BANYUMAS – Suasana khidmat menyelimuti Kompleks Makam Dawuhan, Banyumas, Minggu (23/8/2026) sore. Doa bersama dan ziarah budaya yang digelar Universitas Terbuka (UT) Purwokerto menjadi momentum untuk menelusuri kembali jejak perjuangan tokoh bangsa, Raden Mas Margono Djojohadikusumo, sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan yang diwariskannya.
Kegiatan yang dimulai pukul 15.30 WIB tersebut merupakan rangkaian pembuka Halaqah 2026 tentang inklusivitas ekonomi syariah. Namun, lebih dari sekadar agenda akademik, ziarah ini menjadi ruang perjumpaan antara dunia pendidikan, masyarakat dan sejarah.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Umum Serulingmas Wisnu Suhardono, Anggota DPR RI Tetti Rohatiningsih bersama suaminya Tatto Suwarto Pamuji, perwakilan UIN Jakarta dan Unsoed, Direktur UT Purwokerto Prasetyarti Utami, Kepala Desa Dawuhan Ruswanto, Kyai Sukirman, Pemerintah Desa Dawuhan serta sejumlah tamu undangan.
Kepala Desa Dawuhan Ruswanto menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menyebut kehadiran berbagai elemen di kompleks makam Margono Djojohadikusumo menjadi sebuah kehormatan bagi Desa Dawuhan.
“Semoga kunjungan ziarah ini memberikan manfaat, khususnya bagi masyarakat Desa Dawuhan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Serulingmas Wisnu Suhardono menegaskan bahwa ziarah tersebut memiliki makna penting, terutama dalam rangka mengenang sekaligus memperjuangkan pengakuan negara terhadap jasa Margono Djojohadikusumo.
Wisnu menyampaikan, Margono menjadi salah satu tokoh yang tengah didorong untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional dari Jawa Tengah.
“Kita diminta melengkapi dan menyempurnakan usulan Pahlawan Nasional. Ada tujuh persyaratan, tetapi target Serulingmas adalah memenuhi 10 syarat,” kata Wisnu.
Ia mengatakan, proses penggalian sejarah akan dilakukan secara serius. Bahkan, apabila diperlukan, tim akan mendatangi Belanda untuk menelusuri jejak perjuangan Margono selama berada di negara tersebut.
“Mudah-mudahan apa yang kita rencanakan mendapat ridho Allah SWT,” ujarnya.

Dari Makam, Menyambung Nilai Perjuangan ke Dunia Pendidikan
Direktur UT Purwokerto Prasetyarti Utami mengatakan, ziarah budaya tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian Halaqah 2026. UT sengaja memasukkan unsur sejarah dan keteladanan tokoh bangsa agar pendidikan tidak hanya berbicara tentang kecerdasan akademik, tetapi juga karakter.
“Kita akan memohon kepada Allah SWT agar Presiden RI dapat menyelesaikan tugasnya hingga 2029. Nilai-nilai perjuangan tokoh-tokoh Banyumas dapat diimplementasikan dalam dunia pendidikan. Pendidikan harus melahirkan manusia yang memiliki karakter,” ungkapnya.
Menurut Prasetyarti, Dawuhan memiliki posisi istimewa dalam perjalanan sejarah Banyumas. Kawasan tersebut bukan sekadar kompleks pemakaman, tetapi menyimpan jejak tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh besar terhadap perjalanan masyarakat Banyumas.
“Dawuhan memiliki keistimewaan karena di tanah ini banyak dimakamkan tokoh-tokoh Joko Kaiman, cablaka, teladan pemimpin yang tiada tanding,” katanya.
UT, lanjutnya, sengaja hadir bersama Serulingmas, UIN Jakarta dan Unsoed sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan perjuangan tokoh-tokoh Banyumas.
“Kita sengaja ke Dawuhan bersama Serulingmas, UIN Jakarta dan Unsoed. Ini suatu kehormatan, karena UT juga mengedepankan nilai-nilai keluhuran para pejuang dari Banyumas,” ujarnya.
Margono, Tokoh Ekonomi dan Perjuangan Bangsa
Raden Mas Margono Djojohadikusumo lahir pada 16 Mei 1894 dan wafat pada 25 Juli 1978. Ia dikenal sebagai politikus dan bankir yang memiliki peran penting dalam sejarah awal perekonomian Indonesia.
Margono merupakan pendiri sekaligus pimpinan pertama Bank Negara Indonesia (BNI). Ia juga menjadi anggota BPUPKI, lembaga yang berperan penting dalam proses persiapan kemerdekaan Indonesia.
Namanya semakin dikenal karena merupakan kakek Presiden RI Prabowo Subianto dari garis ayah.
Bagi Serulingmas, perjuangan untuk mengusulkan Margono sebagai Pahlawan Nasional bukan semata persoalan gelar, melainkan bagian dari upaya merawat ingatan sejarah agar kontribusi tokoh Banyumas terhadap perjalanan bangsa tidak terlupakan.
Ziarah di Dawuhan pun menjadi simbol bahwa sejarah tidak cukup hanya dibaca dalam buku. Ia perlu dikenang, dipelajari dan diwariskan melalui pendidikan serta keteladanan.
Sinergi antara perguruan tinggi, masyarakat dan komunitas pelestari sejarah tersebut diharapkan menjadi langkah nyata untuk menjadikan warisan perjuangan tokoh Banyumas sebagai sumber inspirasi bagi generasi mendatang.
Kegiatan ditutup doa bersama di makam RM Margono Djojohadikusumo dipimpin Kyai Sukirman. (trs)











