SURABAYA – Sebuah logo bertuliskan “Jogoperak” kini menjadi simbol pesan kebersamaan di lingkungan Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Di balik tampilannya yang sederhana, istilah tersebut membawa pesan kuat tentang pentingnya menjaga nama baik, kehormatan, dan marwah institusi.
Secara harfiah, kata “jogo” dalam bahasa Jawa berarti menjaga. Sementara “Perak” merujuk pada Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Jika dimaknai lebih luas, “Jogoperak” menjadi pengingat bahwa institusi kepolisian bukan sekadar tempat menjalankan pekerjaan, melainkan rumah bersama yang harus dirawat oleh seluruh personel.
Pesan itu dirangkum dalam ungkapan sederhana yang sarat makna persaudaraan:
“Tak titipno Polres Pelabuhan Tanjung Perak, teko beboyo yo lur.”
Ungkapan tersebut mengandung pesan agar setiap personel memiliki rasa ikut memiliki terhadap institusi. Dengan demikian, menjaga nama baik Polres Pelabuhan Tanjung Perak bukan hanya menjadi tanggung jawab pimpinan, tetapi juga kewajiban bersama seluruh anggota.
Semangat “Jogoperak” tersebut sejalan dengan instruksi Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak AKBP Irwan Kurniawan, S.I.K., melalui jajaran Pejabat Utama (PJU).
Apresiasi terhadap gagasan dan karya logo “Jogoperak” juga disampaikan Kasat Resnarkoba Polres Pelabuhan Tanjung Perak AKP A.A. Putrawan, S.H., M.H.
Menurut Putrawan, “Jogoperak” tidak semestinya dipandang sebatas logo. Lebih dari itu, istilah tersebut merupakan pengingat moral bagi seluruh personel agar ikut menjaga tempat mereka bertugas dan mengabdi.
“Ayo lur, Jogoperak bareng-bareng. Inilah sawah ladang kita bersama, tempat kita bertugas dan mengabdi. Maka sudah sepatutnya kita jaga bersama dengan penuh keikhlasan,” ujar Putrawan.
Ia mengungkapkan, selama kurang lebih delapan hingga sembilan bulan bertugas di Polres Pelabuhan Tanjung Perak, dirinya mulai memiliki ikatan emosional yang kuat dengan institusi tersebut.
Polres Pelabuhan Tanjung Perak, kata dia, bahkan telah dianggap seperti rumah sendiri. Rutinitas pekerjaan membuatnya hampir setiap hari menyelesaikan tugas hingga larut malam.
Konsekuensinya, tidak jarang waktu bersama keluarga harus dikorbankan demi menuntaskan tanggung jawab sebagai anggota Polri.
“Saya bertugas di Polres Pelabuhan Tanjung Perak ini sudah hampir delapan sampai sembilan bulan. Polres ini sudah saya anggap seperti rumah saya sendiri. Setiap hari saya pulang larut malam, bahkan terkadang harus mengorbankan waktu bersama keluarga di rumah,” ungkapnya.
Bagi Putrawan, pengorbanan tersebut merupakan bagian dari konsekuensi pengabdian. Menurutnya, setiap tugas yang dijalankan dengan penuh tanggung jawab merupakan bentuk upaya memberikan yang terbaik bagi institusi dan Polri.
“Semua itu saya anggap sebagai bagian dari pengabdian untuk memberikan yang terbaik kepada Polri,” imbuhnya.
Ia menambahkan, pengabdian tidak selalu berujung pada penghargaan atau pujian. Ada proses panjang yang menuntut loyalitas, keikhlasan, disiplin, serta tanggung jawab dalam menjalankan amanah.
Karena itu, perjuangan yang dilakukan dengan niat baik diyakini akan memberikan dampak positif bagi institusi.
Pada akhirnya, “Jogoperak” diharapkan tidak berhenti sebagai identitas visual maupun slogan. Ia diharapkan tumbuh menjadi semangat kolektif yang melekat dalam keseharian personel.
Sebab, menjaga nama baik Polres Pelabuhan Tanjung Perak bukan hanya tentang mempertahankan citra institusi di mata publik. Lebih dari itu, setiap personel memiliki tanggung jawab untuk merawat kepercayaan, kehormatan, dan marwah tempat mereka mengabdi.
Meta deskripsi: Jogoperak menjadi simbol kebersamaan personel Polres Pelabuhan Tanjung Perak untuk menjaga nama baik dan marwah institusi.
Tag: Jogoperak, Polres Pelabuhan Tanjung Perak, AKBP Irwan Kurniawan, AKP A.A. Putrawan, Polri, Surabaya











