Portal Jabar

Filosofi Apeman Keraton Kasepuhan Cirebon, Wujud Syukur dan Tolak Bala

Portal Indonesia
×

Filosofi Apeman Keraton Kasepuhan Cirebon, Wujud Syukur dan Tolak Bala

Sebarkan artikel ini

 

CIREBON –  Keraton Kasepuhan Cirebon menggelar tradisi Apeman sebagai bagian dari rangkaian peringatan bulan Safar. Tradisi tersebut menjadi wujud rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus ikhtiar spiritual dengan memanjatkan doa bersama agar dijauhkan dari segala musibah dan marabahaya.

Doa bersama dipimpin Penghulu Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Kiai Jumhur, serta diikuti keluarga keraton, abdi dalem, dan masyarakat.

Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Cirebon, PR Goemelar Soeryadiningrat, mengatakan tradisi Apeman memiliki makna mendalam sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT.

“Kami bersama-sama berdoa memohon perlindungan kepada Allah SWT agar dijauhkan dari tolak bala maupun marabahaya,” kata Goemelar, Sabtu (1/8/2026).

Ia menjelaskan, masyarakat selama ini mengenal bulan Safar sebagai bulan yang identik dengan berbagai bala atau musibah. Namun, menurutnya, musibah pada hakikatnya dapat terjadi kapan saja sehingga yang terpenting adalah terus mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa.

“Karena filosofi di bulan Safar menurut kepercayaan masyarakat itu biasanya banyak bala. Sebenarnya bala atau musibah tidak hanya terjadi di bulan Safar saja,” ujarnya.

Goemelar menuturkan, tradisi Apeman merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Keraton Kasepuhan Cirebon yang akan berlanjut dengan tradisi Rebo Wekasan pada 13 Agustus 2026.

Dalam tradisi tersebut, Keraton Kasepuhan akan menggelar sedekah kepada masyarakat melalui prosesi Tawurji sebagai bentuk kepedulian dan berbagi rezeki.

“Insyaallah pada 13 Agustus 2026 kami akan memberikan sedikit rezeki kepada masyarakat melalui rangkaian tradisi Rebo Wekasan. Ini menjadi bagian dari ikhtiar, doa, dan rasa syukur Keraton Kasepuhan kepada Allah SWT,” pungkasnya. (wan)

Baca Juga:
Keraton Kasepuhan Cirebon Peringati Nifsu Syaban Lewat Tradisi Rowahan