Portal Jakarta

Pertemuan dengan Sr Maria Dolorosa dan Kisah Patung Yusuf Arimatea Bukan Kebetulan

Portal Indonesia
×

Pertemuan dengan Sr Maria Dolorosa dan Kisah Patung Yusuf Arimatea Bukan Kebetulan

Sebarkan artikel ini
Suster Maria Dolorosa Nenu Wea O.Carm saat berbincang dengan Uskup Surabaya Mgr Agustinus Tri Budi Utomo di Gading Serpong, Tangerang (Ist)

TANGERANG — Uskup Surabaya Mgr Agustinus Tri Budi Utomo menilai pertemuannya dengan Sr Maria Dolorosa Nenu Wea O.Carm (INSC), biarawati asal Bajawa, Nusa Tenggara Timur (NTT), bukan sebuah kebetulan. Pertemuan itu berkaitan dengan kisah patung St. Yusuf dari Arimatea yang sebelumnya dibawa Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) ke Vatikan dan dipersembahkan kepada Paus Leo XIV.

“Dalam iman Katolik, tidak ada peristiwa yang bersifat kebetulan. Semua sudah dikehendaki oleh Tuhan sendiri. Dan saya seperti disadarkan tentang misteri patung Yusuf Arimatea ini,” ujar Mgr Agustinus Tri Budi Utomo dalam pertemuan di Gading Serpong, Tangerang, belum lama ini.

Pertemuan tersebut berlangsung dua hari sebelum Sr Maria kembali ke Ramla, Israel, tempat ia menjalankan karya misi selama sekitar tiga tahun.

Sr Maria berkarya di gereja Katolik Ramla yang bernama St. Yusuf Arimatea. Menurut dia, pesta St. Yusuf Arimatea selalu dirayakan setiap 31 Agustus. Perayaan diisi misa, nyanyian khusus, dan pemotongan kue tart cokelat di depan gereja.

Namun, Sr Maria mengaku belum pernah menemukan patung tiga dimensi St. Yusuf Arimatea seperti yang dipersembahkan kepada Paus Leo XIV.

“Selama di Ramla, saya belum pernah menemukan patung tiga dimensi seperti yang dibawa Mgr dan PWKI ke Paus Leo. Kebanyakan yang ada dalam bentuk ikon atau lukisan,” kata Sr Maria.

Patung tersebut menggambarkan adegan penurunan jenazah Yesus dari kayu salib. St. Yusuf dari Arimatea menjadi tokoh utama dan digambarkan dengan warna asli, sementara Bunda Maria, Maria Magdalena, jenazah Yesus serta dua tukang kayu digambarkan berwarna hitam.

Karya tersebut didesain Founder sekaligus Penasihat PWKI AM Putut Prabantoro dan dibuat di Brata Gallery Yogyakarta.

Baca Juga:
Patung St.Yusuf Arimatea untuk Paus Leo XIV

Patung itu kemudian dibawa ke Vatikan dan diterima Paus Leo XIV dalam audiensi umum pada 25 Maret 2026. Awalnya, patung tersebut hanya akan dimintakan berkat untuk kemudian dibawa kembali ke Indonesia.

Namun, rencana itu berubah ketika asisten Paus Leo XIV menyarankan agar patung tersebut dipersembahkan kepada Paus.

“Ketika kami mau memintakan berkat kepada Paus Leo, asisten Bapa Suci bilang patung ini bagus, dipersembahkan saja,” kata Mgr Didik.

Patung itu dibawa ke Vatikan oleh AM Putut Prabantoro, Mayong Suryo Laksono, Bonfilio Mahendra Wahanaputera, Ovier Asni Dengen Paluin dan Stanislaus Jumar Sudiyana.

Penyerahan disaksikan Mgr Didik, Romo Noegroho Agoeng serta Romo Markus Solo Kewuta SVD, pejabat Vatikan asal Indonesia.

Dikaitkan dengan Ramla

Dalam pertemuan di Gading Serpong, Mgr Didik juga sempat melakukan video call dengan Romo Abdel Masih Fahim OFM di Ramla. Perkenalan dilakukan Sr Maria Dolorosa.

Romo Abdel kemudian mengundang Mgr Didik dan rombongan untuk berziarah ke Ramla.

Nama Ramla memiliki kaitan erat dengan St. Yusuf dari Arimatea. Dalam tradisi Kristen, Yusuf dari Arimatea dikenal sebagai tokoh yang meminta izin kepada Pontius Pilatus untuk menurunkan jenazah Yesus dari kayu salib dan memakamkannya.

Yusuf dari Arimatea merupakan anggota Sanhedrin atau majelis tinggi agama Yahudi. Namun, ia mengambil sikap berbeda ketika Yesus dihukum mati.

Menurut Mgr Didik, kisah tersebut memiliki makna penting dalam kehidupan iman Katolik.

Ia mengaku baru mengetahui adanya patung yang akan dibawa ke Vatikan ketika berada di Bandara Soekarno-Hatta pada 23 Maret 2026.

Setelah menyaksikan patung itu akhirnya diterima Paus Leo XIV, Mgr Didik mengaku semakin melihat adanya keterkaitan berbagai peristiwa tersebut.

Baca Juga:
Uskup Surabaya : Animator Laudato Si' Harus Segera Bertindak dari Hal Kecil

Disebut sebagai “Katolik Anonim”

Mgr Didik mengatakan pembicaraan dengan Romo Markus Solo Kewuta setelah audiensi dengan Paus Leo XIV juga membahas alasan pemilihan Yusuf dari Arimatea sebagai tokoh utama dalam patung.

Menurut dia, Yusuf Arimatea merupakan figur yang jarang mendapat perhatian besar dalam pewartaan iman Katolik, meski memiliki peran penting dalam kisah wafat dan pemakaman Yesus.

Padre Marco, kata Mgr Didik, mengaitkan sosok Yusuf Arimatea dengan orang-orang yang mengagumi dan mendukung Yesus, tetapi tidak secara terbuka mengakui keyakinannya.

“Mereka adalah Katolik Anonim. Katolik Anonim adalah orang yang jiwanya Katolik namun diam-diam. Mereka memberikan support atau dukungan apa yang menjadi perjuangan Yesus, persis seperti St. Yusuf Arimatea itu,” ujar Mgr Didik.

Menurutnya, pemikiran tersebut membuat dirinya semakin memahami pentingnya sosok Yusuf Arimatea.

Menariknya, setelah kembali dari Vatikan, Mgr Didik menemukan sebuah lukisan di Kapel Keuskupan Surabaya yang menggambarkan adegan serupa dengan patung yang dipersembahkan kepada Paus Leo XIV.

Lukisan tersebut berada di belakang altar dan sudah ada sejak masa kepemimpinan Mgr Sutikno, pendahulunya.

“Saya baru tahu, ini gambarnya patung itu. Padahal lukisan itu sudah lama ada,” kata Mgr Didik.

Ia menyebut lukisan tersebut belum memiliki nama resmi. Dalam lukisan itu tampak dua orang menurunkan jenazah Yesus menggunakan kain putih, dengan sosok berkulit hitam di dalam adegan.

“Kemungkinan ini Yusuf Arimatea,”  pungkas Mgr Didik (*/bams)