Portal DIY

Usai Raih Status Desa Mandiri Benih, Petani Kalipemtung Butuh Mesin Pertanian

Portal Indonesia
×

Usai Raih Status Desa Mandiri Benih, Petani Kalipemtung Butuh Mesin Pertanian

Sebarkan artikel ini

 

SLEMAN – Keberhasilan Padukuhan Kalipentung, Kalitirto, Berbah, Sleman, meraih status Desa Mandiri Benih menjadi kebanggaan tersendiri bagi para petani setempat. Namun di balik capaian tersebut, Kelompok Tani (Poktan) Sido Makmur kini menghadapi tantangan baru, yakni kebutuhan alat dan mesin pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan di wilayahnya.

Dukuh Kalipentung, Mujiharjo, mengatakan kemandirian benih yang berhasil dicapai merupakan langkah penting dalam membangun ketahanan pangan dari tingkat pedukuhan. Menurutnya, kemampuan menyediakan benih secara mandiri menjadi fondasi utama bagi keberlanjutan produksi pertanian.

“Ketahanan pangan itu bukan soal apa yang dimakan, tetapi soal apa yang ditanam. Jika mandiri dalam benih, ketahanan pangan sudah mencapai sekitar 50 persen. Sisanya berkaitan dengan tanah, air, pupuk, dan faktor pendukung lainnya,” kata Mujiharjo, Sabtu (6/6/2026).

Status Desa Mandiri Benih diraih setelah Poktan Sido Makmur berhasil menjalankan program pembenihan padi yang mendapat dukungan pemerintah pada Oktober 2025. Bantuan senilai Rp68,3 juta berupa benih, pupuk, dan sarana produksi pertanian lainnya dimanfaatkan untuk lahan seluas 10 hektare.

Program tersebut membuahkan hasil melalui panen raya yang digelar beberapa waktu lalu. Varietas padi yang dipanen meliputi Logawa seluas 5 hektare, Inpari 47 seluas 3 hektare, dan Situ Bagendit seluas 2 hektare.

Keberhasilan itu mendapat apresiasi dari Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Ladiyani Retno Widowati. Ia berharap pembenihan mandiri di Kalipentung dapat terus berkembang hingga menjadi kawasan pengembang dan penangkar benih yang mampu menyediakan benih bermutu bagi petani secara berkelanjutan.

Saat ini Poktan Sido Makmur yang berdiri sejak 1987 memiliki 70 anggota dan mengelola lahan pertanian seluas 23 hektare. Kelompok tersebut juga didukung Kelompok Wanita Tani (KWT) Adem Ayem yang beranggotakan 25 orang.

Baca Juga:
Polsek Tulangan Turun ke Lahan Jagung Kajeksan, Perkuat Dukungan Swasembada Pangan

Meski berhasil mandiri dalam penyediaan benih, para petani masih menghadapi tingginya biaya operasional akibat ketergantungan pada alat pertanian sewaan. Karena itu, Poktan Sido Makmur berharap mendapat bantuan empat unit traktor tangan dan satu unit Combine Harvester.

Menurut Mujiharjo, kebutuhan alat tersebut sangat mendesak untuk meningkatkan efisiensi usaha tani sekaligus menekan biaya produksi yang selama ini cukup besar.

“Untuk mengolah lahan 23 hektare idealnya dibutuhkan empat traktor tangan dan satu combine. Selama ini biaya sewa alat cukup tinggi, baik untuk pengolahan lahan maupun saat panen,” ujarnya.

Combine Harvester dinilai mampu mempercepat proses panen karena dapat memotong tanaman, merontokkan bulir padi, sekaligus membersihkan gabah dalam satu proses. Alat tersebut juga dinilai mampu mengurangi kehilangan hasil panen di lapangan.

Total kebutuhan pengadaan alat pertanian itu diperkirakan mencapai sekitar Rp500 juta, terdiri dari empat traktor tangan senilai Rp100 juta dan satu unit combine harvester sekitar Rp400 juta.

Bagi Poktan Sido Makmur, pembelian alat secara mandiri masih sulit dilakukan. Pendapatan kelompok tani dinilai belum mencukupi untuk membeli alat secara tunai maupun mengakses kredit perbankan.

“Kalau harus membeli sendiri tentu berat. Pinjaman bank juga berisiko karena kemampuan membayar cicilan dan bunga sangat terbatas. Karena itu kami berharap ada dukungan pemerintah,” kata Mujiharjo.

Ia menjelaskan para anggota kelompok tani sebenarnya sudah mulai menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan pengadaan alat. Namun proses pengumpulan dana diperkirakan membutuhkan waktu sangat lama.

Mujiharjo optimistis bantuan alat pertanian akan menjadi langkah lanjutan setelah keberhasilan mewujudkan kemandirian benih. Dengan dukungan mekanisasi pertanian, biaya produksi dapat ditekan dan produktivitas petani meningkat.

“Kalau benih sudah mandiri dan alat pertanian bisa dimiliki sendiri, kami yakin ketahanan pangan di Kalipentung akan semakin kuat,” pungkasnya. (bams)

Baca Juga:
Polisi Turun ke Sawah, Polsek Prambon Pantau Lahan Jagung Antisipasi Cuaca Ekstrem