Pendidikan

Laba Saja Tidak Cukup: Etika Pemasaran Pangan dan Masa Depan Gizi Anak

Andre Prisna P
×

Laba Saja Tidak Cukup: Etika Pemasaran Pangan dan Masa Depan Gizi Anak

Sebarkan artikel ini
Foto: ilustrasi (ist)

Oleh: Asri Mulyaningrum

Bayangkan seorang anak yang sedang menonton video di ponsel orang tuanya. Di tengah tayangan, muncul iklan minuman manis berhias tokoh kartun yang berwarna mencolok. Tidak lama kemudian, ia meminta untuk dibelikan minuman itu. Bagi perusahaan, hal itu menunjukkan kampanye berjalan efektif. Namun, bagi keluarga ini dapat menjadi titik awal pola makan yang sulit untuk dikoreksi.

Anak-anak kini hidup di tengah arus media yang deras akibat perkembangan teknologi dan globalisasi, sehingga mereka mudah dipengaruhi. Iklan makanan adalah salah satu isi media yang paling sering mereka jumpai, baik dalam bentuk siaran langsung, sponsor, maupun promosi terselubung. Strategi pemasarannya memang disusun untuk menarik minat anak sebagai sasaran utama (Rahma dkk., 2025). Anak yang kerap melihat iklan semacam ini cenderung menyukai makanan yang ditawarkan, khususnya yang kaya akan kandungan gula, garam, dan lemak. Di media sosial, pengaruhnya terbukti lebih besar karena anak jadi lebih mudah ingin membeli dan mengonsumsi produk tersebut (Rahma dkk., 2025).

Ketika Selera Anak Berujung pada Angka Kesehatan

Kementerian Kesehatan (2024) mencatat bahwa prevalensi obesitas pada kelompok usia 5-19 tahun naik dari 2,8% pada 2006 menjadi 6,1% pada 2016. Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan bahwa 11,9% anak usia 5-12 tahun mengalami berat badan berlebih dan 7,8% mengalami obesitas (Prisie, 2026). Kemenkes juga menetapkan batas konsumsi harian, yaitu 50 gram gula, 5 gram garam, dan 67 gram lemak per orang (Kementerian Kesehatan, 2024). Batas ini mudah terlampaui jika anak terbiasa dengan produk olahan yang gencar diiklankan. Iklan memang bukan satu-satunya penyebab, tetapi ia ikut membentuk lingkungan pangan tempat selera anak tumbuh.

Baca Juga:
Kukuhkan 254 Kepala SD-SMP Negeri, Bupati Subandi Tekankan Amanah Bangun Generasi Sidoarjo

Untung Sekarang, Resiko Kemudian

Di titik inilah gagasan bahwa laba saja tidak cukup menjadi masuk akal. Produk yang laku karena iklan tampak menguntungkan dalam laporan keuangan. Namun nilai perusahaan ditentukan oleh hal yang lebih luas daripada laba satu periode, yaitu kepercayaan konsumen, reputasi merek, dan kesiapan menghadapi aturan. Arah kebijakan sudah terlihat. Kemenkes bersama Kementerian Komunikasi dan Digital berencana membatasi iklan produk tinggi gula, garam, dan lemak berdasarkan PP Nomor 28 Tahun 2024 (Prisie, 2026). Perusahaan yang terlambat menyesuaikan diri berisiko menanggung biaya kepatuhan sekaligus tekanan terhadap citra.

Penelitian di Indonesia memberi petunjuk bahwa tata kelola turut menentukan nilai perusahaan. Hidayat dan Farida (2021) meneliti perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman di Bursa Efek Indonesia periode 2015-2019. Mereka menemukan bahwa pengungkapan tanggung jawab sosial dan tata kelola yang diukur lewat ukuran komite audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan, sedangkan profitabilitas yang diukur dengan ROA tidak berpengaruh. Temuan serupa muncul pada Lawani dkk. (2023), yang menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan subsektor makanan dan minuman periode 2018-2021. Kedua studi ini tidak meneliti pemasaran kepada anak secara langsung. Meski demikian, keduanya sejalan dengan gagasan bahwa laba bukan satu-satunya penentu nilai perusahaan.

Langkah yang Bisa Ditempuh

Pertama, perusahaan menetapkan batas internal agar produk tinggi gula, garam, dan lemak tidak dipromosikan kepada anak, termasuk melalui influencer dan karakter animasi. Kedua, pemerintah mempercepat aturan pelaksana pembatasan iklan, terutama di platform digital. Ketiga, label gizi dibuat mudah dipahami agar klaim “sehat” tidak menyesatkan. Keempat, pelaporan keberlanjutan dan penilaian investor memasukkan dampak gizi sebagai bagian dari tata kelola. Kelima, keluarga dan sekolah membekali anak dengan literasi media supaya tidak sekadar menjadi sasaran iklan.

Baca Juga:
Tim Gegana Ungkap Handak Mercon yang Tewaskan 1 Remaja di Ponorogo

Penutup

Anak yang merengek di depan layar tadi bukan hanya pembeli hari ini. Ia juga calon pelanggan sekaligus warga negara di masa depan. Perusahaan yang hanya melihatnya sebagai target penjualan mungkin meraup untung sesaat, tetapi sedang melemahkan kepercayaan yang menopang nilainya sendiri. Laba saja tidak cukup. Nilai sebuah perusahaan juga tercermin dari kesehatan orang-orang yang mengonsumsi produknya.

Daftar Pustaka

Hidayat, D. F. N., & Farida, F. (2021). Pengaruh pengungkapan corporate social responsibility, good corporate governance, profitabilitas dan ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan. UMMagelang Conference Series, 748-764. https://journal.unimma.ac.id/conference/article/view/6014

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, 31 Januari). Cegah meningkatnya diabetes, jangan berlebihan konsumsi gula, garam, lemak. https://www.kemkes.go.id/id/cegah-meningkatnya-diabetes-jangan-berlebihan-konsumsi-gula-garam-lemak

Lawani, I., Ishak, I. M., & Pakaya, S. I. (2023). Pengaruh good corporate governance terhadap nilai perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2018-2021. JAMBURA: Jurnal Ilmiah Manajemen dan Bisnis, 5(3), 902-910. https://doi.org/10.37479/jimb.v5i3.17944

Prisie, M. Y. N. (2026). Kemenkes-Komdigi batasi iklan produk tinggi gula, garam dan lemak. ANTARA. https://megapolitan.antaranews.com/berita/410157/kemenkes-komdigi-batasi-iklan-produk-tinggi-gula-garam-dan-lemak

Rahma, A., Rahma, N., Maulaya, N., Yunaningsih, S., & Pulungan, R. M. (2025). Pengaruh iklan makanan dan minuman di berbagai media terhadap preferensi dan konsumsi makanan anak-anak: Tinjauan sistematis. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas, 10(3), 105-117. https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/jekk/article/view/26881