Portal DIY

Peringati 80 Tahun Yogya Ibukota Revolusi, Eko Suwanto Ajak Masyarakat Kobarkan Nasionalisme

Portal Indonesia
×

Peringati 80 Tahun Yogya Ibukota Revolusi, Eko Suwanto Ajak Masyarakat Kobarkan Nasionalisme

Sebarkan artikel ini

 

​YOGYAKARTA – Yogyakarta memiliki sumbangsih sejarah yang sangat krusial bagi keberlangsungan Republik Indonesia di masa awal kemerdekaan. Sebagai bentuk refleksi sejarah, Ketua Komisi A DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan, Eko Suwanto, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk kembali mengobarkan semangat nasionalisme dan patriotisme dalam memperingati 80 tahun Yogyakarta sebagai Ibukota Revolusi.

​Eko mengingatkan pemindahan pusat pemerintahan dari Jakarta ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946 adalah langkah strategis Dwi Tunggal Soekarno-Hatta untuk mempertahankan kedaulatan RI yang saat itu terancam oleh pendudukan pasukan NICA (Belanda).

​”Momentum Yogyakarta sebagai ibukota Republik Indonesia, saat Presiden RI Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta naik kereta api ke Yogyakarta dan memimpin revolusi melawan penjajah, penting direfleksikan dan selalu diingat. Yogyakarta memiliki posisi strategis dalam menjaga kedaulatan RI,” ujar Eko Suwanto, Minggu (4/1/2026).

​Berdasarkan catatan Arsip Nasional, Yogyakarta menjalankan peran sebagai ibu kota negara selama hampir empat tahun, yakni sejak 4 Januari 1946 hingga 27 Desember 1949. Ia menjelaskan perpindahan tersebut dilakukan secara rahasia dan penuh risiko mengingat kondisi Jakarta yang sudah tidak aman.

​”Setibanya di Yogyakarta, rombongan Soekarno-Hatta dan para menteri sempat tinggal selama tujuh pekan di kompleks Pakualaman sembari menunggu perbaikan Gedung Agung yang saat itu rusak sepeninggal Jepang,” tambahnya.

​Eko juga menyoroti peran penting penyiaran dalam peristiwa ini. Langkah pemindahan tersebut diumumkan oleh Wakil Menteri Penerangan Mr. Ali Sastroamidjojo melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta tepat pada malam hari setelah rombongan presiden tiba.

​Selain faktor keamanan, keberhasilan Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan tak lepas dari dukungan penuh tokoh lokal. Eko menyampaikan rasa hormat yang mendalam atas peran Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KGPAA Pakualam VIII.

Baca Juga:
19 Kelompok Budaya di Sleman Peroleh Hibah Alat Musik Senilai Rp 238,6 Juta

​”Kita harus terus ingat dan matur nuwun atas keberanian luar biasa Sultan HB IX dan Pakualam VIII yang memberikan dukungan penuh serta memfasilitasi jalannya pemerintahan saat itu. Ada peran sejarah kebangsaan yang penting untuk terus disuarakan dari Yogyakarta,” tegasnya.

​Mengakhiri pernyataannya, Eko Suwanto menekankan nilai-nilai revolusi 1946 harus relevan dengan kehidupan masa kini. Ia mengajak masyarakat untuk meneladani langkah para pejuang dengan menjaga kedaulatan bangsa di segala lini.

​”Meneladani langkah para pejuang revolusi bisa kita jalankan dengan menumbuhkan rasa cinta tanah air, menjaga persatuan, dan berusaha mewujudkan kehidupan rakyat yang lebih makmur dan sejahtera. Mari kita jaga kedaulatan bangsa ini bersama-sama,” pungkas Eko. (bams)