Portal Jateng

Makam Pelajar 14 Tahun di Banyumas Dibongkar, Polisi Dalami Dugaan Kekerasan

Portal Indonesia
×

Makam Pelajar 14 Tahun di Banyumas Dibongkar, Polisi Dalami Dugaan Kekerasan

Sebarkan artikel ini

 

BANYUMAS – Upaya mengungkap penyebab kematian pelajar SMP berinisial SH (14) terus dilakukan Polresta Banyumas. Polisi bersama tim dokter forensik RSUD Margono Soekarjo Purwokerto melakukan ekshumasi dan autopsi terhadap jenazah korban di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Kembaran, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, Rabu (9/9/2026).

Ekshumasi dilakukan untuk kepentingan penyelidikan sekaligus memastikan penyebab pasti kematian SH yang diduga menjadi korban kekerasan pada Sabtu (5/9/2026) dini hari.

Kasatres PPA-PPO Polresta Banyumas AKBP Sitowati mengatakan, pemeriksaan forensik menjadi bagian penting dalam proses penyelidikan untuk mengetahui penyebab kematian korban secara medis.

“Ekshumasi dan autopsi ini dikandung maksud untuk mengetahui penyebab meninggalnya korban yang diduga menjadi korban kekerasan,” ujar Sitowati.

Menurutnya, penyidik telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta memeriksa sejumlah saksi. Dari penyelidikan sementara, polisi menemukan indikasi adanya tindakan kekerasan terhadap korban.

“Dari hasil penyelidikan sementara, kejadian tersebut adalah peristiwa kekerasan, pemukulan menggunakan balok kayu,” kata Sitowati.

Namun demikian, polisi belum menyimpulkan bahwa tindakan tersebut merupakan penyebab kematian SH. Kepastian mengenai hubungan antara dugaan kekerasan dan kematian korban masih menunggu hasil autopsi dari tim dokter forensik.

“Hanya saja, apakah itu sebagai penyebab dari kematian korban, sementara ini masih kami cari dan menunggu hasil autopsi,” tuturnya.

Sementara itu, ayah korban, SAP, mengatakan keluarga telah memberikan izin kepada kepolisian untuk melakukan ekshumasi dan autopsi. Meski berat bagi keluarga, langkah tersebut dinilai perlu untuk membantu proses hukum.

“Untuk autopsi ini, pihak keluarga sudah memberikan izin. Tadinya tidak tega, tetapi ini katanya prosedur hukum. Ya mau tidak mau,” kata SAP.

SAP berharap penyelidikan terhadap kematian anaknya dilakukan secara tuntas dan mampu mengungkap fakta yang sebenarnya. Ia juga meminta keadilan apabila dalam perkara tersebut nantinya ditemukan pihak yang bertanggung jawab.

Baca Juga:
Rudapaksa Anak Difabel hingga Hamil 6 Bulan, Warga Banyumas Dibekuk Polisi

“Harapan saya, saya minta keadilan yang seadil-adilnya. Namanya orang tua, bagaimana perasaannya kehilangan anak? Seandainya dia punya anak, terus anaknya digitukan, bagaimana?” ujarnya.

Hasil autopsi nantinya akan menjadi salah satu dasar penting bagi penyidik Polresta Banyumas dalam mengungkap penyebab kematian SH sekaligus menentukan langkah hukum selanjutnya. (trs)