SITUBONDO — Dampak banjir yang melanda wilayah Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo, meninggalkan kerusakan serius pada permukiman warga di sepanjang bantaran Sungai Lubawang. Sejumlah rumah dilaporkan mengalami keretakan hingga ambrol akibat tanah yang tergerus derasnya arus air.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Kamis (02/04/2026), kondisi bangunan tampak memprihatinkan. Beberapa rumah mengalami kerusakan struktural, mulai dari dinding retak hingga pondasi yang runtuh, sehingga membahayakan keselamatan penghuni.
Salah satu warga terdampak, Musthofa, mengaku kebingungan menghadapi situasi ini. Ia menunjukkan bagian rumahnya yang rusak parah, di mana pondasi bangunan telah hilang terbawa arus, menyisakan retakan besar pada dinding.
“Kami tidak tahu harus mengadu ke mana. Sampai sekarang belum ada bantuan yang kami terima. Kerugian kami besar, bisa mencapai ratusan juta rupiah, termasuk usaha rongsokan saya yang ikut terdampak,” ujarnya dengan nada sedih.
Ia juga mengaku mengalami trauma setiap kali hujan turun. Kekhawatiran akan naiknya debit air sungai membuatnya cemas, karena kondisi tanah di sekitar rumahnya masih labil dan rawan longsor.
Keluhan serupa disampaikan Sugiartik, warga lainnya yang turut terdampak. Ia menilai perhatian pemerintah terhadap kondisi warga masih belum maksimal.
“Kami juga korban bencana, tapi bantuan yang kami terima hanya sekadar nasi bungkus. Padahal rumah kami rusak dan butuh penanganan serius,” ungkapnya.
Untuk sementara, warga hanya mampu melakukan penanganan darurat secara swadaya dengan menumpuk karung berisi material seadanya sebagai penahan tebing. Namun, upaya ini dinilai tidak cukup kuat untuk menahan arus sungai jika banjir kembali terjadi.
Warga pun berharap Pemerintah Kabupaten Situbondo segera mengambil langkah konkret, seperti normalisasi sungai serta pemasangan bronjong atau penahan tebing guna mencegah longsor susulan.
“Kami berharap ada tindakan nyata. Jangan sampai harus ada korban jiwa dulu baru dilakukan perbaikan,” tegas salah seorang warga.

Kondisi tanah yang masih labil pascabanjir membuat kawasan tersebut kini tergolong rawan. Meski demikian, keterbatasan ekonomi memaksa warga tetap bertahan di rumah mereka yang rusak, karena tidak memiliki alternatif tempat tinggal.
Sementara itu, Camat Banyuglugur, Arif Birawa, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat menyampaikan bahwa pihak kecamatan telah mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah kabupaten.
“Kami sudah mengusulkan agar warga terdampak mendapatkan bantuan. Namun, untuk penanganan sungai seperti normalisasi, itu merupakan kewenangan pemerintah kabupaten. Kecamatan hanya bisa mengusulkan,” jelasnya.
Hingga kini, warga bantaran Sungai Lubawang masih menanti langkah cepat dari pemerintah daerah. Tanpa penanganan permanen, ancaman longsor dan banjir susulan terus menghantui permukiman tersebut.











