Portal Jatim

Kasus HIV di Sidoarjo Lampaui 6.000 Orang, PKBI Jatim dan Puskesmas Waru Gelar Mobile VCT di YPP Al Kholiqi

Redaksi
×

Kasus HIV di Sidoarjo Lampaui 6.000 Orang, PKBI Jatim dan Puskesmas Waru Gelar Mobile VCT di YPP Al Kholiqi

Sebarkan artikel ini

SIDOARJO – Tingginya angka kasus HIV di Kabupaten Sidoarjo menjadi perhatian serius berbagai pihak. Berdasarkan data yang dihimpun Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Timur, jumlah kasus HIV reaktif di wilayah tersebut telah melampaui 6.000 orang.

Sebagai bagian dari upaya pencegahan dan deteksi dini, PKBI Jawa Timur bersama Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Waru menggelar kegiatan Mobile Voluntary Counseling and Testing (VCT) di YPP Al Kholiqi Rehabilitasi Sosial Pecandu Narkoba, Jalan Brigjen Katamso, Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jumat (29/5/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Project Global Fund (GF) New Funding Model yang dijalankan PKBI Jawa Timur dalam mendukung program penanggulangan HIV/AIDS. Layanan yang diberikan meliputi tes HIV, konseling, serta edukasi mengenai pencegahan penularan penyakit tersebut.

Direktur YPP Al Kholiqi Rehabilitasi Sosial Pecandu Narkoba, Sayyid Abdullah, menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pemeriksaan kesehatan secara berkala sangat penting bagi para pasien untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka sejak dini.

“Alhamdulillah, tenaga medis hadir memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien kami. Pemeriksaan seperti ini sangat membantu karena berbagai penyakit sering kali tidak terdeteksi pada tahap awal,” ujarnya.

Perwakilan PKBI Jawa Timur, Siswanto, menjelaskan bahwa Mobile VCT merupakan bentuk kolaborasi antara PKBI, Dinas Kesehatan, Puskesmas Waru, dan YPP Al Kholiqi dalam memperluas akses layanan deteksi HIV bagi kelompok yang memiliki faktor risiko lebih tinggi.

Menurutnya, HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual berisiko maupun paparan darah yang terinfeksi. Karena itu, kelompok pengguna narkoba suntik atau People Who Inject Drugs (PWID) menjadi salah satu sasaran utama program pencegahan.

“HIV dan penyalahgunaan narkoba memiliki keterkaitan yang cukup erat, terutama pada pengguna narkoba suntik yang pernah menjadi salah satu penyumbang terbesar kasus HIV di Indonesia,” kata Siswanto.

Baca Juga:
Divisi Hukum YPP Al Kholiqi Tegaskan Tak Ada Aliran Dana dalam Kasus Rehabilitasi Tiga Pengguna Pil Double L

Selain layanan pemeriksaan, PKBI Jawa Timur juga terus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai pendekatan, baik secara langsung maupun melalui media digital. Edukasi tersebut mencakup pemahaman mengenai cara penularan, pencegahan, serta pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Ia menjelaskan bahwa program yang dijalankan saat ini berfokus pada tiga populasi kunci, yakni pengguna napza suntik (penasun), lelaki seks dengan lelaki (LSL), dan transgender (TG). Ketiga kelompok tersebut menjadi prioritas karena memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi terhadap penularan HIV.

Siswanto mengungkapkan bahwa Kabupaten Sidoarjo saat ini termasuk daerah dengan jumlah kasus HIV tertinggi di Jawa Timur. Karena itu, berbagai pihak terus mendorong masyarakat untuk melakukan tes HIV secara sukarela agar status kesehatannya dapat diketahui lebih awal.

“Deteksi dini sangat penting. Dengan mengetahui status kesehatan lebih cepat, pengobatan dapat segera dilakukan sehingga risiko komplikasi dapat ditekan,” ujarnya.

Ia menambahkan, HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sedangkan AIDS adalah kondisi lanjut yang muncul ketika infeksi HIV tidak mendapatkan pengobatan yang memadai. Jika tidak ditangani, penderita berisiko mengalami berbagai infeksi oportunistik, termasuk tuberkulosis (TB).

“Yang sering menyebabkan kematian bukan HIV itu sendiri, melainkan penyakit penyerta akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh. Karena itu pengobatan dan pendampingan harus dilakukan sedini mungkin,” jelasnya.

Menurut Siswanto, penderita HIV yang rutin menjalani terapi antiretroviral (ARV), menjaga pola hidup sehat, dan melakukan kontrol kesehatan secara berkala tetap dapat hidup sehat dan produktif.

“HIV bukan akhir dari kehidupan. Dengan kepatuhan menjalani terapi ARV dan pola hidup sehat, kualitas hidup penderita dapat tetap terjaga,” tegasnya.

Sementara itu, Pimpinan YPP Al Kholiqi, H. Abdul Kholiq, mengapresiasi sinergi yang terjalin antara PKBI Jawa Timur, Puskesmas Waru, dan Dinas Kesehatan dalam memberikan layanan kesehatan kepada para pasien rehabilitasi.

Baca Juga:
Buka Bersama YPP Al Kholiqi: Tekankan Rehabilitasi Narkoba Berbasis Kesadaran dan Peran Keluarga

“Inilah bentuk kolaborasi yang baik antara lembaga sosial, organisasi masyarakat, dan pemerintah. Jika ada pasien yang terdeteksi HIV, proses rujukan dan pengobatan dapat dilakukan lebih cepat melalui fasilitas kesehatan yang tersedia,” katanya.

Ia berharap kerja sama yang telah terjalin dapat terus diperkuat guna meningkatkan kualitas layanan kesehatan sekaligus mendukung upaya penanggulangan HIV/AIDS secara berkelanjutan di Kabupaten Sidoarjo.