JAKARTA — Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mengambil langkah konkret dalam melindungi kesehatan pegawai perempuannya melalui program vaksinasi kanker serviks. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kesadaran, tetapi juga menjadi bentuk perlindungan nyata terhadap salah satu penyakit yang paling banyak menyerang perempuan.
Pelaksanaan vaksinasi berlangsung di Aula Prona, Kantor Kementerian ATR/BPN, Jakarta, Kamis (02/04/2026). Program ini sendiri telah dimulai sejak awal tahun 2026 dan mendapat respons positif dari para pegawai di lingkungan kementerian tersebut.
Kanker serviks diketahui sebagai salah satu jenis kanker yang paling umum dialami perempuan. Meski demikian, penyakit ini dapat dicegah melalui deteksi dini serta vaksinasi yang tepat.
Salah satu peserta, Inayati Iryana (45), mengaku sangat terbantu dengan adanya program tersebut. Ia menilai, selain biaya yang lebih terjangkau dibandingkan di luar, pelayanan yang diberikan juga sangat memuaskan.
“Kebanyakan kita berada di usia produktif. Kalau vaksin di luar biayanya cukup mahal, jadi program ini sangat membantu. Pelayanannya juga baik, mulai dari screening awal, penyuntikan, edukasi dokter, hingga pemeriksaan akhir,” ujarnya.
Program vaksinasi ini merupakan usulan dari Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) ATR/BPN dan dilaksanakan dalam tiga tahap. Tahap pertama telah digelar pada 30 Januari 2026, dilanjutkan tahap kedua pada 2 April 2026, dan tahap ketiga dijadwalkan berlangsung pada 3 Juli 2026. Para peserta hanya dikenakan biaya sebesar Rp870.000 untuk mengikuti program ini.
Inayati menambahkan, vaksinasi ini menjadi langkah penting dalam menjaga produktivitas perempuan, khususnya di lingkungan kerja. Ia juga menekankan pentingnya kesadaran bagi perempuan usia produktif, terutama yang telah menikah, untuk melakukan pencegahan sejak dini.
Pandangan serupa disampaikan Febi Nur Anggriany (46), yang juga menjadi bagian dari 161 ASN perempuan peserta vaksinasi tahun ini. Setelah mengikuti dua tahap, ia mengaku semakin terdorong untuk mengedukasi keluarga, khususnya anak-anaknya.
“Saya akan mengajak putri-putri saya untuk ikut vaksin ini sebagai upaya menjaga kesehatan sejak dini,” tuturnya.
Sementara itu, dr. Irnawati selaku observator efek samping vaksin menilai program ini sangat bermanfaat dan layak dimanfaatkan secara optimal oleh ASN perempuan. Ia menegaskan bahwa vaksin Human Papillomavirus (HPV) merupakan langkah efektif dalam mencegah kanker serviks.
“Ini adalah salah satu upaya pencegahan yang sangat penting. Kanker serviks termasuk jenis kanker yang bisa dicegah melalui vaksinasi,” jelasnya.
Dengan adanya program ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya kesehatan reproduksi perempuan semakin meningkat, sekaligus memperkuat upaya pencegahan penyakit di lingkungan kerja pemerintahan.











