warisan peradaban Nusantara. Integrasi tersebut perlu dilakukan melalui penyatuan narasi sejarah, pengembangan jalur kunjungan tematik, peningkatan kualitas pemandu, serta promosi bersama.

Gagasan tersebut disampaikan Dr. Fidelis I Diponegoro, dosen Program Doktor (S3) Ketahanan Nasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Menurut dia, pengelolaan pariwisata candi selama ini masih cenderung menempatkan setiap situs sebagai destinasi yang berdiri sendiri, sehingga pengalaman wisatawan sering terbatas pada kunjungan singkat, berfoto, dan mendengarkan penjelasan umum.

Padahal, kawasan Yogyakarta dan Jawa Tengah memiliki kekayaan sejarah serta arkeologi yang saling berkaitan. Integrasi destinasi dapat menjadi strategi untuk mengangkat kembali daya tarik Borobudur sekaligus memperkenalkan candi-candi lain sebagai bagian dari perjalanan peradaban Jawa kuno.

Fidelis menilai integrasi tidak harus dilakukan dengan melebur seluruh candi ke dalam satu lembaga pengelola.

Menurutnya langkah awal dapat ditempuh melalui penyatuan visi, penyusunan narasi sejarah bersama, pengembangan jalur wisata, peningkatan kompetensi pemandu, dan koordinasi pelestarian.

Dengan pendekatan tersebut, Borobudur tidak hanya dikenal sebagai monumen Buddha, Prambanan sebagai mahakarya Hindu, dan Ratu Boko sebagai kompleks peninggalan masa lalu. Ketiganya dapat dipahami sebagai bagian dari lanskap peradaban yang menggambarkan perkembangan agama, seni, pengetahuan, kekuasaan, dan kehidupan masyarakat Jawa kuno.

Plaosan, Simbol Perjumpaan Tradisi

Salah satu candi yang dinilai layak mendapat perhatian lebih besar dalam integrasi pariwisata budaya adalah Candi Plaosan. Kompleks yang terdiri atas Plaosan Lor dan Plaosan Kidul itu menyimpan nilai sejarah tentang perjumpaan tradisi Hindu dan Buddha pada abad IX.

Plaosan memiliki kaitan dengan Pramodhawardhani, putri Samaratungga dari lingkungan Wangsa Syailendra yang beragama Buddha, dan Rakai Pikatan dari lingkungan Wangsa Sanjaya yang menganut tradisi Hindu serta dikenal sebagai penguasa yang berkaitan dengan pembangunan Prambanan.

Menurut Fidelis, Plaosan memiliki nilai yang melampaui keindahan arsitektur dan relief. Situs ini dapat menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan keluarga kerajaan, dinamika kekuasaan, serta kehidupan keagamaan masyarakat Jawa pada masa itu.

Dalam penafsiran populer, kisah yang berkaitan dengan Pramodhawardhani dan Rakai Pikatan juga kerap dimaknai sebagai simbol cinta yang melampaui perbedaan. Narasi tersebut dapat memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus memperkenalkan sejarah perjumpaan tradisi di Nusantara.

Jika Borobudur mengajak pengunjung memahami perjalanan spiritual dalam ajaran Buddha, sedangkan Prambanan memperlihatkan kemegahan tradisi Hindu dan kisah-kisah epos, Plaosan dapat menjadi ruang untuk mendalami hubungan ant tradisi, keluarga kerajaan, dan kehidupan masyarakat di tengah perbedaan.

Wisata Candi Berbasis Jalur Sejarah

Fidelis mengusulkan pengembangan perjalanan wisata tematik yang menghubungkan Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, Plaosan, Candi Sewu, Kalasan, Candi Sari, dan situs-situs lain yang memiliki nilai sejarah maupun arkeologi.

Wisatawan nantinya tidak hanya membeli tiket untuk mengunjungi satu candi, tetapi juga dapat memilih pengalaman budaya berdasarkan tema tertentu. Misalnya, jalur perkembangan Hindu-Buddha, kisah Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani, seni relief, atau lanskap kerajaan dan kehidupan masyarakat Jawa kuno.

Setiap jalur perlu didukung pemandu terlatih, bahan bacaan populer, peta digital, serta narasi interpretasi yang disusun bersama arkeolog, sejarawan, dan budayawan. Dengan demikian, wisatawan tidak sekadar melihat bangunan batu, tetapi juga memahami konteks sejarah dan gagasan yang melatarbelakangi pembangunannya.

Pelaksanaannya membutuhkan koordinasi lintas pengelola, pengembangan paket kunjungan terpadu, serta promosi yang saling mendukung. Peningkatan kualitas pemandu menjadi salah satu kunci agar penjelasan kepada wisatawan tidak berhenti pada usia dan bentuk bangunan, tetapi juga mencakup makna relief, konteks sejarah, dan nilai kebudayaan.

Namun, integrasi tersebut harus tetap mengutamakan pelestarian cagar budaya serta menghormati nilai sakral setiap situs.

Libatkan Masyarakat Sekitar Candi

Integrasi pariwisata candi juga diharapkan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa di sekitarnya. Setiap desa dapat mengembangkan potensi lokal melalui kuliner, kerajinan, seni pertunjukan, homestay, pusat pembelajaran, dan kegiatan budaya.

Pendekatan tersebut berpotensi memperpanjang lama tinggal wisatawan, memperluas distribusi manfaat ekonomi, serta menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya di lingkungannya.

Bagi Fidelis, tantangan utama pengembangan pariwisata candi bukan sekadar mempromosikan lebih banyak destinasi, melainkan menghubungkan kekayaan arkeologi yang tersebar menjadi pengalaman kebudayaan yang utuh.

Melalui integrasi tersebut, Borobudur dan candi-candi lainnya diharapkan tidak hanya menjadi objek kunjungan wisata. Akan tetapi juga sumber pengetahuan dan inspirasi tentang peradaban leluhur Nusantara bagi masyarakat masa kini (bams)