Portal Jatim

Sarasehan Sejarah Pasuruan Mengulik Cerita Rakyat, Menjaga Identitas Lokal di Tengah Arus Modernisasi

Redaksi
×

Sarasehan Sejarah Pasuruan Mengulik Cerita Rakyat, Menjaga Identitas Lokal di Tengah Arus Modernisasi

Sebarkan artikel ini

PASURUAN – Cerita rakyat tidak seharusnya hanya dipandang sebagai dongeng yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di balik berbagai kisah yang berkembang di masyarakat, terdapat nilai, ingatan kolektif, hingga identitas lokal yang dapat menjadi pintu masuk untuk memahami perjalanan sejarah.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Sarasehan Sejarah bertajuk “Menyikapi Cerita Rakyat dalam Arus Sejarah” yang digelar Pemerintah Kota Pasuruan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama sejumlah elemen masyarakat di Taman Harmonie, Kota Pasuruan, Rabu (26/8/2026) malam.

Kegiatan tersebut dihadiri Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo, Pj Sekretaris Daerah Lucky Danardono, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Siti Rochana, akademisi, komunitas budaya dan sejarah, serta berbagai unsur masyarakat.

Sarasehan menghadirkan Sulikin sebagai pembicara dengan M. Imad Hamdy sebagai moderator.

Berbagai sisi perjalanan Kota Pasuruan turut dikupas dalam forum tersebut. Mulai dari sejarah berdirinya kota, perkembangannya sebagai pusat perdagangan dan perekonomian, hingga kisah tentang Pasuruan yang dikenal sebagai daerah yang diberkahi berkat peran para pejuang dan ulama besar pada masa lalu.

Cerita Rakyat Bukan Sekadar Dongeng

Moderator M. Imad Hamdy menilai cerita rakyat tidak bisa serta-merta dipisahkan dari perjalanan sejarah masyarakat. Menurutnya, cerita rakyat dapat menjadi rekaman nilai, identitas, serta cara masyarakat memandang realitas pada zamannya.

Namun, ia mengingatkan bahwa setiap cerita juga dapat mengandung sudut pandang dan kepentingan tertentu.

Imad mencontohkan kisah mengenai Untung Suropati. Ia menyebut adanya perbedaan narasi mengenai tokoh tersebut yang muncul dalam karya sastra.

“Kita juga harus melihat cerita rakyat itu selalu dan pasti punya tendensi tertentu, contoh adalah Untung Suropati itu sendiri. Pahlawan pertama Indonesia yang disahkan sama Presiden Soekarno, dan meninggal pada tahun 1959 namanya Abdul Muiz. Dia menulis novel terbitan Balai Pustaka dengan judul Robert Anak Surapati,” ujar Imad.

Menurutnya, novel tersebut ditulis sebagai bentuk perlawanan terhadap narasi yang berkembang dalam sastra Belanda mengenai Untung Suropati.

Baca Juga:
GM-FKPPI Desak Bonus Atlet Porprov Jatim 2025 Segera Dibayarkan, Kantor Wali Kota Pasuruan Didatangi Massa

Salah satu karya yang disebut Imad adalah novel berjudul Melati van Java, yang memuat kisah bahwa Untung Suropati pernah memeluk agama Kristen.

Dari perbedaan narasi tersebut, Imad menilai masyarakat perlu memperluas wawasan sejarah, budaya, dan cerita rakyat. Informasi yang berkembang, kata dia, harus dikaji melalui metode, verifikasi, serta pengujian validitas.

“Jadi di sini cerita rakyat dilawan cerita rakyat, dan ada arena tempurnya yaitu dalam bentuk novel. Jadi sekali lagi, selalu akan ada wacana dan kontra wacana, itu hal yang biasa. Maka dari itu kita harus memperkaya data, sejarah, dan budaya, dan cerita rakyat, untuk kemudian kita klasifikasi dengan metode, verifikasi dan validitas yang mengikuti berikutnya,” ungkapnya.

Pasuruan Pernah Menjadi Pusat Perdagangan

Sarasehan tersebut juga mengulas perkembangan Pasuruan sebagai salah satu daerah penting dalam aktivitas perdagangan dan perekonomian pada masa lampau.

Kemajuan Pasuruan ketika itu disebut turut didukung keberadaan berbagai infrastruktur, mulai dari pelabuhan internasional, jalur kereta api, hingga Jalan Raya Pos.

Salah satu komoditas yang pernah menjadi kekuatan ekonomi adalah gula.

“Bahkan untuk komoditas gula terutama di abad 19 pernah menduduki nomor satu di dunia, sebelum akhirnya dikalahkan oleh negara Kuba di awal abad 20-an,” tuturnya.

Wali Kota Ajak Masyarakat Tidak Terpecah

Sementara itu, Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo menilai cerita rakyat dan catatan sejarah resmi dapat saling melengkapi dalam memahami dinamika perjalanan peradaban.

Menurutnya, tidak semua peristiwa masa lalu tercatat secara lengkap dalam arsip, khususnya arsip yang berasal dari penguasa maupun pemerintahan pada zamannya.

Adi juga menanggapi munculnya berbagai perbedaan pandangan terhadap cerita rakyat dan sejarah. Ia mengajak masyarakat agar tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagai alasan untuk saling terpecah.

“Maka penting bagi kita bersama untuk mengkaji pengetahuan yang lebih luas, sehingga dalam hal ini kami dari pemerintah memahami bahwa perbedaan ini menjadi kekayaan yang harus kita hormati. Untuk itu perlu adanya sinergi antara pemerintah dengan masyarakat, dan jangan sampai kita terpecah belah baik secara budaya, sosial, agama, karena itu bagian dari warisan penjajah,” pesan Adi.

Sarasehan tersebut kemudian menyimpulkan bahwa cerita rakyat tidak harus disingkirkan hanya karena tidak seluruhnya memiliki bukti tertulis atau manuskrip sejarah.

Baca Juga:
GM-FKPPI Desak Bonus Atlet Porprov Jatim 2025 Segera Dibayarkan, Kantor Wali Kota Pasuruan Didatangi Massa

Cerita yang berkembang secara turun-temurun dapat menjadi jejak ingatan masyarakat sekaligus pintu masuk untuk menelusuri fakta sejarah secara lebih mendalam.

Di tengah modernisasi dan globalisasi, cerita rakyat juga dinilai memiliki peran penting sebagai bahan refleksi kritis agar identitas dan kekayaan lokal tetap terjaga. (Eko)