YOGYAKARTA – Forum Komunikasi Pimpinan Kemantren (Forkopimtren) Gedongtengen, Yogyakarta menggelar apel bersama lembaga kemasyarakatan dan organisasi lintas sektor di halaman Kemantren Gedongtengen, Rabu (29/4/2026). Selain penguatan wilayah, agenda ini difokuskan untuk memastikan keamanan kawasan Sumbu Filosofi Malioboro.
Kegiatan digagas Kapolsek Gedongtengen, AKP Yuliyanto SH ini mengusung tema “Sinergi Lintas Sektoral Menuju Gedongtengen Aman, Tertib, dan Berbudaya dalam Bingkai Sumbu Filosofi Malioboro”.
Langkah Strategis Pengamanan
AKP Yuliyanto menjelaskan apel ini merupakan langkah strategis memperkuat keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas), khususnya di kawasan Sumbu Filosofi Malioboro yang memiliki nilai historis, budaya, sekaligus pusat aktivitas ekonomi.
Ia berharap melalui apel bersama ini menjadi momentum saling menguatkan dan membangun komitmen bersama. “Kami akan menindaklanjutinya melalui sinergi berkelanjutan, termasuk patroli terpadu serta koordinasi rutin guna mengevaluasi situasi keamanan,” tegasnya.
Libatkan 15 Unsur Masyarakat
Mantri Pamong Praja Gedongtengen, Pargiyat, didampingi Danramil 14/Gedongtengen Kapten Inf Aluwar, menjelaskan apel melibatkan sedikitnya 15 unsur perwakilan masyarakat. Unsur-unsur tersebut meliputi Lembaga Kemasyarakatan: RT/RW, Ketua Kampung, Linmas, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Forum Pembauran Kebangsaan (FPK), Kampung Tangguh Bencana (KTB), hingga Redkar. Selain itu juga Organisasi Masyarakat seperti Banser dan Kokam. Apel juga melibatkan Lintas Budaya & Agama. Yakni perwakilan warga Papua, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), tokoh agama, tokoh masyarakat, serta organisasi kepemudaan.
”Keamanan wilayah bukan hanya tugas pemerintah, TNI, dan Polri, tetapi membutuhkan kesadaran serta partisipasi seluruh elemen masyarakat. Jika keamanan terjaga, sektor pariwisata akan tumbuh dan meningkatkan kesejahteraan warga,” jelas Pargiyat.
Fokus May Day
Tokoh masyarakat Gedongtengen sekaligus Anggota DPRD Kota Yogyakarta, Ipung Purwandari, menambahkan apel ini sangat krusial dalam menghadapi momentum May Day. Ia menekankan bahwa meski negara menjamin kebebasan beraspirasi, pelaksanaannya harus tetap tertib dan santun.
“Ini bentuk penghormatan terhadap hak aspirasi buruh, namun tetap harus dijaga agar berlangsung kondusif. Kami akan ikut menjaga dengan pendekatan budaya yang santun dan ramah agar wisatawan serta masyarakat tetap merasa nyaman beraktivitas,” tutur Ipung.
Dukungan serupa datang dari Kapten Inf Aluwar yang menyebut Yogyakarta sebagai miniatur Indonesia. Menurutnya, pelibatan elemen dari berbagai latar belakang adalah wujud nyata menjaga stabilitas keamanan dan persatuan bangsa.
Ikrar “Agawe Amane Jogja”
Sebagai puncak acara, seluruh peserta melakukan penandatanganan komitmen dan pembacaan ikrar bersama bertajuk “Semangat Gotong Royong Agawe Amane Jogja”. Dalam ikrar tersebut, elemen masyarakat Gedongtengen menyatakan komitmennya untuk menjaga kamtibmas dan mendukung pembangunan pemerintah daerah. Juga menjaga kebersihan, ketertiban lalu lintas, serta melestarikan nilai-nilai luhur Sumbu Filosofi Malioboro. Selain itu menolak keras segala bentuk kekerasan, tindakan anarkis, premanisme, maupun perbuatan yang dapat merusak citra pariwisata Yogyakarta.
Melalui sinergi lintas sektoral ini, Forkopimtren Gedongtengen optimis situasi di jantung Kota Yogyakarta akan tetap kondusif dan harmonis, baik dalam menyambut Hari Buruh maupun di tengah meningkatnya aktivitas wisata di kawasan Malioboro (bams)











