Portal Jatim

Moderasi Beragama Ditekankan Lewat Praktik Nyata

Portal Indonesia
×

Moderasi Beragama Ditekankan Lewat Praktik Nyata

Sebarkan artikel ini

 

BANYUWANGI – Moderasi beragama dinilai tidak cukup berhenti pada tataran konsep dan teori, melainkan harus diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut mengemuka dalam pertemuan antara pengasuh Pondok Pesantren Mansyaul Huda Banyuwangi, KH Fathulloh Suyuti Toha, dengan Pastor Paroki St. Paulus Kraksaan, Probolinggo, Romo Damianus Fadjar Tedjo Soekarno Pr, yang berlangsung di Banyuwangi, Minggu (14/6/2026) malam.

Pertemuan yang digelar di kediaman KH Suyuti Toha itu menjadi simbol kuat persaudaraan lintas agama yang telah terjalin selama puluhan tahun.

Keduanya menegaskan bahwa moderasi beragama dapat diwujudkan melalui silaturahmi, dialog, dan kebersamaan tanpa sekat.

Kunjungan Romo Fadjar ke Ponpes Mansyaul Huda didampingi sejumlah tokoh dari berbagai daerah, di antaranya AM Putut Prabantoro, alumnus PPSA XXI Lemhannas RI dan pengajar ideologi, Lambertus Widiantoro dari Yogyakarta, Lucius Gora Kunjana dari Jakarta, serta Samudra Hasni Shodiq dari Surabaya.

Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari silaturahmi yang sebelumnya berlangsung di Yogyakarta pada 30 Mei 2026. Saat itu, KH Suyuti Toha bersama rombongan Majelis Dzikir Nurul Wathon berkunjung ke kediaman Putut Prabantoro.

Dari pertemuan itulah terjalin komunikasi yang kemudian mempertemukan kembali KH Suyuti dengan Romo Fadjar di Banyuwangi.

Dalam kesempatan itu, KH Suyuti Toha menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai persaudaraan kebangsaan dan kemanusiaan.

“Ini merupakan wujud ukhuwah yang selama ini diperjuangkan Majelis Nurul Wathon, yaitu Ukhuwah Wathaniyah atau persaudaraan sebangsa dan setanah air serta Ukhuwah Basyariyah sebagai persaudaraan kemanusiaan universal,” ujarnya.

Pertemuan tersebut juga dihadiri Direktur Utama Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZ) Sandi Suwardi Hasan, pegiat kebangsaan Banyuwangi Syaiful Rizal, Heribertus Wicaksono, Topan Adinata, Andika Ronggo Gumuruh, Hasanan, Arif Subhan dari Universitas PGRI Banyuwangi, serta wartawan SelendangSutera Banyuwangi, Suyanto.

Momen yang paling menyita perhatian terjadi saat Romo Fadjar tiba di pondok pesantren. Pastor yang mengenakan jubah putih itu langsung memeluk dan menggendong KH Suyuti Toha sebagai bentuk keakraban.

Tradisi tersebut telah berlangsung sejak keduanya menjalin persahabatan sekitar 25 tahun lalu.

Romo Fadjar mengaku memiliki banyak kenangan dengan Ponpes Mansyaul Huda. Saat masih bertugas di Banyuwangi, ia kerap berdiskusi hingga larut malam bersama KH Suyuti mengenai kebangsaan, budaya, dan spiritualitas.

“Saya tidak lupa dengan pondok yang lama. Dulu maupun sekarang, Pak Yai selalu menerima tamu dengan sederhana. Semua duduk bersila tanpa membedakan status sosial,” kata Romo Fadjar.

Sementara itu, Sandi Suwardi Hasan yang turut hadir menyebut kedekatan kedua tokoh agama tersebut menjadi teladan nyata bagi upaya memperkuat persatuan di tengah keberagaman.

“Saya melihat Mbah Yai dan Romo Fadjar memiliki semangat yang sama tentang persaudaraan sejati, bangsa, dan negara,” ujarnya.

Kebersamaan keduanya berlanjut hingga santap malam bersama di ruang makan keluarga pondok pesantren. Bagi Romo Fadjar, ajakan makan bersama di area dapur memiliki makna khusus karena mencerminkan kedekatan dan penerimaan yang mendalam.

“Kalau seseorang sudah mengajak makan di ruang makan dekat dapur, itu berarti hubungan yang terjalin lebih dari sekadar saudara. Dapur dan meja makan adalah kunci yang menggambarkan kedalaman relasi antarmanusia,” katanya.

Menurut Romo Fadjar, pengalaman kebersamaan seperti itu menjadi bukti bahwa moderasi beragama tidak hanya dibangun melalui dialog, tetapi juga melalui hubungan kemanusiaan yang tulus.

Pertemuan yang berlangsung hangat hingga malam hari itu ditutup dengan perbincangan santai di halaman masjid pondok pesantren sebelum kedua tokoh kembali berpelukan dan berpamitan.

Kehangatan yang terjalin di antara keduanya menjadi gambaran nyata bahwa moderasi beragama dapat tumbuh melalui persahabatan, saling menghormati, dan kebersamaan yang terbangun dari waktu ke waktu (*/bams)