PROBOLINGGO – Kemegahan Jembatan Kaca Seruni Point di kawasan wisata Gunung Bromo ternyata menyisakan persoalan yang belum tuntas. Di balik berdirinya salah satu ikon wisata tersebut, seorang pelaku usaha lokal masih menunggu pembayaran material bangunan yang hingga kini belum diselesaikan.
Suhada, pemilik toko bangunan di Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, mengaku piutang sebesar Rp65 juta dari proyek pembangunan Jembatan Kaca Seruni Point belum juga dibayarkan. Nilai tersebut berasal dari pasokan berbagai kebutuhan konstruksi yang telah dikirimkan saat proyek masih berlangsung.
Menurut Suhada, berbagai upaya telah dilakukan untuk menagih haknya. Namun, setiap kali meminta kepastian, ia hanya menerima janji pembayaran yang terus berulang tanpa realisasi.
“Kami ini pengusaha kecil. Uang Rp65 juta itu bukan jumlah yang sedikit bagi kami. Kami sudah berkali-kali menagih, tapi jawabannya selalu diulur-ulur tanpa kepastian yang jelas,” ujarnya, Senin (8/7/2026).
Ia menuturkan, material yang dipasok meliputi semen, besi, serta sejumlah kebutuhan konstruksi lainnya yang digunakan dalam pembangunan proyek tersebut. Seluruh pengiriman dilakukan sesuai permintaan ketika pekerjaan masih berjalan.
Suhada juga menyebut telah memilih jalur persuasif dengan harapan persoalan dapat diselesaikan secara baik-baik. Namun hingga kini, pihak yang bertanggung jawab atas pembayaran dinilai belum menunjukkan itikad untuk menuntaskan kewajiban tersebut.
Kondisi itu turut berdampak pada usahanya. Di tengah belum diterimanya pembayaran, ia tetap harus memenuhi kewajiban kepada distributor agar hubungan bisnis yang telah terjalin tetap terjaga.
“Kami sangat mendukung proyek pemerintah untuk kemajuan pariwisata di Bromo. Tapi jangan sampai kemajuan ini dibangun di atas penderitaan rakyat kecil. Kami hanya minta hak kami dibayar sesuai dengan kesepakatan awal,” tegasnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pembangunan proyek berskala besar tidak hanya diukur dari megahnya hasil akhir, tetapi juga dari terpenuhinya hak para pelaku usaha lokal yang ikut berkontribusi dalam proses pembangunannya.











