JAKARTA — Misteri kematian tragis Alvaro Kiano Nugroho (6), bocah yang ditemukan tak bernyawa di bawah Jembatan Cilalay pada 9 Maret 2025, akhirnya berhasil dipecahkan. Kepolisian memastikan bahwa kasus ini merupakan tindak pembunuhan yang dilakukan oleh orang terdekat korban.
Kepastian tersebut disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya (PMJ), Kombes Pol. Budi Hermanto, S.I.K., M.Si., dalam konferensi pers yang digelar Selasa (25/11/2025). Dalam penyampaiannya, ia menjelaskan perkembangan terbaru penyidikan yang kini telah mengarah pada satu tersangka utama.
“Pada kesempatan ini, kami menyampaikan hasil penyidikan terkait kematian Alvaro, yang jasadnya ditemukan terbungkus plastik hitam beberapa bulan lalu,” ungkapnya.
Kombes Budi Hermanto memastikan polisi telah menangkap pelaku yang tega menghabisi nyawa anak kecil tersebut. Sosok pelaku diketahui adalah AI, ayah tiri korban sendiri.
“Pelaku pembunuhan adalah AI, ayah tiri dari Alvaro,” tegasnya.
Dalam keterangan lebih lanjut, perwira yang akrab disapa Buher itu mengungkapkan motif di balik tindakan keji tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan, AI mengaku membunuh Alvaro akibat tersulut emosi karena sang anak terus menangis saat diajak pergi.
“Dari pengakuan tersangka, ia merasa kesal karena Alvaro menangis tanpa henti. Hal itu yang memicu pelaku melakukan tindakan fatal tersebut,” jelas Buher.
Lebih jauh, polisi menjabarkan bagaimana aksi pembunuhan itu terjadi. AI membunuh korban dengan cara membekap hingga bocah malang tersebut kehilangan nyawa. Setelah itu, jasad Alvaro dimasukkan ke dalam plastik hitam berukuran besar dan dibuang di wilayah Tenjo, tepatnya di bawah Jembatan Cilalay.
Kabid Humas PMJ menegaskan bahwa proses pemeriksaan masih berlangsung. Penyidik kini tengah melengkapi Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan barang bukti untuk mempercepat pelimpahan kasus ke pengadilan.
Sebagai informasi, Alvaro sebelumnya dilaporkan hilang oleh keluarganya di wilayah Pesanggrahan, Jakarta Selatan, pada 6 Maret 2025. Tiga hari kemudian, bocah tersebut ditemukan dalam kondisi tak bernyawa, memicu simpati dan keprihatinan publik.
(Junaedi)











