KesehatanPortal DIY

Dinkes Sleman Himbau Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan Leptospirosis

Portal Indonesia
×

Dinkes Sleman Himbau Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan Leptospirosis

Sebarkan artikel ini
Kabid P2PL Dinkes Sleman, dr. Khamidah Yuliati (Portal Indonesia/Subardi)

SLEMAN- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyebaran penyakit leptospirosis terutama di tengah masa peralihan musim.

Menurut Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Sleman Khamidah Yuliati, berdasarkan data terbaru, tahun 2026 ini kasus leptospirosis di Sleman telah mencapai 112 kasus, dua orang diantaranya meninggal dunia. Sementara dua kasus kematian lainnya tercatat pada pasien berstatus suspek.

“Tren kasus leptospirosis dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Persebaran wilayahnya pun kini semakin meluas dan tidak hanya terpusat di kawasan barat, melainkan telah bergeser ke wilayah tengah dan timur, bahkan di luar kawasan persawahan. Untuk itu, masyarakat harus menjaga kebersihan,” kata Khamidah Yuliati, Kamis (6/11/2026).

Ia mengatakan penyakit ini tidak selalu meningkat semata-mata karena faktor musim, melainkan sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan lingkungan.

Penularan dan gejala khas leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira yang disebarkan melalui air kencing hewan penular seperti tikus.

Bakteri ini dapat bertahan cukup lama di lingkungan yang lembap, tergenang air, atau kurang pencahayaan, seperti selokan, genangan air di sawah, atau area permukiman.

Bakteri tersebut dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka sekecil apa pun di kulit, bahkan luka akibat garukan maupun gigitan nyamuk yang tidak terasa maupun melalui selaput lendir (mukosa) seperti mulut dan mata. Untuk itu, masyarakat sangat perlu
mengenali gejala spesifik leptospirosis.Diantaranya, demam dan nyeri otot seperti gejala flu biasa.

“Tanda khas yang harus diwaspadai adalah rasa nyeri yang intens pada bagian betis tanpa riwayat aktivitas fisik yang berat atau kelelahan,” kata Khamidah.

Baca Juga:
Pemkab Sleman Gelar Temu Kemitraan Para Pelaku Usaha Besar dan UMKM

Oleh karena itu, warga yang mengalami gejala tersebut perlu segera konsultasi dokter atau ke puskesmas terdekat.

Seluruh Puskesmas di Sleman telah menyediakan layanan pemeriksaan awal menggunakan leptotest (RDT) guna mendeteksi keberadaan infeksi secara cepat.

Sebagai langkah antisipasi, sambungnya, Dinas Kesehatan Sleman menekankan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pembiasaan cuci tangan menggunakan sabun di air mengalir, serta penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan penutup luka kedap air saat beraktivitas bersih-bersih lingkungan atau genangan air.

Selain itu, masyarakat diimbau untuk melakukan gerakan bersama seperti TTM (Tangkap Tikus Mandiri) dan OTT (Operasi Tangkap Tikus) secara serentak menggunakan metode trapping (perangkap), bukan dengan cara dikejar atau digeropyok agar air kencing tikus tidak mencemari lingkungan sekitar.

Dinas Kesehatan juga mengingatkan tata cara pembuangan bangkai tikus yang benar demi keamanan bersama, yakni tikus dapat dimasukkan ke dalam air yang kemudian dibuang di area terkena sinar matahari, atau dijemur hingga mengalami dehidrasi dan mati.

Kemudian bangkai tikus harus dikubur di dalam tanah agar tidak menjadi sumber penularan penyakit baru. (Brd)