Portal Jateng

Kenaikan Pertamax Picu Gelombang Migrasi ke Pertalite di Banyumas

Portal Indonesia
×

Kenaikan Pertamax Picu Gelombang Migrasi ke Pertalite di Banyumas

Sebarkan artikel ini
Antrian pemotor membeli Pertalite di SPBU Jalan Pahlawan Tanjung, Purwokerto Selatan, Kamis (11/6) siang (Portal Indonesia/Tris'n)

PURWOKERTO – Kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax RON 92 menjadi Rp16.250 per liter mulai Rabu (10/6) memicu keluhan masyarakat di Kabupaten Banyumas dan Kota Purwokerto.

Lonjakan harga hampir Rp4.000 per liter membuat banyak pengendara memilih beralih ke Pertalite guna menekan pengeluaran harian.

Mardi (53), warga Purwokerto, mengaku terkejut saat mengetahui harga Pertamax naik signifikan. Informasi tersebut ia peroleh dari pemberitaan yang dibacanya pada pagi hari.

“Saya kaget, bangun tidur baca berita, tahu-tahu Pertamax sudah naik tinggi sekali,” ujarnya.

Menurut Mardi, kenaikan harga BBM berpotensi memicu kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup lainnya. Kondisi tersebut dinilai semakin memberatkan masyarakat yang saat ini masih menghadapi tekanan ekonomi.

“Biasanya kalau BBM naik, harga kebutuhan lain ikut naik. Dampaknya pasti terasa ke banyak sektor,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Santi (48), warga Purwokerto Utara. Dengan penghasilan yang setara Upah Minimum Regional (UMR), ia mengaku harus lebih cermat mengatur pengeluaran rumah tangga setelah harga Pertamax melonjak.

“Jualan sedang sepi, harga-harga naik. Mau tidak mau sekarang isi Pertalite supaya lebih hemat,” tuturnya.

Kenaikan harga Pertamax juga berdampak pada pola konsumsi BBM masyarakat. Petugas SPBU di Jalan Pahlawan, Tanjung, Purwokerto Selatan, membenarkan bahwa sejak harga baru berlaku pada Rabu malam pukul 00.00 WIB, pengguna Pertamax mulai beralih ke Pertalite.

“Pengguna Pertamax banyak yang pindah ke Pertalite karena selisih harganya cukup jauh, hampir Rp4.000 per liter,” ungkap salah satu petugas SPBU.

Akibatnya, antrean kendaraan di jalur pengisian Pertalite di sejumlah SPBU terlihat semakin padat. Padahal, sebelum kenaikan Pertamax, permintaan Pertalite sudah tergolong tinggi setiap harinya.

Sementara itu, PT Pertamina Patra Niaga menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi hanya memberikan dampak terbatas terhadap mayoritas masyarakat.

Baca Juga:
Satreskrim Polres Probolinggo Raih Penghargaan Kapolda Jatim Usai Bongkar Penyalahgunaan BBM Subsidi

Pasalnya, konsumsi BBM di wilayah Jawa Bagian Tengah masih didominasi oleh Pertalite dan Biosolar yang harganya tidak mengalami perubahan.

Area Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, menjelaskan bahwa konsumsi Pertalite mencapai 73,3 persen dari total penggunaan gasoline masyarakat. Adapun konsumsi Biosolar pada segmen gasoil mencapai 96,6 persen.

Meski demikian, lonjakan harga Pertamax tetap memunculkan kekhawatiran di kalangan pengguna kendaraan pribadi. Banyak warga berharap kondisi ekonomi segera membaik dan harga energi dapat kembali stabil agar daya beli masyarakat tidak semakin tertekan. (trs)

Alternatif judul yang lebih menarik:
Harga Pertamax Tembus Rp16.250, Warga Banyumas Beralih ke Pertalite
Pertamax Naik Tajam, Antrean Pertalite Mengular di SPBU Banyumas
BBM Nonsubsidi Melonjak, Pengguna Pertamax Ramai-Ramai Tinggalkan SPBU Premium
Kenaikan Pertamax Picu Gelombang Migrasi ke Pertalite di Banyumas
Dampak Harga Pertamax Rp16.250: Warga Hemat, Pertalite Kian Diburu