Portal Jatim

HKTI Probolinggo Latih Pengurus Produksi Obat Pertanian Mandiri, Siapkan Petani Lebih Berdaya

Redaksi
×

HKTI Probolinggo Latih Pengurus Produksi Obat Pertanian Mandiri, Siapkan Petani Lebih Berdaya

Sebarkan artikel ini
Pengurus HKTI se-Kabupaten Probolinggo mengikuti pelatihan pembuatan obat pertanian dan produk rumah tangga dalam kegiatan konsolidasi di Gedung Masada, Pajarakan.

PROBOLINGGO – Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Probolinggo mengambil langkah baru dalam upaya memperkuat kapasitas organisasi sekaligus meningkatkan kemandirian anggotanya.

Melalui kegiatan konsolidasi yang digelar di Gedung Masada, Desa Karanggeger, Kecamatan Pajarakan, seluruh pengurus HKTI tingkat kecamatan dikumpulkan untuk mengikuti pembekalan sekaligus pelatihan pemberdayaan berbasis praktik.

Ketua DPC HKTI Kabupaten Probolinggo, Ir. Agus Salehuddin, mengatakan bahwa agenda tersebut tidak hanya berfokus pada penguatan struktur organisasi, tetapi juga membekali para pengurus dengan keterampilan yang dapat diterapkan langsung di lapangan.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan cara membuat berbagai kebutuhan pertanian secara mandiri. Materi yang diberikan meliputi pembuatan insektisida, fungisida, herbisida, Jadam Wetting Agent (JWA) atau perekat jadam, hingga Jadam Sulfur.

Selain sektor pertanian, peserta juga mendapatkan pelatihan pembuatan sabun cuci piring dan sabun cuci pakaian yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga.

“Kegiatan ini merupakan bentuk pemberdayaan pengurus HKTI dengan terobosan baru, yaitu langsung mempraktikkan cara membuat obat-obatan pertanian sendiri,” ujar Agus Salehuddin, Minggu (31/5/2026).

Menurutnya, program tersebut merupakan langkah awal menuju kemandirian petani dalam memenuhi kebutuhan sarana produksi pertanian tanpa harus bergantung sepenuhnya pada produk pabrikan.

HKTI Kabupaten Probolinggo juga menyiapkan program lanjutan berupa pelatihan di masing-masing kecamatan. Fokus berikutnya adalah pengembangan kemampuan pengurus dalam memproduksi pupuk organik dan kompos secara mandiri.

“Tujuannya agar pengurus di tingkat kecamatan nantinya mampu memproduksi obat-obatan pertanian secara mandiri,” tambah Agus.

Sementara itu, pelatihan pembuatan sabun rumah tangga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan internal anggota terlebih dahulu. Selain meningkatkan keterampilan, langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi beban pengeluaran keluarga.

“Kami masih menunggu proses perizinannya. Untuk saat ini, hasilnya masih digunakan untuk kalangan sendiri,” pungkasnya.