PURWOKERTO – Universitas Terbuka (UT) Purwokerto membuka ruang dialog lebih luas untuk mendorong pengembangan ekonomi syariah yang inklusif, aplikatif, dan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Halaqah Ekonomi Syariah UT Purwokerto bertema “Akses Terbuka untuk Kemaslahatan Bersama: Membangun Inklusivitas Ekonomi Syariah di Lingkungan UT” yang digelar di Aula Lantai 4 Kantor UT Purwokerto, Senin (24/8/2026).
Forum tersebut mempertemukan akademisi, pemerintah, lembaga filantropi, tokoh masyarakat, praktisi ekonomi syariah, perguruan tinggi, hingga mahasiswa. Pembahasan tidak hanya berkutat pada teori, tetapi diarahkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana nilai-nilai ekonomi syariah benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menjadi salah satu tokoh yang memberikan sorotan kritis. Ia mengapresiasi langkah UT Purwokerto membuka ruang diskusi, namun mengingatkan agar ekonomi syariah tidak berhenti pada istilah, konsep, maupun teori.
Menurut Sadewo, prinsip ekonomi syariah justru perlu diuji melalui praktik agar masyarakat memperoleh pemahaman yang objektif.
Salah satu yang ia soroti adalah praktik perbankan syariah, khususnya mengenai konsep bagi hasil, pembagian risiko, dan margin.
“Ini menjadi bahan yang menarik untuk didiskusikan. Apakah benar kalau di bank syariah hanya bagi hasil dan tidak bagi risiko? Kemudian, mengapa dalam praktiknya margin di bank syariah justru ada yang dinilai lebih besar dibandingkan bank konvensional?” kata Sadewo.
Menurutnya, pertanyaan semacam itu tidak seharusnya dihindari. Justru melalui diskusi terbuka dan kajian akademis, masyarakat dapat memahami secara utuh perbedaan antara prinsip syariah dengan mekanisme penerapannya.
“Jangan takut menguji konsep dengan realitas,” menjadi pesan penting yang mengemuka dari pandangan Sadewo.
UT Ingin Ekonomi Syariah Tak Hanya Dipelajari, tetapi Berdampak
Direktur UT Purwokerto Dr. Prasetyarti Utami mengatakan halaqah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun pemahaman bersama sekaligus memperluas jejaring kolaborasi.
“Melalui halaqah ini, kami ingin membangun pemahaman bersama dan membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak. Harapannya, dari forum ini bisa muncul masukan dan rekomendasi yang dapat menjadi bahan pengembangan ekonomi Islam di Universitas Terbuka,” ujarnya.
Menurut Prasetyarti, ekonomi syariah memiliki peluang besar untuk dikembangkan di perguruan tinggi umum. Karena itu, diperlukan keterbukaan terhadap berbagai disiplin ilmu dan lembaga agar ekonomi syariah tidak berkembang secara eksklusif.
Semangat tersebut dinilai sejalan dengan karakter UT sebagai perguruan tinggi terbuka dan jarak jauh yang memberikan akses pendidikan tinggi kepada masyarakat tanpa dibatasi ruang dan waktu.
Dari Ziarah Sejarah hingga Gagasan Masa Depan
Rangkaian kegiatan halaqah juga diawali dengan doa bersama dan ziarah ke makam R.M. Margono Djojohadikusumo.
Tokoh asal Banyumas tersebut memiliki jejak penting dalam sejarah perjuangan bangsa dan pembangunan ekonomi.
Nilai kemandirian, keberpihakan terhadap masyarakat, serta semangat membangun kekuatan ekonomi kemudian dipertautkan dengan gagasan ekonomi syariah yang dibahas dalam halaqah.
Ziarah tersebut menjadi simbol bahwa membangun ekonomi dan pendidikan masa depan tidak harus memutus hubungan dengan nilai perjuangan masa lalu.

Serulingmas Dorong Generasi Muda Berani Bermimpi
Ketua Umum Yayasan/Paguyuban Serulingmas Dr. H. Wisnu Suhardono, S.E., M.Si., juga hadir dalam kegiatan tersebut.
Serulingmas diharapkan dapat menjadi salah satu simpul kolaborasi yang mempertemukan perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan untuk melahirkan gagasan yang memiliki dampak nyata.
Di hadapan mahasiswa, Wisnu menyampaikan pesan agar generasi muda tidak minder dengan latar belakang maupun tempat asal.
“Bibit unggul tidak harus dari kota,” ujarnya.
Wisnu bahkan menceritakan perjalanan hidupnya yang berasal dari kawasan pinggir sungai di Desa Notog. Baginya, keterbatasan lingkungan bukan alasan untuk berhenti bermimpi dan berkembang.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat UT yang membuka kesempatan pendidikan bagi masyarakat dari berbagai wilayah.
Filantropi, Kurikulum hingga Integritas
Halaqah menghadirkan sejumlah narasumber dengan latar belakang keilmuan yang beragam.
Prof. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. hadir sebagai keynote speaker. Sementara pembicara lainnya antara lain KH Muhammad Hazbi Zaenal, Ph.D. dari BAZNAS RI, Dr. KH. Luthfi Hamidi, M.A. dari UNU Al-Ghazali, serta Prof. Dr. Ibnu Qizam, M.Si., Ak., CA. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta.
Selain itu hadir Associate Prof. Akhmad Darmawan, S.E., M.Si., Ph.D., Associate Prof. Dr. Hj. Erika Amelia Kamil, S.E., M.Si., serta Dr. Prasetyarti Utami.
Berbagai isu dibahas, mulai dari filantropi Islam, tantangan ekonomi syariah di tengah perubahan ekonomi global, pengembangan kurikulum Ekonomi Islam, hingga peluang pembukaan Program Studi Ekonomi Islam di perguruan tinggi umum.
Persoalan integritas juga mendapat perhatian. Amanah dan integritas akuntan syariah dinilai menjadi bagian penting dalam membangun tata kelola ekonomi yang sehat sekaligus mencegah terjadinya fraud.
UT Purwokerto dan UIN Jakarta Perkuat Kolaborasi
Momentum halaqah juga ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara UT Purwokerto dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta.
Penandatanganan kerja sama tersebut dilakukan dengan Prof. Dr. Ibnu Qizam, M.Si., Ak., CA., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta, yang pada kesempatan tersebut diwakili Prof. Dr. Hj. Erika Amelia Kamil, S.E., M.Si.
Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring akademik dan membuka peluang kolaborasi lebih luas dalam pengembangan pendidikan, riset, serta kajian ekonomi Islam.
Perkuat Purwokerto sebagai Kota Pendidikan
Di tengah pembahasan ekonomi syariah, Sadewo juga mendorong UT Purwokerto terus memperkuat perannya dalam membangun sumber daya manusia di Banyumas.
Menurutnya, semakin kuat ekosistem perguruan tinggi akan semakin besar kontribusinya terhadap peningkatan kualitas masyarakat sekaligus memperkuat posisi Purwokerto sebagai kota pendidikan.
“Harapannya UT Purwokerto semakin berkembang dan Purwokerto bisa menjadi kota pendidikan nomor dua di Jawa Tengah,” kata Sadewo.
Halaqah Ekonomi Syariah UT Purwokerto pada akhirnya bukan sekadar forum akademik. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan antara gagasan, kritik, pendidikan, filantropi, pemerintah, dan masyarakat.
Pesan terbesarnya sederhana: ekonomi syariah tidak cukup hanya benar secara konsep, tetapi harus terasa manfaatnya dalam kehidupan.
Sebab, ukuran keberhasilan ekonomi syariah bukan semata-mata pada label “syariah”, melainkan pada sejauh mana nilai keadilan, amanah, transparansi, pemerataan, dan kemaslahatan benar-benar hadir di tengah masyarakat. (trs)











