YOGYAKARTA – Nama Herman Yoseph Fernandez mungkin belum tercatat secara de jure dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia. Namun, jejak perjuangannya di medan laga Revolusi Fisik (1945–1949) hingga pengorbanan nyawanya demi menyelamatkan sahabat, mengukuhkan dirinya sebagai pahlawan sejati di hati rakyat, terutama bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kisah heroik putra Flores ini kembali mencuat melalui buku berjudul Herman Yoseph Fernandez: Kusuma Bangsa Pembela Tanah Air Layak Jadi Pahlawan Nasional karya Thomas B. Atalajar. Buku ini membedah sosok Herman bukan hanya sebagai prajurit, tetapi sebagai simbol nasionalisme lintas suku dan agama.
Dari Muntilan ke Medan Perang
Herman adalah alumni Kolese Xaverius Muntilan, sekolah elit yang mencetak tokoh-tokoh besar seperti Ignasius Yoseph Kasimo hingga Frans Seda. Pendidikan di bawah bimbingan pastor Yesuit di Muntilan menanamkan disiplin baja dan semangat “Memardi Kartika Bangsa” (Mendidik Bintang Bangsa).
Invasi Jepang pada 1942 membuyarkan mimpinya menjadi guru. Herman sempat menjadi romusha di tambang batu bara Bayah, Banten. Uniknya, di tengah penderitaan sebagai buruh paksa, ia menyisihkan upahnya untuk membiayai sekolah teman-temannya di Yogyakarta.
”Kami akan menyisihkan sebahagian dari upah kami untuk menopang hidup kamu… jadi kamu cukup pikir belajar,” tulis Herman dalam sepucuk surat untuk Frans Seda pada masa itu, sebuah bukti empati luar biasa di tengah prahara.
Pengorbanan Nyawa
Puncak heroisme Herman terjadi dalam Pertempuran Sidobunder, Kebumen, pada 2 September 1947. Bergabung dengan Tentara Pelajar (TP) di bawah kesatuan PERPIS (Persatuan Pelajar Indonesia Sulawesi), Herman terjebak dalam pertempuran jarak dekat melawan pasukan Belanda.
Herman ditangkap saat mencoba menyelamatkan sahabatnya, Alex Rumambi, yang terluka parah. Di penjara Gombong, sebuah drama kemanusiaan terjadi. Herman secara sadar mengakui dirinya sebagai penembak perwira Belanda bernama Nex untuk melindungi identitas rekan seperjuangannya, La Sinrang.
Akibat pengakuan tersebut, Herman dijatuhi hukuman mati. Ia dieksekusi oleh tentara Belanda pada 31 Desember 1948 dalam usia yang masih sangat muda, 23 tahun.
Menanti Pengakuan Negara
Meski jenazahnya kini bersemayam di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara, Yogyakarta, bersanding dengan Jenderal Sudirman, gelar Pahlawan Nasional secara resmi belum disematkan padanya.
Frans Seda, tokoh nasional sekaligus sahabat karib Herman, semasa hidupnya terus memperjuangkan gelar tersebut. Sebagai bentuk penghormatan, sebuah patung Herman Yoseph Fernandez yang tengah membopong Alex Rumambi kini berdiri kokoh di pelabuhan Larantuka, Flores Timur.
Herman Yoseph Fernandez adalah bukti nyata bahwa Flores memiliki andil besar dalam kemerdekaan Indonesia. Menghidupkan kembali kisahnya bukan sekadar urusan administratif gelar, melainkan upaya menjaga agar “Suluh dari Timur” ini tidak hilang ditelan lorong gelap sejarah (bams)











