BANYUMAS – Sebanyak 302 pemanah dari 99 paguyuban dan klub jemparingan yang tergabung dalam Perkumpulan Panahan Tradisional Indonesia (Perpatri) mengikuti Gladen Ageng Jemparingan lan Jegulan “Sadewo Cup V” di Alun-alun Kota Lama Banyumas, Minggu (14/6/2026).
Kegiatan yang digelar oleh Perpatri Kabupaten Banyumas tersebut dibuka langsung oleh Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono.
Ketua Perpatri Kabupaten Banyumas, Yugo Triyono, mengatakan jumlah peserta pada penyelenggaraan tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Pada Gladen Ageng tahun ini terdapat 302 peserta jemparingan dari 99 paguyuban yang berasal dari berbagai daerah,” ujar Yugo saat ditemui di lokasi kegiatan, Minggu.
Menurut dia, para peserta datang dari sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Madura, meliputi Madura, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Banten.
Yugo menjelaskan peningkatan jumlah peserta tidak terlepas dari perluasan koordinasi panitia dengan jaringan Perpatri di berbagai daerah, khususnya di Jawa Barat.
Ia menuturkan, mayoritas peserta masih berasal dari kalangan dewasa karena kegiatan tersebut berfokus pada pelestarian budaya panahan tradisional.
Namun, pihaknya mulai memperkenalkan jemparingan kepada pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA sebagai upaya regenerasi atlet dan pegiat panahan tradisional.
Selain kategori jemparingan, ajang tersebut juga mempertandingkan kategori jegulan yang diikuti 46 peserta. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya sekitar 28 peserta.
“Jegulan memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi karena pemanah harus menarik busur hingga dada dan tidak dapat melihat sasaran secara langsung,” kata Yugo.
Menurut dia, Gladen Ageng Jemparingan lan Jegulan “Sadewo Cup V” tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi antarpegiat panahan tradisional sekaligus mendukung upaya pelestarian budaya lokal.
Sementara itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan jemparingan merupakan olahraga yang tidak hanya mengasah keterampilan memanah, tetapi juga melatih ketenangan dan pembentukan karakter.
“Olahraga ini merupakan bentuk pelatihan untuk membentuk karakter karena selain teknik yang harus dikuasai, juga diperlukan ketenangan dan kedamaian batin,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Sadewo juga menegaskan komitmennya untuk menjadikan Banyumas sebagai pusat kegiatan budaya melalui berbagai agenda pelestarian yang digelar secara berkelanjutan.
“Kami ingin menjadikan Banyumas sebagai pusat kegiatan budaya di Kabupaten Banyumas,” katanya.
Ia mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut, mulai dari panitia, sponsor, hingga peserta yang datang dari berbagai daerah.
Menurutnya, jemparingan dan jegulan merupakan tradisi yang memiliki nilai budaya dan filosofi luhur sehingga perlu terus dijaga agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman dan minimnya regenerasi.
Gladen Ageng Jemparingan lan Jegulan “Sadewo Cup V” menjadi salah satu agenda budaya yang diharapkan mampu memperkuat eksistensi panahan tradisional sekaligus menarik minat generasi muda untuk mengenal dan melestarikan warisan budaya Nusantara. (trs)











