YOGYAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta memprediksi musim kemarau tahun 2026 di wilayah DIY berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal klimatologis.
Kepala Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta, Reni Kraningtyas, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer dan laut, termasuk potensi munculnya fenomena El Nino lemah hingga moderat sampai akhir tahun 2026.
Dalam siaran pers perkembangan iklim yang diperbarui pada 31 Mei 2026, BMKG menyebutkan angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator saat ini bertiup dari timur yang menandakan Monsun Australia aktif. Sementara itu, indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) berada dalam kondisi lemah dan diperkirakan terus berkembang hingga akhir tahun.
Selain itu, Dipole Mode Indeks (DMI) diprediksi mulai memasuki fase positif sejak Juli 2026 hingga akhir tahun, sedangkan Madden Julian Oscillation (MJO) diperkirakan tidak aktif di wilayah Indonesia.
BMKG juga mencatat anomali suhu muka laut di perairan selatan DIY berada pada kategori netral, yakni antara minus 0,5 derajat Celsius hingga 0,5 derajat Celsius dengan suhu berkisar 26 hingga 29 derajat Celsius.
Untuk prediksi hujan dasarian, curah hujan pada dasarian I Juni 2026 diperkirakan berada pada kategori rendah antara 0 hingga 50 mm per dasarian dengan sifat hujan umumnya normal. Pada dasarian II Juni, curah hujan diprediksi berkisar 10 hingga 50 mm per dasarian dengan sifat hujan normal. Sedangkan dasarian III Juni diprediksi tetap rendah, yakni 0 hingga 50 mm per dasarian dengan sifat hujan bawah normal.
BMKG memperkirakan curah hujan selama tiga bulan ke depan di DIY cenderung rendah. Pada Juni 2026, curah hujan diprediksi berkisar 21 hingga 100 mm per bulan dengan sifat hujan bawah normal hingga normal. Memasuki Juli 2026, curah hujan diperkirakan turun menjadi 0 hingga 50 mm per bulan dengan sifat hujan seluruhnya bawah normal. Kondisi lebih kering diprediksi terjadi pada Agustus 2026 dengan curah hujan hanya 0 hingga 20 mm per bulan.
BMKG menyebutkan sebanyak tujuh Zona Musim (ZOM) atau 87,5 persen wilayah DIY diprediksi mengalami sifat hujan bawah normal selama musim kemarau 2026, sedangkan satu ZOM lainnya diperkirakan normal.
“Puncak musim kemarau 2026 diprediksi terjadi pada Agustus 2026 di seluruh ZOM di D.I. Yogyakarta,” tulis BMKG dalam keterangannya.
Durasi musim kemarau di DIY diperkirakan berlangsung antara 19 hingga 21 dasarian di sebagian besar wilayah. Adapun akhir musim kemarau diprediksi terjadi pada dasarian I dan II November 2026.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak musim kemarau, terutama potensi kekeringan meteorologis, kebakaran hutan dan lahan, serta berkurangnya ketersediaan air bersih.
BMKG juga meminta masyarakat mewaspadai potensi kekeringan ekstrem pada periode Juli hingga Oktober 2026 serta menyesuaikan pola tanam agar tidak terjadi gagal panen.
“Masyarakat dan wilayah yang rentan terhadap kekeringan meteorologis diharapkan mengambil langkah antisipatif melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien,” demikian imbauan BMKG.
BMKG Stasiun Klimatologi DIY meminta masyarakat terus memperbarui informasi cuaca dan iklim melalui kanal resmi media sosial maupun laman resmi BMKG (bams)











