YOGYAKARTA – DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menilai pentingnya langkah terpadu dan kolaboratif untuk mengatasi permasalahan sampah di DIY, terutama pasca penutupan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan di Bantul pada awal 2026 mendatang.
Ketua Komisi C DPRD DIY Nur Subiyantoro mengatakan, selama TPST Piyungan masih beroperasi, penanganan sampah di DIY relatif lancar. Namun setelah penutupan tempat tersebut, berbagai persoalan akan mulai muncul, khususnya di Kota Yogyakarta yang memiliki keterbatasan lahan untuk menampung dan mengolah sampah.
Nur Subiyantoro menyampaikan itu dalam Forum Wartawan Unit DPRD DIY, yang digelar di Gedung DPRD DIY Jalan Malioboro, Kamis (13/11/2025). Acara juga menghadirkan narasumber praktisi lingkungan Sholahuddin, perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta, serta Sekretaris Komisi C DPRD DIY Amir Syarifuddin.
Menurutnya, penutupan TPST Piyungan bukan berarti permasalahan selesai. Ia minta Pemda DIY turut menangani kondisi pasca penutupan, mengingat timbunan sampah di lokasi tersebut masih berpotensi menghasilkan gas berbahaya bagi lingkungan. Selain itu, muncul praktik pembakaran sampah ilegal oleh masyarakat yang perlu segera ditindak.
Nur Subiyantoro menyambut baik langkah Pemda DIY yang telah menerima tawaran kerja sama pengelolaan sampah menjadi energi listrik, dan berharap program tersebut dapat menjadi solusi jangka panjang.
“Program ini harus dikawal semua pihak karena membutuhkan pasokan 1.000 ton sampah per hari serta koordinasi antar kabupaten dan kota,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa penanganan sampah tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Ia mengajak masyarakat dan media turut berperan aktif dalam mengedukasi publik agar lebih sadar dan peduli terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan DLH Kota Yogyakarta Ahmad Haryoko memaparkan strategi dan tantangan pengelolaan sampah di perkotaan. Ia mengungkapkan, Pemkot Yogyakarta menghadapi tantangan besar akibat keterbatasan lahan pengolahan dan rencana penutupan penuh TPST Piyungan pada 2026.
Saat ini, volume sampah di Kota Yogyakarta mencapai sekitar 332 ton per hari, sementara kemampuan pengolahan baru sekitar 200 ton per hari. Untuk mengatasinya, DLH memaksimalkan kinerja unit pengolahan sampah, serta bekerja sama dengan pihak swasta seperti ITF Bawuran milik Perumda Aneka Dharma Bantul.
Selain itu, DLH juga memperkuat program edukasi melalui gerakan “Mas JOS” (Masyarakat Jogja Sadar Olah Sampah), sosialisasi pemilahan sampah organik dan anorganik, serta pemberdayaan 689 bank sampah dan off-taker. Upaya ini diharapkan dapat menekan timbunan sampah sejak dari sumbernya dan meningkatkan kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan. (bams)











