Portal DIY

Dari Kekhawatiran Keracunan MBG, Dua Siswa SMPN 1 Turi Ciptakan Alat Deteksi Makanan

Portal Indonesia
×

Dari Kekhawatiran Keracunan MBG, Dua Siswa SMPN 1 Turi Ciptakan Alat Deteksi Makanan

Sebarkan artikel ini

 

SLEMAN — Kekhawatiran terhadap keamanan makanan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendorong dua siswa SMPN 1 Turi, Kabupaten Sleman, menciptakan perangkat pendeteksi kelayakan makanan.

Karya Abyan Syahlefi dan Pradipta Widhi Nugroho, siswa kelas 9B SMPN 1 Turi, itu menarik perhatian Komisi D DPRD Sleman. Rabu (5/8/2026), sejumlah anggota Komisi D datang langsung ke sekolah untuk melihat sekaligus menguji cara kerja perangkat tersebut.

Dalam uji coba, sampel makanan dimasukkan ke dalam kotak khusus. Setelah perangkat diaktifkan, sejumlah sensor bekerja membaca kondisi sampel dan memberikan hasil pendeteksian dalam waktu kurang dari satu menit.

Pengoperasiannya pun relatif sederhana. Sampel makanan yang hendak diperiksa cukup ditempatkan di dalam kotak pengujian, kemudian perangkat diaktifkan untuk menjalankan proses pendeteksian.

Abyan dan Pradipta mengatakan, gagasan membuat perangkat tersebut berawal dari keprihatinan mereka setelah melihat pemberitaan mengenai kasus keracunan makanan yang dikaitkan dengan pelaksanaan MBG.

Dari rasa khawatir itu, keduanya kemudian melakukan riset melalui internet, berdiskusi, dan mencoba mencari solusi yang dapat diwujudkan melalui teknologi sederhana.

Hasilnya, mereka merancang perangkat dengan mikrokontroler ESP32 sebagai pusat kendali. Mikrokontroler tersebut memiliki konektivitas Wi-Fi dan Bluetooth yang membuka peluang pengembangan sistem pemantauan berbasis digital.

Perangkat itu dilengkapi sejumlah sensor. Sensor MQ3 digunakan untuk mendeteksi kandungan alkohol yang dapat menjadi salah satu indikator kondisi makanan. Sensor MQ135 digunakan untuk memantau kualitas udara di sekitar sampel.

Kemudian, sensor DHT11 berfungsi mengukur suhu di dalam kotak sampel. Sementara sensor TCS3200 digunakan dalam sistem pendeteksian bahan pangan, termasuk untuk pengembangan fungsi pemeriksaan terhadap komoditas seperti buah-buahan.

Kotak sampel juga dilengkapi kipas otomatis yang membantu menjaga kondisi suhu ruang pengujian agar tetap stabil selama proses berlangsung.

Baca Juga:
Anak 5 Tahun Tewas Tertemper Kereta Api di Sleman

Guru Pembina SMPN 1 Turi, Ani Marwati, mengatakan kedua siswanya menunjukkan ketekunan sejak tahap mencari informasi, menentukan komponen, merancang perangkat hingga melakukan serangkaian uji coba.

“Anak-anak ini awalnya melihat banyak berita tentang persoalan keamanan makanan. Dari situ muncul keinginan untuk membuat sesuatu yang bisa menjadi solusi. Kami sebagai guru tentu mendampingi, mengarahkan, dan membantu mereka ketika menemui kesulitan,” ujar Ani.

Menurut Ani, proses pembuatan alat tersebut menjadi pengalaman belajar yang penting. Para siswa tidak hanya mempelajari teori di dalam kelas, tetapi juga ditantang menerapkannya untuk menjawab persoalan yang mereka temui di lingkungan sekitar.

Ketua Komisi D DPRD Sleman, M. Arif Priyosusanto, menilai inovasi tersebut cukup menjanjikan meski masih membutuhkan pengembangan dan penyempurnaan.

Arif berharap karya siswa tersebut tidak berhenti sebagai proyek inovasi di sekolah. Jika hasil pengujian lebih lanjut menunjukkan kinerja yang memadai, perangkat itu dinilai berpeluang dikembangkan dan dimanfaatkan lebih luas.

“Nanti akan kami dorong supaya alat ini bisa menjadi standar di SMP seluruh Kabupaten Sleman. Tidak hanya SMP, kalau bisa juga SD, akan kami dorong ke sana,” kata Arif.

Untuk merealisasikan gagasan tersebut, Komisi D akan berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah terkait. Pengujian lebih komprehensif diperlukan untuk memastikan tingkat akurasi, konsistensi hasil, serta kesesuaian perangkat dengan standar keamanan pangan sebelum digunakan secara luas.

Arif menilai inovasi Abyan dan Pradipta menjadi contoh bahwa sekolah dapat menjadi ruang lahirnya solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

Kepala SMPN 1 Turi, Hospita Henny Koerniati, mengapresiasi capaian kedua siswanya. Menurutnya, inovasi tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran di sekolah dapat diarahkan untuk menghasilkan karya yang memiliki manfaat praktis.

Baca Juga:
Api Misterius di Sayegan Sleman Masih Sering Muncul

“Kami sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Abyan dan Pradipta. Mereka mampu melihat persoalan yang ada di sekitar, kemudian mencoba mencari solusinya melalui sebuah karya. Ini menjadi pengalaman belajar yang sangat berharga bagi mereka,” ujar Hospita.

Ia menambahkan, kunjungan Komisi D DPRD Sleman menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas siswa sekaligus membuka peluang kolaborasi antara sekolah dan pemerintah daerah.

Ke depan, pengembangan perangkat tersebut masih membutuhkan pendampingan, pengujian, dan validasi lebih lanjut. Namun, inovasi dua pelajar SMPN 1 Turi itu telah menunjukkan satu hal: persoalan keamanan pangan dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya kreativitas dan solusi teknologi dari lingkungan sekolah. (Brd)