Portal DIY

DPK Sleman Bidik Jadi Pioneer Literasi 2030, Perpustakaan Disiapkan untuk Pusat Kreativitas

Portal Indonesia
×

DPK Sleman Bidik Jadi Pioneer Literasi 2030, Perpustakaan Disiapkan untuk Pusat Kreativitas

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sleman, Savitri Nurmala Dewi menunjukkan logo baru literasi (Portal Indonesia/Brd)

SLEMAN– Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Sleman mulai menyiapkan lompatan besar di bidang literasi. Melalui visi “Sleman 2030: Pionir Literasi Masa Depan,” DPK Sleman mendorong transformasi perpustakaan dari sekadar tempat membaca menjadi pusat kreativitas, dan pemberdayaan masyarakat.

Menurut Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Dra. Shavitri Nurmala Dewi, MA, langkah ini merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat berbasis pengetahuan sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia di Sleman.

Shavitri menambahkan bahwa selama ini Kabupaten Sleman telah dikenal sebagai kabupaten literasi secara nasional. Karena itu, ke depan diperlukan lompatan lebih jauh agar literasi tidak hanya berhenti pada kegiatan membaca, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Visi Sleman 2030 bukan sekadar slogan, tetapi peta jalan untuk mewujudkan masyarakat berbasis pengetahuan yang mampu mendorong kesejahteraan, kemandirian, dan kebudayaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, penguatan literasi juga selaras dengan visi pembangunan daerah, terutama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan nonformal serta memperluas akses informasi yang inklusif.

Selain itu, literasi juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat melalui konsep literasi kesejahteraan, yakni memanfaatkan pengetahuan dan informasi untuk meningkatkan produktivitas ekonomi warga.

Di sisi lain, pelestarian budaya juga menjadi perhatian melalui pengarsipan sejarah daerah sebagai bagian dari jati diri masyarakat.

Shavitri menyebutkan, berbagai program telah dijalankan sebagai modal menuju Sleman 2030. Salah satunya adalah transformasi perpustakaan desa atau kalurahan agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat peminjaman buku, tetapi berkembang menjadi ruang kolaborasi dan pusat pemberdayaan masyarakat.

“Perpustakaan kini didorong menjadi co-working space yang memfasilitasi kreativitas masyarakat,” katanya.

Selain itu, digitalisasi kearsipan juga terus dikembangkan agar memori kolektif daerah dapat tersimpan dengan baik serta mudah diakses oleh generasi mendatang.

Baca Juga:
IKA UGJ Bidik Penguatan Peran Alumni lewat MUBES 2026

Program lain yang juga terus dioptimalkan adalah perpustakaan digital melalui aplikasi Sleman Membaca (E-Library) yang memungkinkan masyarakat mengakses bahan bacaan secara daring, termasuk di wilayah pelosok.

Shavitri mengakui perjalanan menuju Sleman sebagai pionir literasi masa depan juga menghadapi banyak tantangan. Di antaranya disrupsi digital, kesenjangan akses literasi, serta perubahan cara masyarakat memandang arsip. (Brd)