Portal Jatim

Viral Pasien Meninggal diduga Minim Edukasi, Dirut RSUD dr. R Soedarsono Beri Klarifikasi hingga Lakukan Evaluasi Menyeluruh

Redaksi
×

Viral Pasien Meninggal diduga Minim Edukasi, Dirut RSUD dr. R Soedarsono Beri Klarifikasi hingga Lakukan Evaluasi Menyeluruh

Sebarkan artikel ini
Klarifikasi Direktur RSUD dr. R Soedarsono, dr. Adi Widianto (tengah) didampingi dua pegawainya di ruang rapat manajemen

PASURUAN – Menanggapi pemberitaan yang beredar terkait meninggalnya salah satu pasien di RSUD dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan, dalam hal ini pihak manajemen rumah sakit menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas wafatnya almarhum sekaligus menyampaikan klarifikasi atas informasi yang berkembang.

Adapun pernyataan itu disampaikan langsung oleh Direktur RSUD dr. R Soedarsono, Kota Pasuruan, dr Adi Widianto, M.H., Kes., dengan didampingi pihak Humas dan juga Bagian Tata Usaha dari rumah sakit setempat saat ditemui di ruang rapat internal manajemen, pada Selasa (9/6/2026) siang.

“Pertama tama kami turut berbelasungkawa dan mendoakan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Dan buat pihak keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan dan juga ketabahan,” ucap pihak direktur rumah sakit dihadapan para awak media yang hadir.

Sehubungan dengan meninggalnya pasien lantaran diduga kurangnya transparansi atau informasi soal hasil diagnosa kepada keluarga pasien, pihak RSUD dr. R. Soedarsono menegaskan bahwa seluruh proses Pelayanan Kesehatan terhadap pasien telah dilaksanakan sesuai standar profesi, standar pelayanan profesi, standar prosedur operasional, dan etika profesi, serta kebutuhan Kesehatan Pasien.

Disamping itu, pihak manajemen rumah sakit juga mengaku telah melakukan penelusuran internal terhadap rekam medis guna memastikan bahwa edukasi atau penyampaian informasi oleh tenaga medis dan tenaga kesehatan kepada pihak keluarga dan itu menurutnya sudah dilakukan berdasarkan mekanisme yang berlaku.

“Hasil telaah awal menunjukkan bahwa pasien telah mendapatkan pelayanan diantaranya pemeriksaan fisik, penunjang, diagnosis, pengobatan, serta rencana dan tindakan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien. Rumah sakit juga memiliki mekanisme edukasi pasien dan keluarga sebagai bagian dari pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan,” jelasnya.

Baca Juga:
Janji Kerja di Rumah Sakit Tak Kunjung Nyata, 17 Pencaker di Pasuruan Polisikan Agen Outsourcing

Kemudian dalam memahami adanya perbedaan persepsi mengenai informasi medis yang diterima oleh pihak keluarga, pihak rumah sakit sendiri juga memahami hal itu. Oleh karena itu, RSUD siap membuka ruang komunikasi dan klarifikasi secara langsung dengan keluarga pasien agar seluruh informasi dapat dijelaskan secara utuh berdasarkan data rekam medis yang lengkap dan objektif.

“Perlu dipahami bahwa kondisi pasien dengan penyakit kronis maupun penyakit penyerta sering kali dipengaruhi berbagai faktor medis yang kompleks. Penentuan penyebab perburukan kondisi pasien, itu tidak dapat disimpulkan hanya dari satu faktor tertentu tanpa melalui kajian medis yang komprehensif,” terangnya.

Sebagai bentuk komitmen terhadap mutu pelayanan dan keselamatan pasien, pihak RSUD dr. R. Soedarsono telah membentuk tim internal untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek pelayanan, komunikasi efektif, serta edukasi pasien dan keluarga guna memastikan pelayanan yang diberikan semakin optimal.

“Kami berkomitmen menjaga transparansi, profesionalisme, dan keselamatan pasien. Apabila ditemukan area yang perlu diperbaiki, maka akan menjadi bahan evaluasi dan peningkatan mutu pelayanan rumah sakit,” tutur dr. Adi Widianto.

Kembali disinggung soal pihak rumah sakit diduga tidak menyampaikan sepenuhnya hasil diagnosa pasien kepada pihak keluarga, pihak rumah sakit pun membantah dan menganggap adanya miskomunikasi sehingga edukasi yang disampaikan kurang bisa diterima sepenuhnya oleh pihak keluarga.

Kesalahpahaman atau ketidakpahaman mengenai dunia medis, menurut dr Adi Widianto terkadang menjadi salah satu faktor utama bahwa apa yang disampaikan oleh tim medis dengan panjang lebar kemungkinan kurang bisa ditangkap atau dipahami betul oleh pasien ataupun pihak keluarga.

“Kita memaklumi mungkin karena keluarga kondisi lagi panik, bingung atau keterbatasan dalam pengetahuan medis adalah hal yang wajar. Tapi kalau kita ngomong diagnosa mohon maaf, meskipun kita semua dekat dengan pihak keluarga gak bisa karena itu kode etik baik sebagai dokter atau perawat. Sehingga rumah sakit merahasiakan itu (hasil diagnosa), kecuali kepada istri atau anak yang berhubungan langsung dengan pasien,” terang Direktur RSUD dr. R Soedarsono.

Baca Juga:
Eddy Paripurna Ajak Ansor dan Banser Pohjentrek Perkuat Peran Keagamaan dan Kebangsaan

Lebih lanjut, dr. Adi Widianto kembali menjelaskan. “Jadi intinya kita sudah melakukan SOP atau rekam medisnya, dan kita ada buktinya. Kan disitu ada lembar pengisian edukasi kemudian ada tanda tangan dari keluarga, jadi kita menyampaikan ini itu juga ada datanya,” imbuhnya.

Sedangkan terkait meninggalnya pasien lantaran diasumsikan terlalu banyak minum air karena ada penyakit jantung yang di deritanya, pihak rumah sakit menjelaskan bahwa itu tidak ada kaitannya dengan penyakit atau kematian dari pasien tersebut.

“Mengenai permasalahan yang diasumsikan minum yang berlebihan, itu tidak ada hubungan dengan penyakit atau kematian beliau. Sebanyak-banyaknya minum untuk orang sakit, ini saya menyampaikan sesuai logika orang sakit itu minum sedikit sedikit aja atau satu teguk aja itu memaksa. Iya kan,” pungkas dr. Adi Widianto, dihadapan para awak media.

Sebagai bentuk perhatian atau empati kepada pihak keluarga pasien yang sedang dalam berduka, pihak RSUD dr. R Soedarsono juga berencana akan melayat ke rumah duka sekaligus mengucapkan rasa belasungkawa atas meninggalnya pasien tersebut.

Demikian atas pernyataan resmi yang disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen RSUD dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan, dalam memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat. (Eko)