Portal DIY

Saat Yohanes Salib dan Rumi bicara Cinta: Transformasi Dunia Harus Dimulai dari Diri

Portal Indonesia
×

Saat Yohanes Salib dan Rumi bicara Cinta: Transformasi Dunia Harus Dimulai dari Diri

Sebarkan artikel ini
Para pembicara dari ki-ka: Pater Remigius Todang OCD, Afifah Ahmad, Muh. Nur Jabir (Portal Indonesia /Bambang S)

YOGYAKARTA — Dialog interspiritualitas Yohanes Salib dan Jalaluddin Rumi mengangkat tema cinta, kehilangan, dan transformasi diri dalam kegiatan yang berlangsung di Biara Karmel Santa Theresia Lisieux, Jalan Kaliurang, Yogyakarta, Sabtu (25/9/2026) sore.

Acara menampilkan pembicara Pater Remigius Todang OCD, founder NgajiRumi.com Afifah Ahmad, dan Direktur Rumi Institut Muh. Nur Jabir. Kegiatan yang dimoderatori Lisa Kurnia Sari itu dibuka dengan tarian Sema.

Pater Remigius mengatakan, ajaran
Yohanes Salib menempatkan cinta sebagai kekuatan yang menggerakkan manusia menuju transformasi diri. Untuk mencapai persatuan dengan Allah, manusia perlu menjalani proses pengosongan dan pemurnian diri.

Menurutnya, jiwa manusia dapat dianalogikan seperti kaca. Kaca yang bersih mampu memantulkan cahaya matahari dengan sempurna. Sebaliknya, debu yang menempel membuat pantulan cahaya menjadi tidak sempurna.

“Debu-debu itu mesti dihapus, mesti dihilangkan, mesti dibersihkan,” kata Pater Remigius.

Ia menjelaskan, debu tersebut dapat dimaknai sebagai hasrat yang tidak teratur, kelekatan, ego, maupun berbagai hal yang membuat manusia kehilangan fokus pada sesuatu yang esensial.

Ketika manusia terlalu melekat pada identitas dan berbagai label, kata dia, seseorang dapat melupakan hakikat kemanusiaan yang lebih mendasar.

“Ketika ada label-label, kita memperjuangkan label itu, kita melupakan yang esensi,” ujarnya.

Pater Remigius menekankan transformasi dunia harus dimulai dari perubahan dalam diri manusia. Perubahan tidak cukup hanya dilakukan melalui upaya mengubah keadaan di luar diri.

Ia mengibaratkan perubahan tersebut melalui kisah seorang anak yang diminta menyusun kembali potongan gambar dunia. Anak itu justru menyusun gambar wajah manusia yang berada di balik potongan tersebut.

Ketika wajah manusia tersusun dengan benar, gambar dunia di sisi lainnya juga ikut tersusun. “Ketika kita mengubah diri, ketika kita transformasi, maka dunia pasti berubah,” katanya.

Baca Juga:
Daop 6 Yogyakarta Kecam Dua Aksi Terobos Perlintasan

Menurut Pater Remigius, manusia yang mengalami transformasi akan membawa nilai-nilai kebajikan dan cinta kasih dalam kehidupan bersama. Perubahan dari dalam diri itu kemudian dapat menciptakan perubahan yang lebih luas di masyarakat.

Sementara itu, Afifah Ahmad mengatakan gagasan pengosongan diri juga dikenal dalam tradisi tasawuf. Pengosongan bukan berarti ketiadaan tanpa makna, melainkan membuka ruang agar kehadiran Tuhan dapat dirasakan dalam kehidupan.

Acara dimeriahkan dengan tarian Sema (Portal Indonesia/Bambang S)

Ia juga menilai pemikiran Jalaluddin Rumi memiliki ruang penting untuk membangun dialog lintas tradisi dan komunitas.

Menurut Afifah, Rumi tidak hanya berbicara tentang persoalan spiritual, tetapi juga menyinggung kezaliman dan pentingnya keadilan.

Karena itu, refleksi spiritual tidak cukup berhenti pada perubahan pribadi. Kesadaran tersebut juga perlu diwujudkan dalam keberpihakan terhadap nilai-nilai keadilan.

Afifah mengatakan perubahan dapat dimulai dari tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya menghargai pejalan kaki, tertib mengantre, dan membangun kepedulian terhadap orang lain. “Apa yang kita buat, bicaranya lebih kuat daripada apa yang kita bicarakan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kesadaran individual yang tumbuh dalam banyak orang pada akhirnya dapat membentuk kesadaran kolektif di masyarakat.

Direktur Rumi Institut Muh. Nur Jabir mengatakan dialog tersebut merupakan upaya untuk memperluas kesadaran manusia terhadap keberagaman tradisi spiritual.

Ia mengakui membuka diri terhadap tradisi yang berbeda bukan perkara mudah. Namun, perjumpaan seperti dialog Yohanes Salib dan Rumi menjadi ruang untuk menemukan persamaan di tengah perbedaan.

“Ini adalah usaha kami untuk membagikan kepada orang tentang satu Tuhan kita, meskipun penafsiran kita berbeda,” kata Nur Jabir.

Menurutnya, manusia memiliki tanggung jawab untuk terus membangun kesadaran dan persaudaraan. Perbedaan tradisi tidak seharusnya menjadi penghalang untuk menemukan titik temu kemanusiaan.

Baca Juga:
Stasiun "Tugu' Yogyakarta Semarak, Penumpang Ikuti Peringatan Detik-detik Proklamasi

Dialog tersebut menjadi ruang perjumpaan antara tradisi mistik Kristen melalui Yohanes Salib dan tradisi tasawuf Islam melalui Jalaluddin Rumi. Keduanya dipertemukan melalui tema cinta sebagai jalan menuju pemurnian, kesadaran, dan transformasi diri (bams)