YOGYAKARTA – Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) D.I. Yogyakarta (DIY) mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun 2025. Dalam laporan Public Expose tahunan bertajuk “Inovasi Berdampak dan Berkelanjutan”, Lazismu DIY berhasil menghimpun dana Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) sebesar Rp 64,2 miliar.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Bidang Fundraising dan Kerjasama, Purnomo, Jumat (6/3/2026) sore.
Dari total penghimpunan tersebut, Lazismu DIY disebutkan telah menyalurkan dana sebesar Rp 45,2 miliar yang menyasar 75.961 penerima manfaat di pelbagai wilayah DIY.
Menurut Purnomo pengelolaan dana dilakukan secara transparan dan akuntabel melalui sistem pencatatan serta audit berkala. “Lazismu DIY secara konsisten meraih opini audit Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) sejak tahun 2018 hingga 2024,” katanya.
Berdasarkan data laporan, sektor infak tidak terikat menjadi kontributor terbesar dengan nilai mencapai Rp22,57 miliar. Disusul oleh infak terikat sebesar Rp14,93 miliar, zakat maal Rp12,92 miliar, qurban Rp7,98 miliar, serta zakat fitri Rp4,31 miliar. Selain itu, terdapat pemasukan dari dana CSR senilai Rp608 juta dan DSK lainnya sebesar Rp849 juta.
Dalam hal penyaluran, lanjut Purnomo, kelompok fisabilillah menerima alokasi terbesar yakni Rp4,97 miliar, diikuti masyarakat miskin sebesar Rp4,11 miliar. Penyaluran lainnya juga menyasar fakir, ibnu sabil, muallaf, gharim, hingga riqab.
Purnomo menyebutkan Lazismu DIY membagi penyaluran dana ke dalam enam pilar utama. Pilar sosial dakwah menempati posisi teratas dengan serapan dana Rp8,46 miliar. Sementara itu, pilar pendidikan menyerap Rp6,02 miliar yang diberikan kepada 5.853 penerima manfaat.
Di sektor kesehatan, bantuan senilai Rp1,9 miliar telah disalurkan kepada 13.487 orang. Pilar-pilar lain seperti kemanusiaan (Rp4,58 miliar), ekonomi (Rp1,81 miliar), dan lingkungan (Rp603 juta) juga menjadi fokus penguatan kesejahteraan masyarakat.
Meski indikator pembangunan manusia di DIY tergolong baik, Purnomo menyoroti masih adanya celah kerentanan sosial. Tercatat masih ada 5,99 persen penduduk usia di atas lima tahun yang belum pernah bersekolah dan 8,98 persen warga yang belum memiliki jaminan kesehatan.
Kondisi tersebut, menjadi alasan kuat bagi Lazismu DIY untuk terus memperkuat instrumen filantropi Islam. Ke depan, Lazismu DIY berkomitmen meningkatkan inovasi program dan penguatan sistem digital.
”Kami akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra agar manfaat yang diberikan dapat berdampak jangka panjang dan berkelanjutan bagi masyarakat,” pungkas Purnomo (bams)











