Portal Jateng

Hari Jadi ke-102 Desa Tuksari, Bupati Temanggung Ajak Generasi Muda Teladani Sejarah dan Lestarikan Budaya

Portal Indonesia
×

Hari Jadi ke-102 Desa Tuksari, Bupati Temanggung Ajak Generasi Muda Teladani Sejarah dan Lestarikan Budaya

Sebarkan artikel ini
Kirab budaya peringatan 102 hari jadi Desa Tuksari, Kecamatan Kledung, Temanggung (Foto: Sutarman untuk Portal Indonesia)

TEMANGGUNG – Peringatan Hari Jadi ke-102 Desa Tuksari, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, berlangsung semarak dengan kirab budaya, Festival 1.000 Ingkung, serta kendurian agung yang melibatkan ribuan warga, Sabtu (25/7/2026).

Momentum tersebut menjadi ajang memperkuat persatuan masyarakat sekaligus meneguhkan komitmen melestarikan warisan budaya dan sejarah desa.

Bupati Temanggung Agus Setyawan hadir bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), tokoh masyarakat, serta berbagai elemen warga.

Mengusung tema “Guyub Mbangun Desa, Lestari Budayane, Maju Ekonomine, Sejahtera Wargane”, peringatan hari jadi tahun ini mencerminkan semangat gotong royong dalam membangun desa yang maju tanpa meninggalkan akar budaya.

Dalam sambutannya, Bupati Agus mengajak generasi muda menjadikan sejarah sebagai pijakan untuk membangun masa depan. Ia mengutip pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, agar masyarakat tidak pernah melupakan sejarah atau Jas Merah.

Pesan tersebut disampaikan setelah sesepuh sekaligus mantan Kepala Desa Tuksari, Sudarto, membacakan sejarah berdirinya desa yang berada di lereng Gunung Sindoro itu. Berdasarkan arsip sejarah, Desa Tuksari lahir dari penggabungan Dusun Sangkon, Domangan, Bugel, Mertan, dan Ngadigunung. Nama “Tuksari” diberikan oleh Bupati Temanggung ke-6, Raden Mas Adipati Ario Tjokrosoetomo, pada masa pemerintahan kolonial Belanda sekitar tahun 1924.

“Saya kira jarang sekali desa di Temanggung yang memiliki arsip sejarah sedetail Tuksari. Karena itu, generasi muda jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Jadikan peringatan 102 tahun ini sebagai momentum untuk mewarisi nilai-nilai luhur para pendahulu, mulai dari melestarikan budaya, menjaga keharmonisan masyarakat, hingga merawat sumber-sumber mata air sesuai makna sejarah nama Tuksari,” ujar Agus.

Ketua panitia, Nur Wahid, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan merupakan ungkapan rasa syukur atas perjalanan panjang Desa Tuksari yang kini telah berusia lebih dari satu abad.

Baca Juga:
Kirab Budaya Tresna Pancasila 2026 Disambut Meriah Warga dan Wisatawan di Malioboro
Bupati Temanggung Agus Setyawan (kanan)

Sementara itu, Kepala Desa Tuksari, Sukirno, menegaskan bahwa peringatan hari jadi bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan wahana mempererat kebersamaan serta menumbuhkan semangat gotong royong demi mewujudkan desa yang semakin maju dan sejahtera.

“Kami berharap semangat kebersamaan yang diwariskan para leluhur terus terjaga. Budaya harus tetap lestari, sementara pembangunan desa dan kesejahteraan masyarakat terus ditingkatkan,” katanya.

Kemegahan perayaan semakin terasa melalui kirab budaya yang melibatkan seluruh unsur masyarakat serta penampilan 12 kelompok kesenian tradisional.

Atraksi Festival 1.000 Ingkung menjadi salah satu sajian yang paling menarik perhatian masyarakat sebagai simbol rasa syukur, persatuan, dan doa bersama untuk kemakmuran Desa Tuksari.

Rangkaian Hari Jadi ke-102 Desa Tuksari telah dimulai sejak Jumat (24/7/2026) dengan kegiatan napak tilas, pengambilan air suci dari mata air, ziarah ke makam para leluhur, penyatuan air suci, tirakatan, hingga doa bersama. Seluruh agenda tersebut dikemas dalam Festival Budaya Tuksari bertema “Menjaga Warisan, Merajut Kebersamaan, Membangun Desa dengan Budaya.”

Melalui peringatan ini, Desa Tuksari menunjukkan bahwa pelestarian sejarah dan budaya bukan hanya menjadi warisan yang harus dijaga, tetapi juga modal penting dalam memperkuat identitas masyarakat serta mendorong kemajuan sosial, budaya, dan ekonomi desa. (tar/trs)