Portal Jatim

Di Balik Kemegahan Jembatan Kaca Bromo, Vendor dan Kontraktor Mengaku Terlilit Utang akibat Pembayaran Belum Tuntas

Redaksi
×

Di Balik Kemegahan Jembatan Kaca Bromo, Vendor dan Kontraktor Mengaku Terlilit Utang akibat Pembayaran Belum Tuntas

Sebarkan artikel ini

PROBOLINGGO – Kemegahan Jembatan Kaca Seruni Point di kawasan Gunung Bromo yang dipromosikan sebagai destinasi wisata unggulan menyisakan persoalan bagi sejumlah pihak yang terlibat dalam pembangunannya. Sejumlah vendor dan kontraktor mengaku hingga kini masih menunggu penyelesaian pembayaran atas pekerjaan yang telah mereka laksanakan.

Di balik megahnya bangunan yang menjadi daya tarik wisata tersebut, para pelaku usaha mengaku menghadapi tekanan finansial karena hak pembayaran mereka disebut belum diterima secara penuh. Kondisi itu bahkan membuat sebagian dari mereka harus menanggung utang akibat modal yang dikeluarkan selama proses pembangunan.

Salah seorang vendor, Suhada, pemilik sebuah toko penyedia material, mengatakan pihaknya ikut mendukung proyek tersebut dengan harapan dapat berkontribusi dalam pembangunan destinasi wisata nasional. Demi memenuhi kebutuhan proyek, ia mengaku harus mencari tambahan modal dari berbagai sumber.

“Kami datang dengan semangat untuk berkontribusi pada proyek strategis nasional. Kami kerahkan semua sumber daya, meminjam modal sana-sini demi mengejar target waktu. Tapi setelah jembatan berdiri megah, hak kami justru terabaikan,” ujar Suhada, Senin (7/7/2026).

Menurutnya, seluruh kewajiban sebagai pemasok telah dipenuhi sesuai kesepakatan. Namun hingga kini pembayaran yang dijanjikan disebut belum diselesaikan secara penuh.

Keluhan serupa juga disampaikan perwakilan kontraktor pelaksana. Mereka mengaku berada dalam posisi sulit karena terus mendapat tuntutan pembayaran dari para vendor, sementara pencairan dana dari pihak pemberi kerja disebut belum tuntas. Bahkan, mereka menyebut sempat terjadi pemutusan kontrak dalam proses pekerjaan.

“Kami seperti buah simalakama. Kami ditagih setiap hari oleh vendor, sementara kami sendiri masih menunggu kejelasan pembayaran. Kami sudah berupaya menempuh jalur komunikasi, namun jawaban yang didapat selalu sama, ‘tunggu dan bersabar’,” ungkap perwakilan kontraktor.

Kondisi tersebut dinilai menimbulkan tekanan ekonomi bagi pelaku usaha yang terlibat dalam proyek. Mereka berharap ada penyelesaian yang jelas agar kewajiban pembayaran dapat segera direalisasikan.

Baca Juga:
Partai Gelora Perkuat Konsolidasi Tapal Kuda, Siapkan Kader Hadapi Pemilu 2029

Hingga berita ini disusun, pihak pemberi kerja maupun instansi terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai persoalan yang disampaikan para vendor dan kontraktor, termasuk mekanisme penyelesaian pembayaran yang masih dipersoalkan.

Para pihak yang menyampaikan keluhan berharap adanya mediasi yang terbuka dan transparan sehingga hak-hak mereka dapat dipenuhi sesuai perjanjian kerja.

“Kami tidak meminta lebih. Kami hanya menagih apa yang memang menjadi hak kami sesuai pekerjaan, keringat, dan modal yang sudah kami keluarkan. Jangan sampai kami bangkrut karena proyek yang seharusnya menjadi kebanggaan,” tutupnya.

Kasus ini masih menyisakan tanda tanya mengenai penyelesaian kewajiban pembayaran proyek Jembatan Kaca Seruni Point. Publik kini menunggu klarifikasi dari pihak-pihak terkait agar persoalan tersebut dapat diselesaikan secara adil dan tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar bagi para pelaku usaha.