MAGELANG – Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan pentingnya penguatan kemandirian pangan daerah dalam menghadapi tantangan ketahanan nasional. Hal itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) yang digelar Lemhannas RI di Akademi Militer Magelang, Kamis (16/4).
Dalam paparannya, Amran mengungkapkan bahwa stok beras nasional saat ini mencapai sekitar 4,8 juta ton, yang disebut sebagai salah satu capaian tertinggi dalam sejarah Indonesia. Capaian tersebut diraih di tengah jumlah penduduk yang terus meningkat.
Menurutnya, keberhasilan di sektor pangan tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga pemangku kepentingan lainnya. “Keberhasilan tidak dapat dicapai sendiri. Harus melalui kerja sama,” ujarnya.
Selain peningkatan produksi, pemerintah juga mengarahkan kebijakan pada penguatan hilirisasi pertanian. Komoditas seperti kelapa, sawit, kakao, dan kopi dinilai memiliki potensi besar untuk meningkatkan nilai tambah apabila dikembangkan melalui industri hilir.
Tak hanya itu, sektor pertanian juga didorong untuk mendukung kemandirian energi melalui pengembangan biofuel dan biodiesel. Pemerintah menargetkan pengembangan bahan bakar nabati hingga B50, B70, bahkan B100.
“Jika harga CPO turun, kita manfaatkan untuk biofuel. Kalau harga naik, kita dorong ekspor untuk menambah devisa,” jelasnya.
Amran juga menekankan pentingnya peran DPRD dan pemerintah daerah dalam memastikan kebijakan berjalan efektif di lapangan. Melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan, DPRD diharapkan mampu mengawal program strategis agar berdampak langsung pada kesejahteraan petani.
Kegiatan KPPD ini sendiri bertujuan memperkuat kapasitas pimpinan DPRD dalam memahami isu-isu strategis nasional serta meningkatkan kemampuan analisis kebijakan di daerah. (crs)











