BANYUMAS – Tim dosen Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) berkolaborasi dengan Pemerintah Desa Karangsalam Kidul, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, menginisiasi program Pengembangan Smart Village Berbasis Agroindustri Kelapa.
Langkah ini diawali dengan mentransformasi sebidang lahan tidur seluas kurang lebih 10.023 meter persegi menjadi kebun percontohan (demplot) pertanian cerdas (smart farming).
Program yang didanai melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat BLU Unsoed 2026 ini dipimpin oleh Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D. dengan anggota Prof. Dr. Ir. Sakhidin, M.P;Karseno, S.P., M.P., Ph.D., Dr. Dyah Susanti, S.P., M.P., Dr. Mustaufik, S.P., M.P., Arief Sudarmaji, S.T., M.T., Ph.D., Dr. Furqon, S.TP., M.Si., Indah Widyarini, S.P., M.Sc., Ratna Satriani, S.P., M.Sc., Risqa Naila Khusna Syarifah, S.P., M.P., David Rusliman, S.T.P., M.T.P., Indah Setyawati,S.P.,M.P dan Simbar Sulanjari Susanto, S.P., M.Sc.
Pendekatan yang diusung mengadopsi model Integrated Smart Agro-Industry, yakni mengintegrasikan sektor hulu (Smart Farming) dan hilir (Smart Economy) dalam satu rantai bisnis terpadu yang dikelola desa.
Solusi atas Praktik Pertanian Konvensional
Desa Karangsalam Kidul yang berkarakter agraris memiliki potensi besar sebagai penyangga strategis Kabupaten Banyumas. Namun, pemanfaatan lahan pekarangan dan lahan tidur di desa ini selama ini dinilai belum optimal dan cenderung konvensional.
Praktik budidaya terdahulu yang mengandalkan intuisi petani sering kali memicu ketidakpresisian dalam pemupukan dan penyiraman. Akibatnya, terjadi pemborosan air serta ketidakseragaman pertumbuhan tanaman.
Selain itu, BUMDes Karangsalam Kidul selama ini sebatas berperan sebagai pengumpul komoditas mentah dengan margin keuntungan rendah. Terlebih, keterbatasan teknologi pascapanen membuat produk lokal bermasa simpan pendek dan sulit menembus pasar ritel modern.
Unsoed Sulap Lahan Tidur Karangsalam Kidul Jadi “Smart Village” Berbasis Agroindustri Kelapa
Sebagai tanaman utama, tim memilih kelapa genjah karena memiliki masa panen yang relatif cepat, yakni sekitar tiga hingga empat tahun. Posturnya yang lebih pendek mempermudah perawatan dan pemanenan dibanding jenis kelapa dalam.
Untuk mengoptimalkan lahan selama menunggu kelapa berbuah, area sela dimanfaatkan dengan pola tumpang sari menggunakan tanaman hortikultura, empon-empon, padi gogo, hingga jagung.
Pola ini dirancang agar desa mendapatkan aliran pendapatan sejak musim tanam awal.

Penerapan Irigasi Presisi Cerdas (Hybrid Irrigation)
Guna mengatasi perbedaan kebutuhan air antarjenis tanaman dan mencegah kompetisi air, tim Unsoed menerapkan sistem irigasi kombinasi (hybrid irrigation system) berbasis Internet of Things (IoT).
Irigasi Tetes (Drip Irrigation): Diaplikasikan pada tanaman utama kelapa genjah untuk menyalurkan air dan nutrisi secara terukur langsung ke zona perakaran.
Irigasi Sprinkler: Diaplikasikan pada tanaman sela seperti padi gogo dan jagung untuk jangkauan distribusi air yang lebih merata.
Jaringan sensor IoT memantau kelembaban serta hara tanah secara real-time. Data ini menjadi dasar pemberian air dan pupuk sesuai kebutuhan aktual tanaman.
Inovasi ini ditargetkan meningkatkan efisiensi penggunaan air sebesar 20–30 persen dan efisiensi penyerapan pupuk hingga 40 persen.
Hilirisasi Modern: Gula Kelapa Kristal Bermutu Tinggi
Di sektor hilir, BUMDes Karangsalam Kidul disiapkan menjadi unit agroindustri modern dengan produk unggulan berupa gula kelapa kristal (gula semut).
Pendampingan pascapanen diarahkan mengikuti standar Good Manufacturing Practices (GMP) dan Prosedur Standar Sanitasi (SSOP). Produk dikemas menggunakan kemasan high-barrier yang tahan terhadap kelembapan, serta diuji laboratorium meliputi kadar air, profil nutrisi, hingga uji masa simpan Accelerated Shelf Life Testing (ASLT).
Ekosistem Digital dan Keberlanjutan
Sistem Smart Village ini dilengkapi dengan dashboard agribisnis desa untuk memantau riwayat produksi hingga manajemen stok BUMDes. Pengurus desa dan BUMDes juga dilatih dalam tata kelola e-commerce dan pemasaran digital dengan target konversi penjualan bulanan 3–5 persen.
Seluruh fasilitas dan aset teknologi nantinya diserahkan secara mandiri kepada BUMDes guna meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes). (*)











