Portal Jabar

Strategi KCIC Genjot Penumpang Whoosh Jelang Nataru

Portal Indonesia
×

Strategi KCIC Genjot Penumpang Whoosh Jelang Nataru

Sebarkan artikel ini

 

BANDUNG – PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menargetkan jumlah penumpang Kereta Cepat Whoosh mencapai 23.000 hingga 24.000 orang per hari selama libur Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru). Target tersebut meningkat sekitar 10–15 persen dibandingkan kondisi normal.

Manager Corporate Communication KCIC Emir Monti mengatakan pihaknya mulai mempersiapkan pelbagai fasilitas untuk menghadapi lonjakan penumpang pada akhir Desember mendatang. “Persiapan mencakup sarana kereta, fasilitas stasiun, hingga peningkatan kenyamanan perjalanan,” kata Emir kepada pers dalam kegiatan Media Jogja Goes to Whoosh di Stasiun Bandung, Kamis (5/11/2026).

Ia menyebutkan pada hari kerja normal, penumpang Whoosh berkisar 16.000–18.000 orang per hari. Saat akhir pekan meningkat menjadi 18.000–21.000 orang. “Untuk libur Natal dan Tahun Baru, kami berharap bisa mencapai 23.000 hingga 24.000 penumpang per hari,” harap Emir.

Menurutnya, penumpang Whoosh selama ini didominasi masyarakat yang bepergian untuk bekerja, disusul penumpang yang melakukan perjalanan wisata. Bahkan, pola perjalanan Jakarta-Bandung mulai menyerupai perjalanan komuter. Sebagian penumpang berangkat pagi untuk bekerja dan kembali ke kota asal pada sore hari.

Selama tiga tahun beroperasi, Whoosh  disebutkan telah melayani sekitar 18 juta penumpang. Kehadiran kereta cepat tersebut memangkas waktu perjalanan Jakarta-Bandung dari sekitar tiga jam menjadi kurang lebih 30 menit.

Untuk melayani kebutuhan perjalanan masyarakat, KCIC menyediakan 62 perjalanan setiap hari, terdiri atas 31 perjalanan dari Jakarta dan 31 perjalanan dari Bandung. Setiap rangkaian memiliki kapasitas 601 tempat duduk, sehingga total kapasitas angkut mencapai sekitar 36.000 tempat duduk per hari.

KCIC juga menjalin kerja sama dengan lebih dari 40 destinasi wisata di Jakarta dan Bandung. Melalui kerja sama tersebut, penumpang Whoosh dapat menikmati berbagai penawaran khusus, seperti potongan harga hotel, restoran, dan tiket masuk destinasi wisata, bahkan sejumlah tempat memberikan tiket masuk gratis.

Baca Juga:
Evakuasi Tabrakan KA di Bekasi, Perjalanan KA Daop 6 Yogyakarta Dibatalkan

Emir menjelaskan, upaya meningkatkan jumlah penumpang juga dilakukan melalui penguatan integrasi antarmoda dan program kartu langganan. Program kartu langganan menawarkan pembelian 10 kali perjalanan dengan potongan harga hingga 40 persen sehingga tarif perjalanan menjadi lebih hemat.

Saat ini, Whoosh memiliki tiga kelas layanan, yakni Premium Economy, Business, dan First Class. Tarif Premium Economy berkisar Rp275.000–Rp350.000, Business Rp450.000, dan First Class Rp600.000.

Terkait kemungkinan perpanjangan jalur kereta cepat hingga Yogyakarta maupun wilayah lainnya, Emir mengatakan KCIC masih menunggu kajian dan penugasan dari pemerintah. Saat ini, fokus perusahaan masih pada pengoperasian rute Jakarta-Bandung dan peningkatan volume penumpang.

“Jika nantinya ada penugasan pemerintah untuk mengoperasikan rute lainnya, tentu kami siap. Namun, untuk saat ini kajiannya masih berada di tingkat pemerintah,” ujarnya.

Sementara itu, Manager Humas KAI Daop 6 Yogyakarta Feni Novida Saragih mengatakan, pengenalan layanan Whoosh kepada media di Yogyakarta juga menjadi kesempatan untuk melihat langsung konektivitas antarmoda yang telah dikembangkan di wilayah Jakarta.

Dalam perjalanan tersebut, rombongan media dari Yogyakarta diajak menggunakan LRT dari kawasan Dukuh Atas menuju Stasiun Halim, kemudian melanjutkan perjalanan dengan Whoosh. Konektivitas tersebut memungkinkan perpindahan antarmoda secara lebih praktis melalui fasilitas penghubung antarlayanan.

Feni mengatakan, pengalaman tersebut memberikan gambaran mengenai pengembangan transportasi terintegrasi. Di Yogyakarta sendiri, Stasiun Yogyakarta telah menjadi salah satu simpul transportasi karena melayani berbagai moda, mulai dari kereta api jarak jauh, KRL, kereta api lokal, hingga kereta bandara.

Melalui pengenalan tersebut, KAI Daop 6 berharap masyarakat dan media dapat melihat perkembangan layanan perkeretaapian, termasuk pentingnya integrasi antarmoda dalam mendukung mobilitas penumpang (bams)