PROBOLINGGO – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Paiton Berjaya memberikan penjelasan atas pemberitaan yang menyebut salah seorang stafnya bersikap arogan terhadap pemasok buah saat proses pengadaan bahan pangan. Pihak SPPG menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan kesalahpahaman yang telah diselesaikan secara baik-baik.
Ahli Gizi SPPG Paiton Berjaya, Evi, mengungkapkan bahwa kejadian itu bermula pada 16 Juli 2026 ketika dirinya memesan pisang Cavendish kepada istri seorang pemasok berinisial I. Pemesanan dilakukan setelah yang bersangkutan sebelumnya menawarkan produk tersebut secara langsung.
“Sebelumnya saya tidak mengetahui bahwa beliau adalah istri Pak I yang pernah mengirim buah ke SPPG. Karena kami sudah saling mengenal dan beliau menawarkan langsung, saya kemudian mencoba melakukan pemesanan,” ujar Evi saat dikonfirmasi, Rabu (5/8/2026).
Setelah pesanan diterima, Evi mengaku menemukan kondisi pisang yang dinilai tidak sesuai dengan spesifikasi yang dipahaminya. Pisang yang datang masih berwarna hijau, sementara menurut pengetahuannya, pisang Cavendish umumnya memiliki kulit berwarna kekuningan.
Untuk memastikan hal tersebut, Evi menghubungi istri pemasok melalui WhatsApp. Dalam percakapan itu, ia mendapat penjelasan bahwa buah yang dikirim merupakan Cavendish lokal.
“Saya hanya bertanya karena pisangnya masih hijau. Beliau menjelaskan bahwa itu Cavendish lokal. Mungkin saya memang belum mengetahui kalau ada varietas lokal yang warnanya masih hijau,” katanya.
Tak lama setelah percakapan tersebut, Evi mengaku menerima telepon dari I dengan nada bicara yang tinggi. Situasi kemudian berlanjut ketika I bersama dua rekannya mendatangi kantor SPPG Paiton Berjaya.
Menurut Evi, saat berada di kantor, pihak pemasok langsung merekam jalannya pembicaraan menggunakan telepon seluler tanpa meminta persetujuan.
“Mereka datang sambil mengarahkan kamera ke saya. Saya sudah meminta dengan baik agar tidak merekam karena di kantor sudah ada CCTV yang bisa dijadikan bukti apabila diperlukan, tetapi permintaan itu tidak diindahkan,” tuturnya.
Dalam pertemuan tersebut, Evi juga mengaku menerima ucapan yang dianggap bernada intimidatif, termasuk ancaman terkait penghentian kerja sama.
Meski sempat terjadi adu argumen, Evi menegaskan persoalan tersebut berakhir damai. Kedua belah pihak disebut telah saling berjabat tangan dan sepakat mengakhiri permasalahan sebagai bentuk miskomunikasi.
“Saya menganggap persoalan itu sudah selesai hari itu juga karena kami sudah bersalaman dan saling memaafkan atas kesalahpahaman yang terjadi,” ujarnya.
Karena itu, Evi mengaku terkejut ketika kemudian muncul pemberitaan yang menggambarkan dirinya bersikap arogan terhadap pemasok.
“Saya kaget saat menerima kiriman tautan berita tersebut,” katanya.
Evi menambahkan, setelah kejadian itu pihak SPPG memutuskan menggunakan pemasok pisang lain. Langkah tersebut diambil untuk menjaga hubungan kerja tetap kondusif serta mencegah terulangnya persoalan serupa pada masa mendatang.











