SIDOARJO – Upaya memperkuat deteksi dini HIV di Kabupaten Sidoarjo terus dilakukan melalui kerja sama berbagai pihak. Puskesmas Tulangan bersama Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Timur menggelar skrining HIV bagi 28 anak binaan Yayasan Pondok Pesantren (YPP) Al Kholiqi Rehabilitasi Sosial Pecandu Narkoba, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan berkala sekaligus edukasi bagi para anak binaan yang sedang menjalani proses rehabilitasi.
Tidak hanya menjalani pemeriksaan, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai HIV, mulai dari cara penularan, langkah pencegahan, pentingnya mengetahui status kesehatan sejak dini, hingga akses layanan kesehatan apabila ditemukan indikasi HIV.
Perwakilan PKBI Jawa Timur, Siswanto, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi berkelanjutan antara PKBI Jawa Timur, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dan YPP Al Kholiqi.
Menurut dia, lembaga rehabilitasi tersebut menjadi salah satu sasaran pemeriksaan dan edukasi HIV. Sebelumnya, kegiatan serupa juga telah dilaksanakan di wilayah Waru sebelum berlanjut ke Kecamatan Tulangan.
“Ini merupakan kegiatan rutin di YPP Al Kholiqi. Dari hasil asesmen, sudah memenuhi syarat untuk dilakukan tes VCT, termasuk pemeriksaan HIV dan sifilis,” ujar Siswanto.
Ia menilai pemeriksaan berkala penting dilakukan karena HIV membutuhkan penanganan yang berkesinambungan. Melalui deteksi dini, seseorang yang memperoleh hasil reaktif dapat segera menjalani pemeriksaan lanjutan dan mendapatkan penanganan medis sesuai kebutuhan.
“Mengetahui status sejak dini itu lebih baik. Jika ditemukan hasil reaktif, kami akan merujuk ke layanan kesehatan untuk pemeriksaan dan pengobatan lanjutan dengan ARV,” katanya.
Siswanto menjelaskan, terapi antiretroviral atau ARV berfungsi menekan jumlah virus HIV dalam tubuh sehingga kondisi sistem kekebalan dapat tetap terjaga. Penanganan yang tepat juga berperan dalam menekan perkembangan penyakit serta risiko penularan.
Selain melakukan pemeriksaan, PKBI Jawa Timur juga memberikan edukasi dan pendampingan kepada kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap penularan HIV.
Sekitar 30 petugas lapangan PKBI Jawa Timur turut terlibat dalam penyampaian informasi mengenai HIV, pencegahan, pemeriksaan, hingga akses terhadap layanan kesehatan.
“Untuk populasi berisiko tinggi, baik yang memiliki risiko dari hubungan seksual maupun penggunaan jarum suntik, edukasi sangat penting. Petugas lapangan kami terus memberikan informasi dan pendampingan,” jelas Siswanto.
Menurutnya, pendampingan tersebut juga mencakup dukungan terhadap berbagai kebutuhan pencegahan bagi kelompok sasaran yang membutuhkan.
Dalam pelaksanaan skrining tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo telah menyiapkan format skrining khusus bagi lembaga rehabilitasi. Format itu diharapkan dapat membantu pelaksanaan pemeriksaan secara berkala agar lebih efektif dan terarah.
Sementara itu, Pimpinan YPP Al Kholiqi, H. Abdul Kholiq atau Gus Kholiq, menyampaikan apresiasi kepada PKBI Jawa Timur dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo atas dukungan yang diberikan.
Menurut Gus Kholiq, pemeriksaan kesehatan menjadi bagian penting dalam proses pembinaan anak-anak yang menjalani rehabilitasi.
Persoalan yang dihadapi para anak binaan, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan penyalahgunaan narkoba, tetapi juga berpotensi berhubungan dengan berbagai persoalan kesehatan lainnya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada PKBI Jawa Timur. Dengan adanya pemeriksaan kesehatan ini sangat membantu kami. Karena anak-anak yang mengalami persoalan narkoba tidak hanya menghadapi masalah narkoba, tetapi juga berpotensi memiliki persoalan kesehatan lainnya,” ujar Gus Kholiq.
Ia berharap pemeriksaan dan edukasi kesehatan dapat terus dilakukan secara berkelanjutan. Dengan pemantauan rutin, kondisi kesehatan anak binaan diharapkan dapat diketahui sejak dini sekaligus mendukung proses rehabilitasi secara lebih menyeluruh.
“Kolaborasi antara pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, organisasi masyarakat, dan lembaga rehabilitasi menjadi langkah penting untuk memperluas akses pemeriksaan, edukasi, serta pendampingan HIV, khususnya bagi kelompok yang membutuhkan perhatian dan layanan kesehatan berkelanjutan,” pungkasnya.











